​Uhud: Fragmen Pengorbanan dan Kesetiaan di Garis Depan

- Editor

Minggu, 8 Maret 2026 - 06:55

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

                    gambar ilustrasi

Tribuneindonesia.com Gemuruh pertempuran di kaki Bukit Uhud menyisakan catatan sejarah yang tak akan pernah usang.

Peristiwa ini bukan sekadar palagan senjata, melainkan panggung pembuktian cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW.

​Kekacauan bermula ketika stabilitas pertahanan pasukan Muslim goyah. Akibat pengosongan pos strategis oleh pasukan pemanah, tentara Quraisy berhasil menemukan celah untuk melakukan serangan balik yang mematikan dari arah belakang.

​Dalam sekejap, situasi berbalik seratus delapan puluh derajat. Fokus serangan musuh kini tak lagi pada panji militer, melainkan menyasar langsung ke jantung kekuatan Islam, sosok Nabi Muhammad SAW.

​Hujan batu dan anak panah menghantam posisi beliau dengan membabi buta. Luka fisik tak terhindarkan, wajah mulia beliau terhantam batu, sementara mata panah merobek bagian pipi hingga menyebabkan pendarahan hebat.

​Kondisi tersebut diperparah dengan patahnya gigi beliau serta luka di pelipis yang mengucurkan darah segar hingga menggenang.

Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa, sebuah keajaiban keteguhan dipertontonkan.

​Rasulullah SAW tetap berdiri tegak di atas kedua kakinya, menolak untuk tumbang.

Dengan sisa kekuatan yang ada, suara beliau memecah kebisingan denting pedang, memanggil para pengikutnya yang sedang kocar-kacir.

​”Ke sini wahai hamba-hamba Allah!”

seru beliau dengan nada yang lemah namun mengandung otoritas yang menggetarkan jiwa.

Seruan ini menjadi magnet yang menarik kembali nyali para sahabat yang sempat ciut.

​Mendengar suara sang pemimpin, para sahabat segera bergerak responsif. Mereka membentuk barisan rapat, menjadikan raga mereka sebagai benteng hidup demi melindungi Rasulullah SAW dari serangan susulan.

​Di barisan pelindung tersebut, muncul sosok Abu Dujanah RA. Ia menyadari bahwa posisi Nabi sangat rawan, sehingga ia memutuskan untuk melakukan tindakan heroik yang melampaui batas nalar manusia biasa.

​Abu Dujanah berdiri membelakangi musuh dan membungkukkan badannya di hadapan Rasulullah SAW.

Ia secara sadar menjadikan punggungnya sebagai sasaran empuk bagi anak panah yang melesat dari busur kaum Quraisy.

​Satu demi satu anak panah menancap di tubuhnya, namun Abu Dujanah tetap bergeming layaknya batu karang. Ia menolak bergerak sesenti pun demi memastikan tidak ada satu pun proyektil yang menyentuh tubuh Nabi.

Baca Juga:  ​Lepas Parade Nusantara Harkitnas, Dansatrol Bitung Kawal Iring-iringan Budaya hingga Lapangan Pemkot

​Pengorbanan ini lahir dari sebuah prinsip fundamental, bagi Abu Dujanah dan para sahabat, keselamatan Rasulullah SAW jauh lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri. Inilah definisi sejati dari loyalitas tanpa batas.

​Di sudut lain medan perang, sebuah rumor gelap sempat melumpuhkan mental pejuang Muslim.

Kabar burung mengenai wafatnya Rasulullah SAW tersebar cepat, membuat sebagian pasukan memilih untuk berhenti bertempur.

​Namun, keputusasaan itu tidak berlaku bagi Anas bin An-Nadhar RA. Alih-alih mundur, ia justru memacu semangat kaum Anshar untuk tetap bangkit dan terus memberikan perlawanan hingga tetes darah terakhir.

