P
Enam Bulan Pasca Banjir, SD Negeri 5 Tanah Jambo Aye Masih Belum Pulih Sepenuhnya
Aceh Utara|Tribuneindonesia.com
Selasa/5 Mei 2026
— Enam bulan lalu, wilayah Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, dilanda banjir besar yang merusak berbagai fasilitas umum, termasuk lingkungan pendidikan. Hingga hari ini, kondisi SD Negeri 5 Tanah Jambo Aye masih menunjukkan bekas dampak bencana, di mana proses pemulihan belum berjalan optimal. Salah satu masalah yang dirasakan langsung oleh peserta didik adalah belum adanya distribusi seragam sekolah yang seharusnya menjadi fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar.Selasa 5 Mei 2026
Berdasarkan pengamatan Media ini di lokasi, bangunan sekolah meskipun sebagian sudah dapat digunakan, namun banyak bagian yang masih terlihat rusak dan belum diperbaiki secara sempurna. Lahan sekitar sekolah juga masih terlihat ada kerusakan pada permukaan tanah yang belum ditangani dengan baik. Fasilitas pendukung lainnya juga belum kembali berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga suasana belajar mengajar terasa kurang nyaman dibandingkan sebelum bencana terjadi.
Kepala Sekolah SD Negeri 5 Tanah Jambo Aye,”Samsul Bahri menyampaikan,” bahwa kerusakan yang ditimbulkan banjir tidak hanya terbatas pada bangunan fisik, tetapi juga memengaruhi aspek pendukung kegiatan sekolah lainnya. “Selama enam bulan pasca banjir, kami masih berusaha menata kembali lingkungan sekolah. Namun, keterbatasan bantuan dan proses penanganan yang memakan waktu membuat banyak kebutuhan sekolah belum terpenuhi. Salah satu yang paling dirindukan oleh siswa adalah seragam sekolah, hingga saat ini kami belum menerima distribusi seragam dari pihak terkait,” ujarnya Bahri
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa siswa dan orang tua murid sudah menunggu kehadiran seragam sekolah sejak awal tahun ajaran baru. Keterlambatan ini membuat sebagian siswa kesulitan dalam mengikuti kegiatan sekolah yang mengharuskan penggunaan seragam. “Banyak siswa yang terpaksa menggunakan pakaian sehari-hari karena tidak memiliki seragam. Hal ini tentu saja mengganggu rasa kebersamaan dan identitas sekolah yang seharusnya terwujud melalui penggunaan seragam,” tambahnya.
Salah satu orang tua murid, sebut saja siti, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi sekolah dan keterlambatan distribusi seragam. “Kami mengerti bahwa pemulihan pasca banjir membutuhkan waktu, tetapi harapannya kebutuhan dasar seperti seragam sekolah dapat segera dipenuhi. Anak-anak kami juga merasa tidak nyaman karena tidak bisa menggunakan seragam saat berangkat ke sekolah,” katanya.
Pihak berwenang terkait di tingkat kabupaten menyatakan bahwa proses penanganan pemulihan pasca bencana masih berlangsung secara bertahap. Mereka mengakui bahwa terdapat kendala dalam penyaluran bantuan dan penyelesaian kerusakan, namun berjanji akan terus berupaya agar semua kebutuhan sekolah dapat terpenuhi secepatnya. “Kami memahami keluhan dari pihak sekolah dan masyarakat. Tim kami terus melakukan pengecekan dan pengurusan agar bantuan termasuk seragam sekolah dapat segera disalurkan. Proses ini membutuhkan waktu karena banyaknya wilayah yang terkena dampak, namun kami akan berusaha semaksimal mungkin,” ungkapnya.
















