
RAJA AMPAT- TRIBUNEINDONESIA.COM , Praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau bom ikan kembali menjadi perhatian masyarakat nelayan di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Sekitar pukul 16.00 WIT, masyarakat nelayan Kampung Meosmanggra, Distrik Waigeo Barat Kepulauan, menemukan sebuah bodi atau perahu yang diduga sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom di wilayah perairan Raja Ampat.
Temuan tersebut memicu keprihatinan kalangan nelayan karena praktik pengeboman ikan dapat merusak ekosistem laut, menghancurkan terumbu karang, serta mengancam keberlangsungan sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir.
Menanggapi kejadian tersebut, Yoris Sauyai, selaku Ketua DPD Himpunan Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Raja Ampat, meminta instansi terkait dan aparat penegak hukum agar lebih serius melakukan pengawasan serta penindakan terhadap dugaan praktik pengeboman ikan.
Yoris secara khusus meminta tiga instansi terkait memberikan perhatian serius, yakni:
KKP melalui BLUD UPTD Raja Ampat.
Kepolisian Perairan (Polair) Kabupaten Raja Ampat.
Satker BKKP Raja Ampat.
Menurutnya, pengawasan tidak boleh hanya dilakukan sesekali. Aparat dan instansi teknis harus meningkatkan patroli serta mengambil langkah konkret untuk mencegah praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.
Ia juga meminta agar wilayah Waigeo Barat Kepulauan menjadi perhatian khusus karena masyarakat nelayan selama ini mengeluhkan maraknya dugaan aktivitas pengeboman ikan di kawasan tersebut.
“Kami berharap instansi terkait benar-benar fokus menangani persoalan bom ikan di perairan Raja Ampat, khususnya wilayah Waigeo Barat Kepulauan. Jangan sampai praktik ini terus berlangsung dan merusak laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat nelayan,” demikian inti imbauan Yoris.
HMNI berharap laporan dan temuan masyarakat tersebut dapat segera ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan, patroli pengawasan, serta penegakan hukum apabila ditemukan bukti pelanggaran.
Bagi masyarakat nelayan, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, melainkan sumber penghidupan yang harus dijaga bersama. Karena itu, praktik penangkapan ikan menggunakan bom harus menjadi perhatian serius seluruh pihak demi melindungi kekayaan laut Raja Ampat.










