Arogansi Kekuasaan Desa: Dana Kelompok Tani Rp108,8 Juta Jadi Bancakan Reje Bur Biah

- Editor

Minggu, 24 Agustus 2025 - 02:28

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Takengon | TRIBUNEIndonesia.com

Dugaan penggelapan dana kelompok tani kembali mencoreng wajah pemerintahan desa. Kali ini, Desa Bur Biah, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, diguncang isu panas terkait raibnya dana Kelompok Tani Lisik yang mencapai Rp108.800.000. Dana yang sejatinya diperuntukkan bagi kesejahteraan petani, justru diduga masuk ke rekening pribadi reje (kepala desa) yang juga merangkap sebagai bendahara kelompok.

Kasus bermula saat dana dicairkan di Bank BRI Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Pencairan harus dilakukan di sana karena di Aceh Tengah sudah tidak ada lagi layanan BRI setelah beralih ke Bank Syariah Indonesia (BSI). Proses pencairan dilakukan oleh tiga orang: Mulawarman selaku ketua kelompok, reje Bur Biah yang merangkap bendahara, serta Maya, pendamping Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bebesen. Meski Bur Biah bukan wilayah binaannya, Maya tetap dilibatkan berkat persekongkolan yang diduga sudah disepakati sebelumnya.

Sekretaris kelompok yang berhalangan hadir sempat memberi surat kuasa kepada ketua. Namun sesaat setelah dana cair, sang reje langsung meminta agar uang diserahkan kepadanya dengan alasan “diamankan”. Faktanya, dana tersebut justru dialihkan ke rekening pribadi sang reje, bukan ke rekening kelompok tani.

Kecurigaan makin kuat ketika anggota kelompok tani yang berjumlah 25 orang menanyakan kejelasan dana. Alih-alih memberi jawaban, sang reje hanya berjanji akan membahasnya dalam musyawarah. Undangan rapat sempat dibuat, namun tidak pernah diedarkan.

Waktu terus berjalan, namun permintaan pertanggungjawaban hanya dibalas dengan jawaban singkat: “tunggu” dan “sabar”. Bahkan, dengan nada arogan, sang reje pernah menyebut dana tersebut sebagai “uang tidak bertuan” sehingga terserah kapan ia mau mencairkan. Ia juga berdalih memiliki hak pribadi sebesar 10 persen dari total dana.

Baca Juga:  Calon Keuchik Nomor Urut 3 Zulfikar Santuni 50 Anak Yatim di Pulo Ara Geudong Tengoh

Mulawarman, ketua kelompok tani Lisik, mengaku sudah tiga kali menagih pertanggungjawaban, namun tidak pernah digubris. Hingga akhirnya masa jabatan sang reje habis dan digantikan oleh kepemimpinan baru. Reje Bur Biah yang baru bahkan sudah tiga kali melayangkan surat resmi kepada pendahulunya, namun tetap tidak direspons.

Ironisnya, ketika wartawan mencoba mengkonfirmasi langsung melalui pesan WhatsApp, jawaban yang diterima justru semakin memperkuat dugaan praktik kotor. Sang mantan reje hanya menulis: “kalau masalah uang itu duduk dulu kita”. Kalimat samar ini terkesan membuka ruang kompromi, bahkan tawar-menawar. Di akhir pesan ia menutup dengan kata singkat “kalu”, yang menimbulkan dugaan adanya indikasi suap atau praktik tidak sehat untuk meredam kasus tersebut.

Kemarahan anggota kelompok tani pun semakin tak terbendung. Mereka menilai uang Rp108,8 juta yang seharusnya digunakan untuk kepentingan bersama justru dikangkangi oleh oknum penguasa desa.

 “Kami sudah terlalu lama menunggu. Aparat penegak hukum harus segera bertindak agar masalah ini tidak terus berlarut. Kalau tidak, kepercayaan terhadap program pemerintah bisa hancur. Ini uang rakyat, bukan uang pribadi,” tegas salah seorang anggota kelompok tani Bur Biah.

Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum. Publik menanti: apakah skandal Rp108,8 juta ini akan diusut tuntas, atau kembali tenggelam dalam arogansi kekuasaan desa?

Reporter: Dian Aksara

Berita Terkait

GRPK dan BBHAR Satukan Langkah Perkuat Advokasi Hukum, Bongkar Dugaan Persoalan Alsintan Kelompok Tani Rukun Sena
Banyak Desa di Aceh Tenggara Diduga Abaikan Kewajiban Publikasi APBDes, Bupati Diminta Bertindak Tegas
Baru Jadi Dirut PLN Lagi, Darmawan Prasodjo Langsung Bohongi Rakyat Soal Kebutuhan Batubara PLTU
Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan
Ir. Iskandar DPRA Semangati 7 Atlit Tarung Derajat Simeulue Lolos Pora
Dari Akademisi hingga Praktisi, Arief Martha Rahadyan Mendapat Apresiasi atas Kiprah dan Gagasannya
Babak Baru BPKP ACEH Resmi Mulai Audit Persoalan PT. Raja Marga
Kunjungan Takziah dan Penyaluran Santunan: Bukti Perhatian Pemerintah Gampong bagi Warga Berduka
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:16

​Perkokoh Karakter Personel, Bintaldam XIII/Merdeka Gelar Pembinaan Mental dan Ideologi di Kodim 1310/Bitung

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:39

Bupati Salim Fakhry resmi buka pameran pembangunan di Hari Jadi ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:53

PT Kether Coco Bio Diduga Buang Limbah Ilegal di Perkebunan Warga Tanjung Merah

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:18

Kartu Keluarga Diduga Bermasalah, Masyarakat Pertanyakan Profesionalisme Disdukcapil Aceh Tenggara 

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:37

HBKB Jakarta Utara dan Jasa Raharja Kantor Wilayah Utama DKI Jakarta bersama Mitra Hadirkan Samsat juga Pengobatan Gratis

Selasa, 23 Juni 2026 - 06:36

PSSB U-12 Ikut Festival Piala Presiden di Banda Aceh

Selasa, 23 Juni 2026 - 05:58

​Putus Jaringan Antarprovinsi, Polres Bitung Amankan 15 Gram Sabu Asal Palu dari Tangan Pria Ini

Selasa, 23 Juni 2026 - 01:42

Masyarakat Gayo Perantauan: Jangan Ciptakan Polemik Baru, Dukung Swadaya Warga Perbaiki Jalan Bireuen–Bener Meriah

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Fotografi Cagar Budaya Jadi Strategi Promosi Potensi Sejarah dan Wisata Deli Serdang

Selasa, 23 Jun 2026 - 16:48

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Perkuat Kendali Inflasi, Strategi Stabilitas Pangan Jadi Prioritas Daerah

Selasa, 23 Jun 2026 - 16:28

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x