PKB DPC KOTA LANGSA PEDULI
Hadir Untuk Anak Yatim Korban Banjir – Hidup Sebatang Kara, Kita Jaga Bersama
DESA BLANG SENIBONG – KOTA LANGSA
TribuneIndonesia.Com
LANGSA – Tak semua orang yang hidup di tengah perkotaan menikmati kehidupan yang layak. Di balik geliat Kota Langsa, tersimpan kisah pilu Nurbayyah (36), perempuan warga Jalan Safiatuddin, Dusun Sepakat, Gampong Blang Seunibong, yang harus menjalani kehidupan seorang diri setelah kehilangan kedua orang tuanya empat tahun silam.
Sejak ayahnya, Sofyan, dan ibunya, Ainul Mardhiah, meninggal dunia, Nurbayyah harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup tanpa tempat bergantung. Dalam keterbatasan, ia hanya mengandalkan penghasilan dari mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Perjalanan hidupnya menyimpan cerita yang tidak ringan. Nurbayyah pernah menimba ilmu di pesantren, tetapi keterbatasan ekonomi memaksanya menghentikan pendidikan ketika masih duduk di kelas VI. Harapan untuk melanjutkan pendidikan harus terhenti, bukan karena kehilangan keinginan belajar, melainkan karena tidak adanya biaya.
Meski demikian, ia tidak menyerah pada keadaan. Kemampuan mengaji yang dimilikinya menjadi bekal untuk bertahan hidup. Dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak tetangga, ia berusaha menyambung kehidupan dari hari ke hari.
Namun, ujian hidup belum berhenti. Bencana banjir yang melanda Kota Langsa turut memperparah kondisinya. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh dihantam derasnya arus banjir hingga mengalami kerusakan. Tempat yang seharusnya memberikan rasa aman justru menyisakan kondisi yang memprihatinkan.
Kisah tersebut akhirnya sampai kepada jajaran DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Langsa melalui Wakil Sekretaris I, Syafruddin alias Wan Atjeh. Setelah menerima informasi itu, ia langsung menyampaikan kondisi Nurbayyah kepada Ketua DPC PKB Kota Langsa, Chaidir Toweren, SE, C.JE.

Respons cepat pun ditunjukkan. Pada Kamis sore sekitar pukul 16.00 WIB, jajaran DPC PKB Kota Langsa bersama pengurus Perempuan Bangsa turun langsung melakukan survei ke kediaman Nurbayyah untuk melihat kondisi kehidupannya sekaligus memastikan keadaan rumah yang terdampak banjir.
Kunjungan tersebut dipimpin Ketua DPC PKB Kota Langsa, Chaidir Toweren, SE, C.JE, didampingi Dewan Syuro Idris Yusup, Wakil Sekretaris I Syafruddin alias Wan Atjeh, Koordinator DPAC Kota Langsa Surya Indra, serta Ketua Perempuan Bangsa DPC PKB Kota Langsa, Suhaidah M. Yacob.
Turut hadir Sekretaris PKB Asanty, Bendahara Perempuan Bangsa Nuraima, Wakil Sekretaris Perempuan Bangsa Rosmawati, Wakil Ketua DPAC Langsa Lama Cut Nurlela, Wakil Sekretaris II Rosita, dan Yuni.
Dari hasil peninjauan tersebut, DPC PKB Kota Langsa menyatakan kepeduliannya dengan merencanakan bantuan untuk rumah Nurbayyah yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan dapat membantu menghadirkan kembali tempat tinggal yang lebih layak dan aman baginya.
Kisah Nurbayyah seharusnya menjadi perhatian bersama. Pemerintah daerah, lembaga sosial, dunia usaha, serta masyarakat diharapkan tidak menutup mata terhadap warga yang menghadapi kesulitan hidup, terlebih mereka yang kehilangan keluarga dan harus berjuang sendirian menghadapi berbagai cobaan.

Sebab, persoalan kemanusiaan tidak selalu terlihat dari jalan-jalan utama atau pusat keramaian kota. Ada kehidupan yang berlangsung dalam kesunyian, ada warga yang membutuhkan perhatian, dan ada harapan yang menunggu untuk disentuh oleh kepedulian sesama.
Bagi Nurbayyah, rumah bukan sekadar bangunan tempat berteduh. Di tengah kehilangan kedua orang tuanya, rumah itu menjadi satu-satunya tempat untuk melanjutkan kehidupan. Kini, di tengah segala keterbatasan, harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak kembali terbuka melalui kepedulian orang-orang yang bersedia hadir.
Nurbayyah mungkin tidak meminta kehidupan yang mewah. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih layak, tempat berteduh yang aman, dan kepedulian yang membuatnya merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Jangan sampai ada warga yang harus menghadapi beratnya kehidupan tanpa pernah tersentuh perhatian kita bersama.(#)
( Wan Atjeh)













