Panjat Pinang Dilarang: Saat Akal Sehat Tergelincir di Tiang Licin

- Editor

Kamis, 21 Agustus 2025 - 02:32

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Chaidir Toweren

TribuneIndonesia.com

Beberapa tahun terakhir, tiap bulan Agustus di Aceh selalu punya warna tersendiri. Lapangan-lapangan dipenuhi sorak sorai. Anak-anak tertawa, orang dewasa bersorak, lumpur menjadi arena perjuangan, dan hadiah di atas tiang pinang menjadi simbol harapan. Tapi tahun ini berbeda. Banyak daerah melarang lomba panjat pinang. Alasannya sederhana, sekaligus menggelikan: dianggap warisan penjajahan.

Inilah potret nyata dari kebijakan yang lahir bukan dari akal sehat, tapi dari rasa takut pada simbol. Panjat pinang tiba-tiba jadi musuh karena konon dulunya diciptakan Belanda untuk menghibur diri dengan menonton pribumi saling injak. Kita, yang katanya sudah 80 tahun merdeka, masih gemetar berhadapan dengan bayang-bayang masa lalu. Bahkan terhadap sebatang pinang yang ditanam rakyat sendiri.

Pertanyaannya: apakah semua yang lahir di zaman kolonial otomatis harus dibuang? Kalau iya, maka sebagian besar kota, jalan, jembatan, bahkan sistem pemerintahan kita hari ini pun harus dibongkar. Apakah bahasa Indonesia yang disusun semasa Hindia Belanda juga harus ditolak? Apakah kalender nasional yang ditetapkan di bawah sistem kolonial juga harus dihapus? Tapi mengapa hanya panjat pinang yang dibidik?

Jawabannya sederhana: karena mudah. Karena panjat pinang adalah tradisi rakyat kecil. Tidak perlu rapat panjang, kajian mendalam, atau debat publik. Cukup satu surat edaran, dan semuanya lenyap.

Ironisnya, di tengah semua itu, kita lupa bahwa makna panjat pinang justru bertolak belakang dari semangat kolonialisme. Ia adalah gambaran paling nyata dari gotong royong. Simbol bahwa untuk mencapai puncak, seseorang tidak bisa sendirian. Harus ada yang menopang, mengalah, mengangkat, dan menahan beban dari bawah. Panjat pinang mengajarkan bahwa di balik setiap keberhasilan, ada banyak orang yang mungkin tidak tampak di kamera, tapi sangat menentukan.

Lomba ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah peragaan ulang dari semangat kebersamaan yang menjadi pondasi bangsa ini merdeka. Dalam lumpur itu, ada nilai-nilai yang bahkan tidak lagi diajarkan di sekolah: solidaritas, kerja sama, strategi, kesabaran, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri.

Baca Juga:  Janji yang Tak Pernah Ingkar Kisah Ilham dan Ardiana dalam Harmoni Cinta dan Musik

Tapi sayangnya, semua nilai itu kini dianggap tidak lebih penting daripada narasi “membersihkan budaya dari warisan kolonial”. Sebuah alasan yang terdengar agung, tapi dalam praktiknya justru menindas ekspresi rakyat yang paling jujur.

Apa sebenarnya yang kita takuti? Apakah kita benar-benar merasa terjajah karena melihat warga memanjat tiang pinang? Atau sebenarnya kita hanya bersembunyi di balik narasi sejarah untuk menutupi ketidakmampuan membaca makna zaman?

Kita hidup di era ketika rakyat tidak lagi sekadar menunggu hadiah dari atas, tapi justru membangun sistem dari bawah. Panjat pinang adalah metafora tentang itu. Bahwa setiap orang punya peran, bahwa kemenangan adalah hasil dari kerja bersama, bukan kerja segelintir elit. Dan barangkali, inilah yang tidak disukai: bahwa rakyat bisa bersatu tanpa dikomando, bisa tertawa tanpa disuapi, dan bisa menciptakan perayaan sendiri tanpa campur tangan kekuasaan.

Pelajaran paling penting dari panjat pinang justru lahir dari lumpurnya. Di sana, status sosial luluh. Tak penting siapa guru, siapa tukang bangunan, siapa anak pejabat. Semuanya sama-sama jatuh, sama-sama tertawa, dan sama-sama berjuang untuk mencapai puncak. Di situ, kemerdekaan terasa nyata, bukan dalam seremoni, bukan dalam baliho, tapi dalam peluh dan tawa yang jujur.

Jadi, ketika panjat pinang dilarang, sesungguhnya yang sedang kita larang adalah cermin dari diri kita sendiri. Kita tak lagi berani berkotor-kotor, tak lagi mau bekerja sama, tak lagi ingin mengingat bahwa setiap keberhasilan harus dibayar dengan kerja keras dari banyak orang.

Dan lebih tragis lagi, pelarangan ini datang bukan dari pihak asing, bukan dari sisa-sisa penjajah, tapi dari kita sendiri. Dari mereka yang seharusnya memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari Belanda, tapi juga tentang keberanian berpikir merdeka. Tentang tidak takut pada simbol, dan berani menggali makna.

Karena terkadang, yang paling menjajah bukan lagi Belanda. Tapi ketakutan kita sendiri untuk berpikir jernih dan berdiri di atas kaki sendiri. (#)

Berita Terkait

Ketika Jabatan Lebih Ditentukan Jaringan Daripada Kemampuan, Quo Vadis Kepemimpinan Indonesia?
Selamat Hari Kemerdekaan ke-81 Bangsa Indonesia
Mengapa Bangsa Ini Tidak Maju?
Pemimpin yang Membangun, Pemimpin yang Menghancurkan
Kemerdekaan yang Tak Selesai di Atas Kertas
Jangan Jadi Pemimpin Ambisius — Peradaban Bangsa Dibangun oleh Guru
Maju ke Listrik, Tetapi Jangan Hilangkan Minyak Sebelum Siap
Janji Manis Tanpa Bukti — Kesejahteraan Guru yang Selalu Ditunda
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 01:18

Perkuat Budaya K3, Pelindo Bitung Gelar Apel Keselamatan Kerja

Senin, 7 September 2026 - 23:28

TPP ASN Rp104,5 Miliar Tak Kunjung Cair, Ketua DPRK Raja Ampat Desak Pemda Buka-bukaan

Senin, 7 September 2026 - 22:15

HRD Desak Pemerintah Pusat Pastikan Dana Otsus Aceh Berlanjut dalam APBN 2027

Senin, 7 September 2026 - 22:14

Polsek Makmur Gencarkan Patroli dan Sosialisasi Cegah Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 13:47

Ketua Asrama Raja Ampat di Manado Desak Dinas Pendidikan Segera Bayar Kontrak Asrama

Senin, 7 September 2026 - 08:35

TPP ASN Rp104,5 Miliar Tak Kunjung Cair, Ketua DPRK Raja Ampat Desak Pemda Buka-bukaan

Senin, 7 September 2026 - 06:03

Wakil Bupati Ir. H. Razuardi, M.T. Pimpin Upacara Peringatan Hardikda Aceh ke-67

Senin, 7 September 2026 - 04:14

SKPA di Aceh Diminta Publikasikan Setiap Kegiatan dan Proyek kepada Publik

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Dapur Gizi dan Perburuan Pangan Lokal

Selasa, 8 Sep 2026 - 01:00

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x