Langgar UU Bangunan dan Pangan, Dapur MBG di Pandeglang Diduga Bermasalah

- Editor

Selasa, 13 Januari 2026 - 01:12

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PANDEGLANG, BANTEN|TribuneIndonesia.com 

Banyaknya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tercatat dalam data Badan Gizi Nasional (BGN) di Kabupaten Pandeglang kini menjadi sorotan tajam. Dari hasil penelusuran di lapangan, hanya sebagian kecil dapur MBG yang memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sesuai peruntukannya, sementara sebagian besar lainnya diduga beroperasi tanpa izin sah bahkan memanipulasi perizinan.

Padahal, program MBG merupakan program strategis nasional yang dijalankan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa penyelenggaraan program gizi, termasuk penyediaan makanan, wajib memenuhi standar keamanan, kesehatan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketua DPC Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) Kabupaten Pandeglang, Raeynold Kurniawan, menegaskan bahwa dapur MBG bukan sekadar bangunan biasa, melainkan fasilitas produksi pangan skala besar yang wajib tunduk pada aturan bangunan dan keamanan pangan.

“Segala bentuk bangunan yang menimbulkan aktivitas usaha atau produksi wajib memiliki izin PBG, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang telah disesuaikan melalui UU Cipta Kerja serta PP Nomor 16 Tahun 2021,” tegasnya.

Raeynold menjelaskan, dapur MBG—baik yang dibangun baru maupun hasil alih fungsi rumah atau bangunan lama—tetap wajib menempuh proses PBG sesuai fungsi bangunannya sebagai dapur produksi makanan massal.

“Faktanya, hingga saat ini masih ditemukan banyak dapur MBG di Pandeglang yang belum memiliki PBG sesuai peruntukannya,” ungkapnya.

Ironisnya, meski diduga belum mengantongi izin lengkap, dapur-dapur MBG tersebut sudah lama beroperasi dan mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 2.000 hingga 4.000 orang per dapur setiap hari.

“Programnya sudah berjalan, distribusinya jalan terus, tapi izinnya seolah diabaikan. Tiba-tiba dapur MBG sudah berdiri dan aktif,” katanya.

Baca Juga:  Aiyub Nss Grong-Grong Berbagi Bahan Bakar Gratis untuk Penarik Becak Pasca Banjir Pidie

Lebih lanjut, Raeynold menegaskan bahwa dapur MBG juga wajib mematuhi ketentuan keamanan pangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, PP Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan, serta Permenkes Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga.

“Dapur yang memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari tidak bisa sembarangan. Sanitasi, pengelolaan limbah, ventilasi, air bersih, hingga kewajiban menyediakan APAR itu mutlak. Semua itu menjadi bagian dari syarat teknis dalam PBG,” jelasnya.

Selain aspek bangunan dan sanitasi, lokasi dapur MBG juga wajib sesuai dengan ketentuan tata ruang. Ia menegaskan, dapur MBG tidak boleh berdiri di sempadan sungai maupun sempadan jalan karena melanggar aturan dan berpotensi membahayakan keselamatan.
“Kalau dipaksakan tanpa izin dan di lokasi terlarang, ini bukan hanya pelanggaran administratif, tapi potensi masalah hukum serius ke depan,” ujarnya.

Raeynold menilai, keberadaan ratusan dapur MBG tanpa PBG di Kabupaten Pandeglang merupakan pelanggaran nyata yang berdampak langsung pada hilangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Dalam penerbitan PBG ada retribusi daerah sesuai Peraturan Daerah. Jika ratusan dapur MBG ini patuh, potensi PAD yang masuk bisa mencapai ratusan juta rupiah,” katanya.

Ia menyayangkan sikap para pengelola dapur MBG yang hingga kini dinilai belum patuh terhadap aturan yang berlaku. Menurutnya, ketidakpatuhan ini tidak bisa terus dibiarkan, terlebih program MBG dibiayai dari uang negara.
“Kami mendesak Pemda Pandeglang untuk segera turun tangan melakukan pendataan, penertiban, dan penegakan aturan. Program nasional harus dijalankan secara tertib, taat hukum, dan tidak terlihat kebal aturan,” tegas Raeynold.

Ia berharap para pengelola dapur MBG di Pandeglang segera memenuhi seluruh persyaratan, termasuk menempuh izin PBG, demi keamanan pangan, keselamatan masyarakat, dan kepentingan daerah.”(Tim/red)

Berita Terkait

Manuver Politik di Tengah Krisis: Analisis Reputasi Ruslan Daud dalam Pemulihan Pascabencana Bireuen
Warga Tualang Baro Butuh Pemimpin Transparan demi Percepatan Perubahan Desa
P2BMI Desak Usut Dugaan Rangkap Jabatan Kadus Sena
Ratusan Warga Aceh Tamiang Protes Status TMK, Desak Audit Ulang Data Korban Banjir
Ruas Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung Ditutup Sementara Mulai 9 Februari 2026
Selamat memperingati Hari Pers Nasional 2026
ACEH Polri terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat
Data Dampak Banjir Dipersoalkan, Warga Nilai Pendataan BNPB Tidak Akurat
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 23:21

Pangkormar Hadiri Rapim TNI-Polri 2026, Perkuat Sinergi di Bawah Arahan Presiden

Senin, 9 Februari 2026 - 15:18

Deklarasi Pers Nasional 2026 Tegaskan Penolakan terhadap Kriminalisasi Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 13:14

PTUN Jakarta Tegaskan Gugatan Kubu Murjoko Gugur, Legalitas PSHT di Bawah Kepemimpinan Taufiq Tak Terbantahkan

Senin, 9 Februari 2026 - 10:09

Resmi Menjabat Kasi Datun Bitung, Noldi Sompi Diminta Jaga Marwah Korps Adhyaksa

Senin, 9 Februari 2026 - 08:32

Ketua DPC Demokrat Bireuen : H. T. Ibrahim Kader yang Tumbuh dari Bawah dan Loyal terhadap Partai

Senin, 9 Februari 2026 - 06:55

Jejak Sejarah, Menelusuri Akar Kelahiran Hari Pers Nasional

Senin, 9 Februari 2026 - 02:27

Wagub Aceh Ambil Alih Kendali, Polemik Huntara Bireuen Resmi Diakhiri

Senin, 9 Februari 2026 - 01:58

​Jaga Kondusivitas Wilayah, Tim PANTERA Polsek Matuari Sambangi Markas Manguni Muda

Berita Terbaru