Drama Tangsi Teling: Saat Merah Putih Biru Dirobek Menjadi Sang Saka di Tanah Minahasa

- Editor

Rabu, 11 Februari 2026 - 15:18

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manado, Sulut|TribuneIndonesia.com

Sejarah mencatat sebuah fragmen heroik dari Bumi Nyiur Melambai saat rakyat Sulawesi Utara melancarkan aksi nekat menyerbu markas militer Belanda di Teling, Manado. Peristiwa yang dikenal sebagai “Peristiwa Merah Putih” ini meletus tepat pada 14 Februari 1946, Rabu (11/02/26).

​Aksi heroik ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah gerakan terstruktur yang melibatkan berbagai elemen bangsa.

Pasukan KNIL dari kalangan pribumi, barisan pejuang, hingga laskar rakyat bersatu padu dalam satu komando perjuangan.

​Tujuan utama mereka hanya satu, merebut kembali kedaulatan atas wilayah Manado, Tomohon, dan Minahasa dari tangan penjajah.

Ketegangan memuncak saat massa mulai merangsek ke arah tangsi militer yang menjadi simbol kekuatan Belanda.

​Perlawanan ini dipicu oleh harga diri bangsa yang terusik. Rakyat Sulawesi Utara geram terhadap provokasi licik tentara Belanda yang menyebarkan propaganda bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah klaim sepihak untuk wilayah Sumatera dan Jawa.

​Masyarakat lokal ingin membuktikan bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 adalah milik seluruh nusantara, dari Sabang hingga Merauke.

Semangat ini membakar tekad mereka untuk menolak segala bentuk aneksasi kembali oleh NICA.

​Jika menilik ke belakang, euforia kemerdekaan sebenarnya terlambat sampai di utara Sulawesi.

Berita teks proklamasi baru menyentuh telinga rakyat di wilayah ini pada tanggal 21 Agustus 1945.

​Meski terlambat, respons masyarakat sangat masif. Tanpa komando panjang, bendera merah putih langsung berkibar di berbagai sudut kota, menandai berakhirnya era pendudukan Jepang di tanah Minahasa.

​Pejuang lokal bergerak cepat menduduki kantor-kantor pemerintahan. Mereka juga berhasil melucuti senjata sisa-sisa tentara Jepang yang saat itu sudah kehilangan arah setelah kekalahan di Perang Pasifik.

​Namun, stabilitas tersebut tidak bertahan lama. Memasuki awal Oktober 1945, suasana kembali mencekam seiring mendaratnya pasukan Sekutu yang memboncengi NICA di pelabuhan Sulawesi Utara.

​Kedatangan mereka segera mengubah peta kekuatan. Belanda yang berambisi menguasai kembali kekayaan Manado mulai melakukan tekanan militer terhadap pemerintahan sipil yang baru seumur jagung.

​Rakyat Manado tidak tinggal diam dan memilih jalur konfrontasi. Namun, keunggulan persenjataan Sekutu dan Belanda memaksa para pejuang mundur, sehingga Manado sempat jatuh kembali ke pelukan penjajah.

Baca Juga:  Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual dan Pejalan Sunyi

​Kondisi ini memicu lahirnya rencana kontra-serangan. Dua tokoh militer karismatik, Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu dan Sersan S.D. Wuisan, mulai menggalang kekuatan di bawah tanah.

​Keduanya berkolaborasi dengan Bernard Wilhelm Lapian, seorang politikus sipil kawakan. Kerja sama antara militer pribumi dan tokoh politik ini menjadi fondasi kuat rencana pengambilalihan markas Belanda.

Strategi matang mulai disusun sejak 7 Februari 1946. Mereka memetakan kelemahan pertahanan di Tangsi Teling dan mengoordinasikan gerakan laskar rakyat di luar barak militer.

​Namun, rencana tersebut nyaris kandas di tengah jalan. Sesaat sebelum serangan besar dilancarkan, Belanda mencium aroma pemberontakan dan menangkap Charles Taulu serta S.D. Wuisan.

