Kelompok pertama adalah (Orang yang Berakal), sang pemilik lentera dalil, yang membangun fondasi keyakinan melalui barisan huruf dan lembaran kitab. Mereka membaca tanda-tanda keberadaan Tuhan melalui teks yang tersurat, menyusun argumen demi argumen untuk mengokohkan pemahaman.
Sebaliknya, para ahli ma’rifat tidak lagi bersandar pada kertas yang rapuh, melainkan pada cahaya syuhud yang memancar dari kedalaman hati. Bagi mereka, ma’rifat bukanlah hasil dari perdebatan pikiran, melainkan karunia murni yang diletakkan Allah ke dalam qalbu yang telah bening.
Seorang yang berakal mengenal Allah lewat informasi, ia menghafal asma-Nya dan memahami sifat-sifat-Nya melalui narasi yang sahih. Pengetahuannya adalah sebuah konsep yang indah, tersimpan rapi dalam lumbung ingatan sebagai sebuah khazanah intelektual.
Namun, bagi seorang arif, mengenal Allah adalah tentang dzauq atau rasa yang mencecap kelezatan kehadiran-Nya. Ia tidak sekadar tahu bahwa Allah Maha Melihat, tetapi ia merasa sedang ditatap dengan penuh cinta dalam setiap desah napas yang keluar-masuk.
Orang yang berakal berdiri tegak di atas jembatan logika, membedah hukum-hukum syariat dengan ketajaman rasio. Baginya, kebenaran adalah struktur yang dibangun dari premis dan konklusi yang tidak terbantahkan oleh manusia.
Sementara itu, ahli makrifat membiarkan akalnya bersujud di bawah perintah sir atau rahasia hati yang terdalam. Cahaya ketuhanan telah menundukkan logika ragu, sehingga akal tak lagi memimpin, melainkan menjadi pelayan bagi kesadaran batin yang luhur.
Dalam ranah pengabdian, orang berakal sangat teliti menjaga rukun dan syarat secara lahiriah agar ibadahnya sah di mata fiqih. Ketaatannya adalah bentuk kepatuhan seorang hamba yang menjalankan tugas dengan penuh kedisiplinan dan tanggung jawab.
Akan tetapi, sang pecinta yang berma’rifat melaksanakan ibadah sebagai sebuah pertemuan rahasia yang penuh kerinduan. Shalatnya adalah mi’raj ruhani, di mana ia tenggelam dalam samudera ihsan, menyembah-Nya seolah-olah ia sedang menatap wajah-Nya yang abadi.
Hubungan orang yang berakal dengan Tuhannya sering kali dibatasi oleh dinding ketaatan formal dan hitungan amal. Ada jarak yang dijembatani oleh tumpukan perbuatan baik, di mana setiap langkah diukur dengan timbangan pahala dan dosa.
Bagi ahli makrifat, jarak itu telah sirna ditelan api mahabbah atau cinta yang membakar. Hubungan mereka dihiasi oleh rasa malu yang lembut dan kerinduan yang tak kunjung padam, membuat mereka selalu merasa berada dalam hadirat Allah yang Maha Dekat.
Seorang yang berakal sibuk mencari kebenaran tentang hukum-hukum Allah di atas bumi ini. Ia menjadi penjaga gawang syariat yang memastikan bahwa aturan-Nya tegak dan dipahami oleh khalayak melalui argumentasi yang kuat.
Namun, pengembara makrifat tidak lagi mencari hukum, melainkan mencari Sang Pembuat Hukum itu sendiri. Fokusnya bukan pada apa yang diperintahkan secara teknis saja, melainkan pada kehendak rahasia di balik setiap ketentuan-Nya.
Sering kali, di dalam diri orang berakal, masih tersisa dinding tipis yang disebut “keakuan”. Ia merasa bangga dengan “aku yang tahu”, “aku yang hafal”, dan “aku yang memahami”, sehingga pengetahuan yang di pelajari terkadang menjadi hijab bagi dirinya sendiri.
Berbeda halnya dengan ahli ma’rifat yang telah menempuh jalan fana’, di mana identitas dirinya lebur dalam kebesaran-Nya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa “aku” adalah ketiadaan, dan yang tinggal hanyalah kesadaran bahwa “semua ini adalah milik-Nya dan dari-Nya”.
Buah dari pohon orang yang berakal adalah wawasan yang luas, kemampuan berdiplomasi, dan kekuatan dalam mematahkan argumen lawan. pengetahuan menjadikannya sosok yang disegani karena keluasan referensi dan ketajaman ucapannya.
Sedangkan buah dari pohon ma’rifat adalah akhlak yang selembut sutra dan ketenangan sedalam samudera. Kehadirannya membawa kedamaian, tatapannya memancarkan kasih sayang, dan sikapnya adalah cermin dari ketawadhuan yang tulus.
Dapat dikatakan bahwa Akal adalah peta yang menunjukkan arah jalan menuju istana Sang Raja. Tanpa peta, seseorang akan tersesat dalam rimba ketidaktahuan dan kegelapan akidah yang menyesatkan.
Namun, ma’rifat adalah momen ketika seseorang telah sampai di dalam istana tersebut dan bercengkerama langsung dengan Sang Raja. Akal membawa kita pada “pengetahuan”, tetapi ma’rifat membawa kita pada “penyaksian” keindahan-Nya.
Jika Akal mampu memahami dari buku-buku menuju hati, maka ma’rifat memancar langsung dari Allah ke dalam hati tanpa perantara.
Inilah puncak perjalanan ruhani, di mana setiap hamba merindukan untuk tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan kehadiran-Nya yang abadi.
Penulis: (Tamrin.L)













