SOMASI, Riak yang Mengguncang Panggung Pilkada Langsa

- Editor

Selasa, 12 Agustus 2025 - 03:58

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Beragam aksi somasi

Caption : Beragam aksi somasi

Oleh : Mahfuddin

TribuneIndonesia.com

Dalam sejarah demokrasi lokal, tidak semua gerakan masyarakat sipil mampu meninggalkan jejak yang berarti. Banyak yang lahir dan padam hanya sebagai riak kecil yang terlupakan oleh arus besar politik. Namun, di Kota Langsa, sebuah aliansi bernama SOMASI singkatan dari Aliansi Masyarakat Sipil membuktikan bahwa keyakinan, dukungan rakyat, dan kemurnian niat dapat mengubah riak menjadi gelombang yang meninggalkan catatan sejarah.

SOMASI lahir bukan sebagai kendaraan politik, apalagi kepanjangan tangan kelompok tertentu. Mereka muncul dari kegelisahan masyarakat yang ingin melihat Pilkada Kota Langsa berjalan dengan jujur, adil, dan berpihak pada kepentingan publik. Sikap ini membuat SOMASI berbeda. Mereka tidak membawa agenda tersembunyi, tidak pula menunggu imbalan politik. Tujuan mereka jelas: mengawal proses demokrasi agar tidak keluar jalur.

Sejak awal, sebagian orang skeptis. Ada yang berkomentar bahwa aksi SOMASI hanyalah “angin lalu” yang akan hilang begitu Pilkada usai. Tuduhan bahwa gerakan ini akan sia-sia bahkan sempat mengemuka di berbagai forum. Namun, waktu membuktikan bahwa penilaian itu keliru. SOMASI tidak hanya bertahan, tetapi juga menorehkan capaian yang diakui banyak pihak, termasuk Walikota Langsa sendiri.

Momen pengakuan itu terjadi pada acara temu ramah perdana Walikota dan Wakil Walikota Langsa bersama insan pers. Di hadapan para jurnalis, Walikota menyampaikan ucapan terima kasih kepada SOMASI atas kontribusi dan perannya dalam proses Pilkada. Ucapan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan resmi bahwa peran masyarakat sipil seperti SOMASI adalah bagian penting dari keberhasilan demokrasi lokal.

Pengakuan ini menegaskan bahwa keberadaan gerakan sipil tidak selalu berakhir dengan benturan atau ketegangan. Justru, jika dijalankan dengan itikad baik dan argumentasi yang kuat, gerakan seperti SOMASI bisa menjadi mitra kritis pemerintah. Mereka menjadi cermin yang memantulkan realitas, termasuk kritik terhadap kebijakan yang melenceng, sekaligus memberikan saran untuk perbaikan.

Kini, menjelang 100 hari kerja Walikota dan Wakil Walikota Langsa, harapan publik terhadap SOMASI semakin besar. Periode 100 hari biasanya menjadi tolok ukur awal, di mana janji kampanye mulai diuji dengan kenyataan di lapangan. Masyarakat menanti langkah-langkah konkret, mulai dari pembenahan birokrasi, pelayanan publik, hingga pembangunan infrastruktur. Dalam konteks ini, peran SOMASI sebagai pengawas independen menjadi sangat penting.

Tugas mereka tidak mudah. Menjaga jarak dari kepentingan politik sambil tetap aktif memberikan kritik membutuhkan konsistensi, integritas, dan keberanian. Apalagi, dalam dinamika politik lokal, tidak sedikit pihak yang berusaha “merangkul” atau bahkan memecah belah gerakan sipil agar kehilangan tajinya. Di sinilah tantangan terbesar SOMASI: tetap berdiri tegak tanpa tergoda kepentingan jangka pendek.

Baca Juga:  Mengembalikan Pilkada ke DPRD, Maju atau Mundur Demokrasi?

Ke depan, SOMASI perlu memperkuat basis dukungan masyarakat. Kritik yang mereka sampaikan harus selalu dibarengi data dan argumentasi yang jelas, sehingga tidak mudah dipatahkan oleh narasi tandingan. Lebih dari itu, SOMASI juga harus mampu mengedukasi masyarakat tentang arti penting partisipasi publik dalam pemerintahan. Partisipasi tidak berhenti di bilik suara saat Pemilu atau Pilkada, tetapi berlanjut dalam mengawal jalannya pemerintahan sehari-hari.