​Kehilangan pimpinan utama tidak menyurutkan nyali para pejuang. Komando lapangan segera diambil alih oleh Mambi Runtukahu, seorang anggota KNIL pro-Republik yang memiliki pengaruh besar di kalangan prajurit Minahasa.

​Di bawah kepemimpinan Runtukahu, penyerbuan ke tangsi militer Belanda pecah secara dramatis. Mereka berhasil menjebol pertahanan lawan dan membebaskan para pimpinan yang tengah ditawan, termasuk Taulu dan Wuisan.

​Momen paling ikonik terjadi di puncak gedung markas militer. Para pejuang menurunkan bendera Belanda yang berwarna merah-putih-biru, lalu merobek bagian birunya dengan penuh amarah.

Warna merah dan putih yang tersisa kemudian dikibarkan kembali ke angkasa. Sorak-sorai kemenangan membahana, menandakan bahwa otoritas Belanda di Manado telah runtuh di tangan rakyat sendiri.

​Dalam aksi tersebut, para pejuang berhasil menawan pejabat tinggi Belanda.

Nama-nama seperti Letnan Verwaayen, Kapten Blom, hingga Residen Coomans de Ruyter tak berkutik saat digelandang oleh pasukan Merah Putih.

​Sayangnya, kejayaan ini hanya seumur jagung. Pada Maret 1946, Belanda mengirimkan bantuan besar-besaran melalui kapal perang Piet Hein yang membawa satu batalyon pasukan tambahan.

​Kekuatan pejuang akhirnya melemah setelah Belanda menggunakan siasat perundingan palsu pada 11 Maret untuk menangkap kembali para tokoh kunci, mengakhiri sementara babak heroik di Manado tersebut. (Talia)

Berita Terkait

Memeriahkan HUT RI ke-81, Wakil Bupati Bireuen Bagikan Ratusan Bendera Merah Putih
Penyerahan Aset Renovasi Puskesmas Langsa Barat Berjalan Tertib, Pengelolaan Kekayaan Negara Ditegaskan
Pemimpin Bukan Mengubah-Ubah Kurikulum, Tapi Membangun Fondasi yang Kuat
Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 81 Wartawan Gayo Gelar Lomba Photo dan Karya Tulis Jurnalistik
Satgas TMMD ke-129 Kodim 0102/Pidie Tuntaskan Pembangunan Tempat Wudhu, Kini Siap Dimanfaatkan Santri dan Jamaah
Dr. Dedy Cahyadi, S.SiT., MT. Berhasil Raih Gelar Doktor dari ITL Trisakti
Guru adalah Pahlawan Sesungguhnya yang Membangun Peradaban Bangsa
Arief Martha Rahadyan Serukan Gerakan Bersama Cegah Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 09:24

Memeriahkan HUT RI ke-81, Wakil Bupati Bireuen Bagikan Ratusan Bendera Merah Putih

Selasa, 11 Agustus 2026 - 07:24

Pemimpin Bukan Mengubah-Ubah Kurikulum, Tapi Membangun Fondasi yang Kuat

Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:59

Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 81 Wartawan Gayo Gelar Lomba Photo dan Karya Tulis Jurnalistik

Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:51

Satgas TMMD ke-129 Kodim 0102/Pidie Tuntaskan Pembangunan Tempat Wudhu, Kini Siap Dimanfaatkan Santri dan Jamaah

Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:43

Dr. Dedy Cahyadi, S.SiT., MT. Berhasil Raih Gelar Doktor dari ITL Trisakti

Selasa, 11 Agustus 2026 - 04:09

Guru adalah Pahlawan Sesungguhnya yang Membangun Peradaban Bangsa

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:58

Arief Martha Rahadyan Serukan Gerakan Bersama Cegah Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:41

PT Jasa Raharja (Persero) Kantor Wilayah Utama DKI Jakarta Gelar Bakti Sosial di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 1 Jakarta Timur

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Di Balik Cerita Zafira, Bakat Anak yang Mulai Diuji

Selasa, 11 Agu 2026 - 10:45

Pemerintahan dan Berita Daerah

FORPROVSU dan Janji Olahraga Rakyat

Selasa, 11 Agu 2026 - 10:04