RAJA AMPAT, TRIBUNEINDONESIA.COM – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ampat kembali mendapat perhatian dari kalangan pelayanan kesehatan di Tanah Papua.
Dalam waktu yang berdekatan, rumah sakit yang berada di Kota Waisai ini menerima kunjungan rombongan dari RSUD Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, untuk melakukan studi tiru terkait pelaksanaan pembangunan rumah sakit serta sistem pelayanan kesehatan di dalamnya.
Kunjungan tersebut berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Informasi ini disampaikan Direktur RSUD Raja Ampat, Meidi Lidia Maspaitella, melalui pesan WhatsApp.
Menurut Meidi, kunjungan rombongan RSUD Oksibil bertujuan melihat secara langsung hasil pembangunan rumah sakit sekaligus mempelajari pelaksanaan program Presiden di sektor kesehatan.
“RSUD Oksibil, Pegunungan Bintang, datang untuk belajar PHTC di Raja Ampat,” demikian keterangan Meidi.
Ia menjelaskan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan studi tiru, terutama menyangkut proses pembangunan rumah sakit dan bagaimana pelayanan kesehatan dijalankan setelah pembangunan dilakukan.
Menariknya, kunjungan ini mempertemukan dua wilayah dengan karakter geografis yang berbeda, yakni Pegunungan Bintang di Papua Pegunungan dan Raja Ampat di Papua Barat Daya.
“Dari Papua gunung untuk Papua laut,” ungkapnya.
Meidi juga menjelaskan makna simbolis lambang empat Raja Ampat yang menggambarkan identitas daerah kepulauan tersebut, sementara simbol tangan yang disebutnya menggambarkan wilayah pegunungan.
Sebelumnya, RSUD Raja Ampat juga pernah mendapat kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, pada 21 April 2026.
Kunjungan tersebut menjadi salah satu momentum perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan fasilitas kesehatan di Kabupaten Raja Ampat.
Dengan adanya kunjungan studi tiru dari RSUD Oksibil, RSUD Raja Ampat kembali menjadi tempat berbagi pengalaman mengenai pembangunan infrastruktur kesehatan dan penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat.
Studi tiru ini diharapkan tidak sekadar menjadi kunjungan seremonial, tetapi juga menghasilkan pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterapkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di masing-masing daerah.













