Bekasi/Tribuneindonesia.com
Tidak ada satu pun bangsa di dunia ini yang dapat melangkah maju, beradab, dan mencapai kejayaan jika tidak meletakkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada golongan guru. Guru adalah pahlawan sesungguhnya yang bekerja tanpa lelah untuk membangun pondasi akal budi, karakter, dan masa depan sebuah negeri. Mereka adalah tangan yang menempa generasi penerus agar kelak sanggup membawa bangsanya ke puncak kemuliaan.
Kamis,6 Agustus 2026
Satu kebenaran yang tak terbantahkan: tidak akan pernah ada kemajuan yang nyata bagi sebuah bangsa jika para pengajarnya tidak hidup sejahtera, tidak dihormati, dan terabaikan nasibnya. Sungguh ironis sekali melihat bangsa ini hanya bermimpi ingin melahirkan generasi emas, namun di saat yang sama mereka yang menjadi penentu lahirnya generasi itu justru dibiarkan hidup dalam kesulitan. Mimpi itu pada akhirnya hanyalah angan-angan kosong yang takkan pernah terwujud.
Lihatlah Jepang sebagai bukti nyata yang paling patut kita teladani. Di sana, kedudukan guru sangatlah tinggi dan gaji yang diterimanya pun luar biasa besar, setara bahkan melebihi pejabat tinggi negara. Dan ada satu kisah bersejarah yang sangat dalam maknanya: Ketika bom atom menghancurkan Hiroshima, pemerintah Jepang yang pertama kali bertanya bukan berapa banyak bangunan yang hancur atau berapa banyak tentara yang gugur, melainkan: “Di mana para guru? Berapa orang guru yang tersisa?”. Ketika dilaporkan masih ada dua orang guru yang selamat, pemerintah bersyukur luar biasa dan berkata: “Cukup. Selama masih ada guru, bangsa Jepang pasti akan bangkit kembali”. Bagi mereka, gurulah garda terdepan sesungguhnya, gurulah pahlawan, dan gurulah senjata paling ampuh untuk membangun kembali peradaban bangsa itu dari reruntuhan.
Begitu juga halnya dengan Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Mereka tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk memiliki generasi emas, tetapi mereka sudah sangat maju hari ini juga. Mengapa? Karena sungguh-sungguh mendukung, memuliakan, dan memberikan gaji yang luar biasa tinggi bagi para gurunya. Mereka paham benar satu hal besar ini: Peradaban sebuah bangsa tidak dibangun oleh kekuatan tentara, tidak juga semata oleh kebijakan pemerintahan, melainkan peradaban itu sesungguhnya berada di tangan para guru. Dialah yang memegang kunci emas kemajuan itu.
Berbeda sekali dengan apa yang kerap terjadi di negeri kita. Pemerintah seolah sibuk berganti-ganti kurikulum, menumpuk tuntutan dan beban kerja yang berat, namun lupa atau sengaja menutup mata terhadap hal yang paling mendasar: gaji dan penghasilan guru haruslah ditetapkan tinggi dan benar-benar menyejahterakan. Janganlah hanya membebani kewajiban namun mengabaikan haknya. Bagaimana mungkin seorang guru bisa mendidik dengan tenang dan sepenuh hati jika pikirannya terus terganggu oleh kesulitan hidup?
Sudah saatnya kita sadar kembali. Janganlah kita terus meminta hasil yang gemilang namun mengabaikan sarana yang paling utama. Jika kita benar-benar menginginkan masa depan yang cerah, mulailah dari sini: sejahterakanlah guru, berikan penghasilan yang pantas dan tinggi, serta hormatilah mereka selayaknya pembangun peradaban.



















