
Jakarta — Pemadaman listrik kembali melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta pada Kamis (23/4/2026) sejak pukul 10.07 WIB. Gangguan yang terjadi di pusat pemerintahan dan ekonomi nasional itu memicu kritik keras terhadap kinerja PT PLN (Persero), sekaligus menimbulkan dampak luas terhadap aktivitas masyarakat dan layanan publik.
Berdasarkan pantauan di lapangan, pemadaman terjadi di berbagai kawasan, meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, hingga Jakarta Utara. Hingga beberapa jam setelah kejadian, pasokan listrik di sejumlah titik dilaporkan belum sepenuhnya pulih.
Salah satu warga di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Aymar, menyebut listrik padam sejak pukul 10.46 WIB dan belum kembali normal hingga siang hari.
“Sudah hampir tiga jam belum juga pulih. Aktivitas jadi terganggu, apalagi air PAM ikut mati,” ujarnya.
Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga menghambat operasional fasilitas umum dan layanan vital. Sejumlah objek penting dilaporkan terdampak, termasuk Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan kantor Badan Pengelola (BP) BUMN, yang mengalami gangguan pelayanan akibat terhentinya pasokan listrik.
Gangguan Pembangkit Picu Blackout
Informasi teknis yang beredar dari UP2B JKB WPO Metro menyebutkan bahwa pemadaman dipicu gangguan pada sistem pembangkitan listrik. Beberapa unit pembangkit dilaporkan mengalami trip, di antaranya Priok Blok-1 (3GT 1ST), serta Blok 4 yang mencakup gangguan pada 4.2 GT dan IBT 2 Priok.
Selain itu, gangguan juga terjadi pada sistem di GI Priok Barat yang memperparah kondisi jaringan. Secara keseluruhan, sistem mengalami defisit daya signifikan, dengan estimasi kekurangan sekitar 700 MW pada Blok 4 dan 425 MW pada Blok 1.
Seorang pejabat di PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya membenarkan adanya gangguan pembangkit yang berdampak pada distribusi listrik.
“Distribusi kena imbasnya, saat ini masih dalam proses penormalan secara bertahap,” ujarnya.
Kritik Keras dan Desakan Evaluasi
Insiden pemadaman berulang di ibu kota memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) sekaligus Koordinator Nasional Relawan Listrik Untuk Negeri (Re-LUN), Teuku Yudhistira, menilai kejadian ini sebagai bentuk kegagalan serius dalam pengelolaan kelistrikan nasional.
“Pemadaman listrik setengah jam saja di Jakarta bisa melumpuhkan aktivitas. Apalagi ini berjam-jam dan berulang, ini sudah kategori luar biasa,” kata Yudhistira.
Ia mendesak pemerintah, termasuk Presiden dan pihak pengawas BUMN, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap PLN. Menurutnya, langkah tegas diperlukan guna memastikan profesionalitas dan keandalan sistem kelistrikan nasional.
Yudhistira juga secara khusus menyoroti kepemimpinan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Ia menilai perlunya penyegaran di tubuh perusahaan pelat merah tersebut.
“Sudah saatnya dilakukan evaluasi serius, termasuk di level pimpinan, agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujarnya.
Tantangan Keandalan Infrastruktur
Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan besar dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di wilayah dengan beban tinggi seperti Jakarta. Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, gangguan listrik sekecil apa pun dapat berdampak sistemik, mulai dari layanan kesehatan, transportasi, hingga aktivitas bisnis.
Pengamat energi menilai, insiden berulang menunjukkan perlunya penguatan sistem cadangan, peningkatan manajemen risiko, serta percepatan modernisasi infrastruktur kelistrikan, termasuk integrasi sistem digital untuk deteksi dini gangguan.
Hingga berita ini diturunkan, PLN masih melakukan proses pemulihan jaringan secara bertahap. Belum ada keterangan resmi terkait estimasi waktu pemulihan total maupun langkah mitigasi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa terulang. (Ril)
















