Jakarta/Tribuneindonesia.com
Maraknya aksi vandalisme pada fasilitas umum kembali menjadi sorotan. Salah satunya terlihat pada rambu *Halte Bus Transjakarta / Mikrotrans JakLingko* yang kondisinya rusak akibat coretan dan kawat berduri. sabtu 29 Agustus 2026
Dari hasil pantauan di lapangan, rambu yang seharusnya menjadi penanda penting bagi pengguna transportasi publik itu kini tidak berfungsi optimal.
1. *Papan atas biru* bertuliskan *”STOP”* dengan gambar bus tertutup penuh coretan hitam.
2. *Papan bawah putih* bertuliskan *”Rute JAK:”* tidak terbaca karena dipenuhi grafiti. Padahal kode “JAK” ini sangat dibutuhkan penumpang untuk mengetahui rute Mikrotrans JakLingko seperti JAK 10, JAK 24, dan lainnya.
*Vandalisme = Merugikan Diri Sendiri dan Orang Banyak*
Kerusakan fasilitas seperti ini bukan sekadar soal estetika. Dampaknya nyata dan langsung dirasakan masyarakat:
1. *Membahayakan Keselamatan*: Penumpang baru, pelajar, lansia, dan penyandang disabilitas jadi bingung mencari titik halte. Akibatnya banyak yang terpaksa menyeberang jalan mendadak atau menunggu di tempat yang tidak aman.
2. *Menurunkan Kualitas Layanan Publik*: Transjakarta dan Mikrotrans JakLingko adalah tulang punggung mobilitas warga Jakarta. Ketika rambu rusak, keterlambatan, kebingungan, dan potensi pungli liar bisa muncul.
3. *Pemborosan Anggaran*: Perbaikan rambu, pengecatan ulang, dan pembersihan menggunakan uang APBD. Artinya uang pajak rakyat terpakai untuk memperbaiki kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah.
4. *Menciptakan Lingkungan Kumuh*: Satu titik yang dicoret akan memicu titik lain ikut dirusak. Jakarta yang ingin menjadi kota global justru terlihat tidak tertib.
*Salurkan Kreativitas ke Tempat yang Tepat*
Kami memahami bahwa setiap orang punya kebutuhan untuk berekspresi. Namun, tembok halte, rambu lalu lintas, dan fasilitas publik bukanlah kanvas.
*Ada tempat yang jauh lebih baik untuk menyuarakan ide, kritik, dan karya:*
*MEDIA SOSIAL.*
Di era digital ini, 1 postingan di Instagram, Threads, TikTok, atau X bisa menjangkau ribuan orang. Tulisan, desain, foto, dan video kamu bisa jadi ruang diskusi, kritik membangun, bahkan menginspirasi.
Daripada mencoret rambu yang hanya dibaca 10 orang dan harus dihapus petugas, lebih baik menulis di medsos yang bisa dibaca jutaan orang dan meninggalkan jejak positif.
*Ayo mulai sekarang:*
1. *Belajar Menulis*: Gunakan medsos untuk menulis opini, puisi, review, atau kritik kebijakan transportasi. Tag @PT_Transjakarta @DishubDKI agar suaramu didengar.
2. *Berkarya Digital*: Desain poster, buat konten edukasi tentang tertib transportasi. Kreativitasmu akan lebih dihargai.
3. *Jadi Warga Digital yang Bertanggung Jawab*: Jempol dan kata-katamu punya kekuatan lebih besar daripada cat semprot di tembok.
“*Tembok Kota Bukan Buku Harian. Layar Ponselmu Adalah Panggung Ekspresimu*”
Mari kita jaga Jakarta bersama. Laporkan aksi vandalisme dan kerusakan fasilitas umum melalui aplikasi JAKI atau call center 112.
Fasilitas umum yang bersih, rapi, dan informatif adalah cerminan warga yang beradab. Saatnya pindah dari coretan di jalanan, ke tulisan di dunia maya.

