Salah satu kekuatan terbesar SOMASI adalah independensi. Selama mereka mampu menjaga jarak dari pengaruh pihak tertentu, suara mereka akan tetap didengar dan dihargai. Apalagi, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, masyarakat semakin cerdas dalam menilai mana kritik yang tulus dan mana yang hanya pesanan.

Bagi Walikota dan Wakil Walikota Langsa, keberadaan SOMASI seharusnya dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Kritik yang disampaikan secara konstruktif bisa menjadi masukan berharga untuk memperbaiki kebijakan dan kinerja pemerintahan. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil akan melahirkan tata kelola yang lebih baik, transparan, dan akuntabel.

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari tepuk tangan semata, tetapi dari keberanian untuk mendengar suara yang berbeda. SOMASI telah membuktikan bahwa suara berbeda itu tidak harus dibungkam, melainkan diakomodasi sebagai bagian dari proses perbaikan. Langkah ini patut menjadi teladan bagi daerah lain, bahwa gerakan sipil yang murni dapat berjalan seiring dengan pemerintahan yang terbuka terhadap kritik.

Sejarah telah mencatat peran SOMASI di Pilkada Kota Langsa. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa catatan itu tidak berhenti sebagai kisah masa lalu. Mereka harus terus hadir, mengawal, dan menjaga agar pemerintahan tetap berpihak pada kepentingan rakyat. Tantangan akan selalu ada, tetapi selama ada dukungan masyarakat, SOMASI akan tetap menjadi gelombang yang mampu mengguncang, bukan sekadar riak di permukaan.

Demokrasi bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang. Dalam perjalanan itu, SOMASI telah membuktikan bahwa keberanian, kejujuran, dan dukungan rakyat adalah bekal yang cukup untuk meninggalkan jejak sejarah. Kini, tinggal bagaimana mereka menjaga api perjuangan itu tetap menyala, demi Kota Langsa yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada rakyatnya.(#)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati
Arief Martha Rahadyan: Demokrasi Sehat Bertumpu pada Pers yang Berintegritas
Berita ini 211 kali dibaca
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:50

​Hari Bhayangkara ke-80: Polres Bitung Teguhkan Semangat Presisi Lewat Ziarah Pahlawan

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:46

Jembatan Enang-Enang: Ketangguhan Masyarakat dan Pelajaran dari Sebuah Struktur

Rabu, 24 Juni 2026 - 06:56

Suku Mayoritas Alas Kecewa pada Peringatan HUT ke-52 Aceh Tenggara, Budaya Lokal Dinilai Hanya Jadi Penonton di Rumah Sendiri

Rabu, 24 Juni 2026 - 03:45

Antusiasme Warga Membludak, HUT Aceh Tenggara ke-52 Dimeriahkan Beragam Kegiatan dan Hadiah Menarik

Rabu, 24 Juni 2026 - 02:33

Jasa Raharja DKI Jakarta berkolaborasi dengan mitra terkait menghadirkan layanan Samsat Keliling dalam kegiatan HBKB

Rabu, 24 Juni 2026 - 00:36

KETUA LEMBAGA KOMANDO GARUDA SAKTI ALIANSI INDONESIA (LKGSAI) SAIDUL AMRAN ANGKAT BICARA

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:16

​Perkokoh Karakter Personel, Bintaldam XIII/Merdeka Gelar Pembinaan Mental dan Ideologi di Kodim 1310/Bitung

Selasa, 23 Juni 2026 - 15:39

Bupati Salim Fakhry resmi buka pameran pembangunan di Hari Jadi ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Jelita Asri Dorong Perempuan Deli Serdang Perkuat Fondasi Keluarga Sehat

Rabu, 24 Jun 2026 - 16:30

Pemerintahan dan Berita Daerah

Bupati Asri Lepas 27 Atlet DSIL, Bidik Prestasi Nasional di Pariaman Open 2026

Rabu, 24 Jun 2026 - 16:15

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Bidik Prestasi Nasional, Bupati Lepas Tim Pesparawi ke Papua Barat

Rabu, 24 Jun 2026 - 15:54

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x