​”Jika Muhammad telah wafat, lantas untuk apa kalian masih hidup? Bangkitlah dan matilah di atas jalan yang beliau perjuangkan!”

teriak Anas sebelum menerjang kerumunan musuh dengan keberanian yang meledak-ledak.

​Keyakinan Anas bukan tanpa dasar, ia sempat berujar kepada Sa’d bin Mu’adz bahwa dirinya telah mencium aroma surga di balik Bukit Uhud.

Sebuah visi spiritual yang membuatnya tak lagi gentar menghadapi maut.

​Pasca-pertempuran, jenazah Anas ditemukan dalam kondisi yang memilukan namun mulia. Terdapat lebih dari 80 luka sabetan pedang di sekujur tubuhnya, hingga nyaris tak dikenali oleh siapa pun.

​Satu-satunya cara kakaknya mengenali jasad Anas hanyalah melalui tanda di ujung jarinya. Luka-luka itu menjadi saksi bisu atas janji setia yang ia tepati di bawah panasnya terik matahari Uhud.

​Titik balik moral pasukan Muslim akhirnya tiba melalui mata tajam Ka’ab bin Malik RA. Di tengah debu pertempuran, ia menangkap kilatan baju zirah seorang pejuang yang terus bertahan dengan tangguh.

​Setelah memastikan identitas sosok tersebut, Ka’ab berteriak dengan suara menggelegar,

“Bergembiralah wahai kaum muslimin! Ini Rasulullah! Demi Allah, beliau masih hidup!”

​Informasi tersebut seketika mengubah jalannya sejarah hari itu.

Semangat yang sempat padam kembali menyala hebat, menyatukan barisan Muslim yang tercerai-berai untuk kembali melindungi sang cahaya nubuwah hingga pertempuran usai. (talia)

Berita Terkait

P3-TGAI Dinilai Perkuat Irigasi dan Ketahanan Pangan di Aceh Tenggara
Aceh Tenggara Butuh Proyek Strategis Mitigasi Bencana dan Irigasi
Kapolres Aceh Tenggara Hadiri Festival Kakao dan Pasar Tani, Dorong Penguatan Ekonomi Petani
Polsek Jagong Jeget Bersama Damkar dan Masyarakat Bahu Membahu Padamkan Kebakaran di Pasar Jagong Jeget
Anggaran Militer vs Gaji Guru: Di Mana Sebenarnya Letak Kekuatan Sebuah Bangsa
Babinsa Koramil 08/Gandapura Komsos Bersama Pedagang, Pantau Harga Ayam di Pasaran
Babinsa Posramil Jeumpa Bantu Warga Panen Jagung, Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas
Babinsa Posramil Peulimbang Pantau Harga dan Stok Ikan di Tengah Cuaca Ekstrem.
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 12:41

Misteri Kematian Winda Lorenza Gowasa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:38

Sambut HUT RI ke-81, SMPN 1 Manyak Payed Gelar Kerja Bakti Wujudkan Semangat Gotong Royong dan Cinta Tanah Air

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 01:33

​Kinerja Buruk, Pemkot Bitung Siap Copot Kepala Lingkungan Sewaktu-waktu

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 00:22

Tanggal yang Tak Beres di Putusan Pengadilan Negri Lubuk Pakam

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:35

GELAR BIMTEK ANTI MALADMINISTRASI, PEMKAB SIMEULUE SIAP HADAPI PENILAIAN OMBUDSMAN RI 31 AGUSTUS – 4 SEPTEMBER 2026*

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:04

Aktivis Simeulue Minta Gubernur Aceh Rekomendasikan Panglima Age Pimpin PT PEMA

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:32

Soal 10 Tiang Listrik di Gresik Tumbang Hingga Lukai Warga dan Rusak Mobil, GM PLN UID Jatim Bungkam

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:27

Jejak Dugaan Makanan Busuk di Dapur MBG Sena, Surat GRPK Mengarah ke Badan Gizi Nasional

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Jejak Panjang Shri Mariamman.Tradisi Hindu yang Bangkit dari Puluhan Tahu

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:22