Bitung | Tribuneindonesia.com – Satuan Patroli Komando Daerah Angkatan Laut (Satrol Kodaeral) VIII mengerahkan Kapal Angkatan Laut (KAL) Patola VIII-27 untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) terhadap insiden kebakaran kapal MT Mika Zain di perairan Bitung, Minggu (1/11/26).
Sebelum mengerahkan unsur laut ke lokasi kejadian, Komandan Satrol Kodaeral VIII Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D., S.E., M.Tr.Hanla. CRMP. terlebih dahulu meneruskan informasi kebakaran tersebut kepada Komandan Kodaeral VIII, Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla., melalui mekanisme Region VIII Quick Response (R8QR).
Langkah ini menjadi bagian dari prosedur respons cepat dalam menindaklanjuti laporan keadaan darurat di wilayah perairan.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Dansatrol Kodaeral VIII, Kolonel Marvell Marfil Frits E.D., menginstruksikan pengerahan personel menggunakan KAL Patola VIII-27 yang dikomandani Kapten Laut (P) Erman Jayawardaya.
Kapal patroli kemudian begerak menuju perairan di depan PT Sinar Mas Bitung untuk melaksanakan tugas pemantauan dan membantu penanganan kejadian.
Setibanya di lokasi, KAL Patola VIII-27 langsung melakukan penyisiran guna memastikan titik koordinat kapal yang terbakar serta mengamati perkembangan situasi.
Kepulan asap tebal yang menyelimuti kawasan kejadian membuat personel harus meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati selama menjalankan operasi.
Untuk memperoleh gambaran kondisi di sekitar titik kebakaran secara lebih dekat, kru KAL Patola mengerahkan speedboat sebagai unsur pendukung. Tiga personel KAL Patola bersama seorang awak media bergerak mendekati lokasi utama kejadian guna melakukan pemantauan langsung.
Setelah mencapai titik yang memungkinkan, dua personel patroli bersama awak media naik ke anjungan kapal tunda (KT) Bunaken untuk mendapatkan informasi dan memastikan kondisi faktual di lapangan. Langkah tersebut dilakukan guna mendukung pengumpulan data terkait perkembangan penanganan kebakaran kapal.
Peristiwa kebakaran MT Mika Zain sendiri bermula sekitar pukul 17.00 WITA. Saat itu, kapal yang sedang berada di perairan Madidir, Kota Bitung, mengalami gangguan setelah muncul kepulan asap dari bagian ruang mesin. Kondisi tersebut kemudian berkembang hingga menimbulkan kobaran api di atas kapal.
Menghadapi situasi darurat tersebut, pihak kapal segera berkoordinasi dengan PT Pelindo dan PT Pertamina untuk meminta bantuan pengerahan unsur penanganan keadaan darurat, termasuk armada pemadam kebakaran.
Koordinasi ini dilakukan sebagai langkah cepat untuk mencegah kebakaran semakin membesar dan membahayakan aktivitas di kawasan pelabuhan.
Sebagai upaya mengantisipasi penyebaran api ke fasilitas darat maupun kapal lain yang berada di sekitar lokasi, MT Mika Zain kemudian ditarik menjauh dari kawasan permukiman.
Proses penarikan dilakukan menggunakan kapal pandu menuju perairan yang lebih aman, tepatnya di depan kawasan PT AKR, Madidir.
Setelah mencapai lokasi tersebut, kapal menjalani prosedur isolasi dan pendinginan awal untuk mengendalikan potensi penyebaran api. Sementara itu, tim pemandu pelabuhan yang menerima laporan darurat segera menggerakkan sejumlah armada bantuan menuju titik kejadian.

Dalam operasi penanganan tersebut, sejumlah unsur gabungan turut dilibatkan. Di antaranya KAL Patola VIII-27 beserta sekoci, KN P 380 milik Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), KT Bunaken dan KT Tondano milik PT Pelindo Marine Service, serta FB Wisnu III dari PT Pertamina Trans Kontinental.
Seluruh armada kemudian mengambil posisi masing-masing untuk mendukung pelaksanaan pemadaman terpadu sekaligus membantu penyelamatan awak kapal.
Sinergi antarunsur tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan insiden dan menjaga keselamatan personel maupun lingkungan perairan.
Kapten kapal KT Bunaken menjelaskan, keputusan menarik MT Mika Zain ke tengah laut merupakan langkah keselamatan untuk menghindari risiko yang lebih besar di sekitar dermaga.
“MT Mika Zain tadinya sudah sandar di dermaga MNS, tetapi karena mengalami kebakaran hebat, kapal tersebut terpaksa ditarik ke tengah lautan demi keamanan,”
ujarnya saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.
Dalam proses penanganan, petugas gabungan memprioritaskan evakuasi awak kapal sekaligus mengamankan berbagai material penting. Pemadaman utama berhasil diselesaikan sekitar pukul 22.15 WITA, kemudian dilanjutkan dengan proses pendinginan guna memastikan tidak ada lagi potensi penyalaan api.
Meski demikian, petugas masih mendapati sisa asap tipis yang keluar dari bagian ruang mesin. Kondisi tersebut membuat seluruh unsur pendukung tetap meningkatkan pengawasan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api.
Hingga laporan ini disusun, unsur pendukung SAR masih bersiaga di lokasi kejadian. Tim SAR gabungan yang menggunakan KT Tondano juga terus melaksanakan proses evakuasi lanjutan secara bertahap. Berdasarkan data resmi di lapangan, insiden kebakaran MT Mika Zain tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian personel.
Pengerahan KAL Patola VIII-27 dalam operasi SAR ini menjadi bagian dari respons cepat Satrol Kodaeral VIII bersama unsur terkait dalam menangani keadaan darurat di wilayah laut Bitung. (kiti)









