ACEH TIMUR | TRIBUNEIndonesia.com
Keberadaan PT Asera Sagoesa di wilayah Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, yang sudah puluhan tahun beroperasi, disinyalir tidak memberikan azas manfaat yang nyata bagi masyarakat sekitar. Bahkan, perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut dinilai kerap mengabaikan tanggung jawab sosialnya.
Masyarakat dari tiga desa di sekitar lokasi perusahaan menagih kepedulian sosial terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan. Manager PT Asera, Ir Jailani, saat dikonfirmasi via WhatsApp pada Rabu (8/4/2024) mengatakan, “Saya yang berkuasa di perusahaan.”
Saifuddin Ismail alias Saiful, putra asli Gampong Seuneubok Saboh yang mewakili masyarakat setempat, menyampaikan kepada media ini bahwa sejak beroperasi tahun 2000 hingga 2025, keberadaan PT Asera Sagoesa tidak memberikan manfaat berarti bagi masyarakat.
“Sayangnya, dengan luas lahan sekitar 350 hektare yang berada di Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, keberadaan PT Asera tidak memberi azas manfaat. Bahkan, diduga Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan sudah mati,” ujarnya, Minggu (31/8/2025).
Padahal, salah satu kewajiban perusahaan adalah melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR), sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat tiga desa di Kecamatan Pante Bidari yang terdampak langsung aktivitas perkebunan.
Saifuddin menambahkan, sedikitnya ada tiga desa yang terkena dampak langsung, yakni Desa Seuneubok Saboh, Desa Buket Kareung, dan Desa Buket Bata. Namun hingga kini, kewajiban sosial perusahaan belum terpenuhi.
PT Asera Sagoesa, yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit sejak puluhan tahun lalu, diduga kuat telah mengabaikan kewajiban sosialnya. Saat dikonfirmasi resmi oleh media ini, Manager PT Asera, Ir Jailani, sempat mengarahkan untuk menjumpai Humas PT Asera, yaitu M. Nur alias Geuchik Maknu, mantan Geuchik Buket Bata.
Namun, saat ditemui di kediamannya di Kecamatan Julok, Aceh Timur (5/4), Jailani justru meminta agar pihak media tidak mempublikasikan berita terkait CSR perusahaan. “Lebih baik jangan dipertanyakan lagi soal PT Asera Sagoesa. Saat ini saya sedang banyak disorot oleh berbagai pihak. Mari kita bicarakan saja secara kekeluargaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Seuneubok Saboh, M. Nasir IB, juga mengonfirmasi minimnya kepedulian perusahaan terhadap warganya. “Selama saya menjabat sebagai kepala desa, sepertinya belum pernah ada bantuan dalam bentuk CSR. Kalau pun ada, sifatnya kecil dan tidak signifikan. Misalnya, saat kita minta bantuan semen lima zak, mereka hanya memberi dua zak,” ungkapnya.
Tim media ini juga mengonfirmasi Ketua Forum CSR Kabupaten Aceh Timur, Muhammad Reza, SE. Ia menegaskan, hingga kini PT Asera Sagoesa tidak pernah melaporkan secara resmi besaran maupun bentuk kepedulian sosial yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
“Sejauh ini, Forum CSR Aceh Timur belum pernah menerima berkas maupun arsip laporan dari PT Asera Sagoesa. Artinya, perusahaan ini tidak pernah menyampaikan data resmi terkait pelaksanaan CSR mereka,” tegas Reza.
Dengan tidak adanya laporan resmi dan bukti pelaksanaan program CSR, publik menilai keberadaan PT Asera Sagoesa selama lebih dari dua dekade hanya menimbulkan persoalan sosial dan lingkungan, tanpa memberi kontribusi nyata kepada masyarakat sekitar.
Ditulis oleh: Saipul (SF) | Editor : TribuneIndonesia