BEKASI/Tribuneindonesia.com
Jangan sampai peradaban bangsa ini tertutup dan hilang begitu saja. Jangan sampai negeri ini hanya tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang kaya lalu runtuh. Kita tidak hidup untuk menyenangkan penguasa. Kita tidak berdiri di dunia ini hanya untuk memikirkan kenyamanan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Kita tidak memegang kekuasaan untuk menakuti rakyat — rakyat yang dari Indonesia Timur, dari pulau-pulau terluar, dari daerah-daerah yang terjauh, yang sesungguhnya membangun negeri ini dengan keringat dan kekayaan tanahnya.
Kiranya peradaban ini dibangun menjadi lebih baik — satu kesatuan dalam kemajuan ekonomi, satu kesatuan dalam keadilan, satu kesatuan dalam kesejahteraan yang merata sampai ke ujung negeri. Kita tidak boleh bermain-main dengan nasib bangsa. Karena suatu hari nanti, sejarah akan menulis: apakah bangsa ini berdiri tegak dengan kemajuan yang adil — atau bangsa ini berakhir dengan ratapan panjang rakyat yang tidak pernah didengar. Sabtu,15 Agustus 2026
Lihatlah ke benua Afrika. Banyak kerajaan besar di sana yang dahulu kaya raya, luas wilayahnya, berlimpah sumber dayanya. Tetapi penguasanya hanya berpikir sendiri, hanya menyenangkan lingkaran kekuasaan, melupakan rakyat di daerah-daerah terpencil. Mereka mengira kekayaan itu akan mengalir terus selamanya. Lalu hari itu tiba — kekayaan habis, rakyat pergi, dan peradaban yang besar itu runtuh tanpa sisa. Hanya tinggal catatan: di sini pernah berdiri bangsa yang kaya, tetapi miskin keadilan.
Almarhum Abdurrahman Wahid, Gus Dur, pernah memperingatkan: “Sejarah tidak pernah salah mencatat. Bangsa yang memakmurkan penguasa dan melupakan rakyat, pasti ditulis dengan tinta yang paling gelap — sebagai bangsa yang gagal memahami arti kemerdekaan.”
Pengamat sosial Rocky Gerung menambahkan: “Jangan tertipu oleh kekayaan yang ada di tangan. Itu bukan milik pemimpin — itu titipan rakyat. Kalau titipan itu dipakai untuk menakuti dan menyusahkan pemiliknya, maka peradaban itu sudah menandatangani akhir ceritanya sendiri.”
Kita tidak ingin Indonesia dicatat demikian. Kita ingin sejarah menulis: mereka pernah mengalami ujian, pernah lalai, tetapi kemudian bangkit — membangun keadilan dari Sabang sampai Merauke, menyejahterakan yang paling terluar, dan menyadarkan bahwa kekuasaan itu bukan untuk ditakuti, melainkan untuk memberi kehidupan.
Maka pilihlah sekarang — sebelum pena sejarah itu diturunkan. Apakah kita akan ditulis dengan ratapan rakyat yang ditinggalkan? Atau ditulis sebagai bangsa yang akhirnya memahami: kemajuan sejati adalah ketika yang paling jauh juga merasakan keadilan yang sama?





















