Napi Korupsi Diduga Lulus ASN Kementan, Distan Aceh Tenggara Mengaku Tidak Terlibat

- Editor

Sabtu, 25 April 2026 - 13:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TRIBUNEINDONESIA | KUTACANE – Seorang narapidana (napi) kasus korupsi pengadaan sapi tahun 2019 di Dinas Pertanian Aceh Tenggara diduga lulus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Informasi tersebut mencuat dari laporan harian kegiatan dan kinerja yang rutin dibagikan melalui grup WhatsApp Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat. Dalam laporan itu, tercantum salah satu nama yang diduga merupakan terpidana kasus korupsi yang saat ini masih menjalani hukuman.

Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara, Riskan, mengaku tidak terlibat dalam proses pengusulan penyuluh ASN tersebut.

“Saya tidak terlibat dalam mekanisme pengusulan. Saat itu langsung ditangani oleh bidang penyuluh,” ujarnya, Sabtu (25/4).

Ia menjelaskan, mekanisme pengusulan dilakukan melalui bidang penyuluh serta Kepala Tim Kerja (KatimKer) daerah. Namun, terkait adanya nama yang diduga berstatus narapidana, pihaknya mengaku tidak mengetahui secara pasti.

“Saya juga merasa bingung dengan adanya nama tersebut,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Penyuluh, Samsul Khair. Ia menyebut proses pengusulan telah dilakukan sesuai mekanisme resmi dan ditetapkan pada awal Januari 2026.

“Prosesnya melalui jalur resmi di bidang penyuluh dan KatimKer. Namun terkait nama tersebut, kami juga merasa heran,” ujarnya.

Kasus Sudah Berkekuatan Hukum Tetap

Diketahui, kasus korupsi pengadaan sapi tahun 2019 di Dinas Pertanian Aceh Tenggara menyeret seorang terpidana berinisial MR. Dalam perkara tersebut, MR divonis empat tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap (inkrah) berdasarkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 5544 K/Pid.Sus/2024 yang ditetapkan pada 1 Oktober 2024.

Berpotensi Melanggar Aturan ASN

Jika dugaan ini benar, maka kelulusan tersebut berpotensi bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN yang mensyaratkan calon ASN tidak pernah dipidana penjara dua tahun atau lebih serta wajib memiliki integritas yang baik.

Baca Juga:  Diduga Ajudan Ketua DPRA Terjaring Razia Syariat di Hotel Banda Aceh, Satpol PP Amankan Pasangan Non-Mahram

Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS juga menegaskan pentingnya verifikasi ketat terhadap latar belakang calon ASN.

Korupsi sebagai tindak pidana berat diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001, yang memungkinkan pencabutan hak tertentu, termasuk hak menduduki jabatan publik. Bahkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 35 disebutkan bahwa seseorang dapat dicabut haknya untuk memegang jabatan publik.

Potensi Sanksi

Apabila terbukti terjadi pelanggaran, sejumlah sanksi dapat dikenakan kepada pihak terkait.

Terhadap terpidana:

pembatalan kelulusan ASN

pemberhentian jika telah diangkat

potensi pidana tambahan jika terbukti melakukan pemalsuan dokumen

Sementara terhadap pejabat atau pihak pengusul:

sanksi administratif hingga pemberhentian

sanksi disiplin berat sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS

sanksi pidana apabila terbukti terjadi penyalahgunaan wewenang

Perlu Penelusuran Lebih Lanjut

Kasus ini dinilai perlu mendapat perhatian serius dari aparat pengawas dan penegak hukum. Dugaan lolosnya narapidana dalam seleksi ASN tidak hanya berpotensi sebagai kesalahan administratif, tetapi juga mengindikasikan adanya celah dalam sistem verifikasi.

Lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi dan pengawas internal kementerian diharapkan segera melakukan penelusuran guna memastikan tidak terjadi pelanggaran hukum yang lebih luas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kementerian Pertanian terkait dugaan tersebut.***

Sumber: Waspada.co.id

Berita Terkait

Panggil BKPSDM Soal IPDN Dipertanyakan, Warga: Jangan Salah Sasaran!
APBD Defisit Disorot, Fraksi GIK Dorong OPD Raja Ampat Genjot Kinerja
Ketua DPRK Raja Ampat Tegaskan APBD Perubahan 2026 Harus Tepat Sasaran
Pengawasan APIP Ungkap Temuan Rp2,17 Miliar pada 8 Desa Dalam Kabupaten Simeulue
Konten Diduga Singgung Agama, Ketua DPP GRPK Laporkan Akun TikTok ke Polda Sumut
KUA-PPAS Perubahan 2026: Fraksi Demokrat Raja Ampat Beri Catatan Keras untuk Pemerintah Daerah
Fraksi Demokrat Bongkar 10 Catatan APBD-P 2026, Desak Bupati Nonaktifkan Kepala Kampung yang Terkena LHP
Buka Pelatihan Paralegal 2026, Wali Kota Hengky Honandar Dorong Penyelesaian Hukum Tingkat Tapak
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 18:30

APBD Defisit Disorot, Fraksi GIK Dorong OPD Raja Ampat Genjot Kinerja

Sabtu, 26 September 2026 - 16:34

Ketua DPRK Raja Ampat Tegaskan APBD Perubahan 2026 Harus Tepat Sasaran

Sabtu, 26 September 2026 - 12:16

Kapolres Aceh Timur Silaturahmi ke Abu Paya Pasi, Perkuat Sinergi Polri dan Ulama

Sabtu, 26 September 2026 - 06:35

Peringati Maulid Nabi, Kapolres Aceh Timur Santuni puluhan Anak Yatim

Sabtu, 26 September 2026 - 05:17

Fraksi Otsus DPRK Raja Ampat Soroti Dana Otsus Rp268 Miliar: Jangan Hanya Jadi Angka di APBD

Sabtu, 26 September 2026 - 00:30

Wali Kota Langsa Buka Langsa Expo 2026, Dorong Kebangkitan UMKM dan Ekonomi Kreatif

Jumat, 25 September 2026 - 21:22

Kapolres Bitung Imbau Warga Terdampak Tol Tak Blokir Jalan: Silakan Aspirasi, Tetap Taat Hukum

Jumat, 25 September 2026 - 13:09

Dukung Program Ketahanan Pangan, Rutan Cipinang Dorong Kemandirian Warga Binaan melalui Produksi Tempe

Berita Terbaru

Feature dan Opini

Panggil BKPSDM Soal IPDN Dipertanyakan, Warga: Jangan Salah Sasaran!

Minggu, 27 Sep 2026 - 01:29

Feature dan Opini

APBD Defisit Disorot, Fraksi GIK Dorong OPD Raja Ampat Genjot Kinerja

Sabtu, 26 Sep 2026 - 18:30