Kemerdekaan Sejati — Hak Setiap Daerah, Kewajiban Setiap Pemimpin

- Editor

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 22:29

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEKASI/Tribuneindonesia.com

Perjuangan membangun kemerdekaan itu belum selesai di pulau-pulau terluar. Kemerdekaan adalah hak setiap warga bangsa, di mana pun mereka berada — dari Sabang sampai Merauke, di Indonesia Timur, dan di seluruh wilayah sekitarnya. Setiap rakyat berhak membangun peradaban di tanah kelahirannya sendiri. Bukan kemerdekaan yang hanya dirasakan di pusat kekuasaan, tetapi kemerdekaan yang dirasakan dalam kesejahteraan, dalam kehidupan yang layak, dalam masa depan yang terjamin. Sabtu 15 Agustus 2026.

Almarhum Abdurrahman Wahid, Gus Dur, pernah berkata dengan lurus: “Keadilan tidak boleh berhenti di Jawa. Kalau kemerdekaan hanya dirasakan di pusat, maka itu bukan kemerdekaan — itu hanya perayaan sebagian orang.”

Bila kebangsaan dan negeri ini tidak memberikan kesejahteraan yang baik kepada rakyatnya, maka rakyat tidak kehilangan haknya — hak rakyat itu tidak bisa digugat, tidak bisa dihapus, tidak bisa ditawar. Hak rakyat adalah cinta kepada tanah air, adalah patriotisme yang sesungguhnya — membangun negerinya sendiri, karena mereka yang paling tahu apa yang dibutuhkan di tempat mereka berpijak.

Maka berhentilah hanya menyusun proyek demi proyek. Berhentilah hanya berbicara tanpa terlaksana, hanya berjanji tanpa terealisasi. Sampai kapan sumber daya alam di bumi pertiwi diambil, dikelola, dibawa ke mana-mana — tetapi tidak dikembalikan untuk membangun kesejahteraan di daerah tempat ia diambil? Berapa lama lagi rakyat di daerah kaya sumber daya justru hidup dalam kekurangan?

Pengamat sosial Rocky Gerung menegaskan: “Jangan bangun proyek di atas penderitaan rakyat. Sumber daya alam itu titipan, bukan hak pejabat. Kalau diambil dari daerah lalu tidak dikembalikan ke rakyat di sana, itu namanya perampasan yang disembunyikan di balik nama pembangunan.”

Baca Juga:  Polsek Natar Ungkap Kasus Dugaan Tindak Pidana Keterangan Palsu

Banyak hal yang harus diperjuangkan. Dan ketahuilah — kekayaan alam itu tidak selamanya ada. Suatu hari nanti akan habis. Maka sebelum itu terjadi, bangunlah peradaban yang sesungguhnya — bukan di atas kertas, bukan di atas panggung, tetapi di kehidupan nyata rakyat. Janganlah negeri ini tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang kaya raya lalu miskin peradaban — cerita yang datang lalu hilang tanpa jejak kebaikan.

Lihatlah contoh bangsa-bangsa lain. Lihatlah Hongkong — dahulu dijajah, tidak kaya sumber daya alam, wilayahnya sempit. Tetapi mereka membangun manusia, membangun kesejahteraan, membangun keadilan. Tidak banyak bicara, tidak banyak janji — mereka melaksanakan. Itulah sebabnya hari ini mereka berdiri luar biasa di mata dunia.

Mengapa kita tidak mampu melakukan hal yang sama? Karena kegagalan ada di tangan mereka yang memimpin. Kegagalan eksekutif yang hanya menyusun program. Kegagalan legislatif yang hanya duduk bermusyawarah tanpa hasil yang nyata. Kegagalan lembaga yudikatif yang menjaga aturan tetapi lupa menjaga keadilan bagi rakyat kecil. Mereka duduk, mereka berencana, mereka membuat proyek demi proyek — tetapi penderitaan rakyat tetap ada di mana-mana.

Maka mari para pemimpin, dengarkanlah. Kemerdekaan sejati bukanlah pidato di atas panggung. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat di Indonesia Timur, di pulau-pulau terluar, di daerah-daerah yang terjauh — mereka juga merasakan kesejahteraan yang sama. Dan ketika itu terjadi, barulah bangsa ini benar-benar merdeka

Berita Terkait

Waka Polres R4 Respons Cepat Informasi Dugaan Peredaran Cap Tikus di Waisai, Kasat Narkoba Diperintahkan Lidik
Udara Waisai Diselimuti Asap, Bupati Raja Ampat Kerahkan BPBD, TNI-Polri Lindungi Pelajar
Mestinya Pemerintah Aceh Malu,Pada Jasa warisanya Habib Bugak
Jepang Memberi Makan Gratis Tanpa Keracunan- Mengapa Kita Tidak Bisa? Pemimpin Harus Mencicipi Dulu!
Jangan Menjadi Pemimpin — Gubernur Atau Siapa Pun — Untuk Menciptakan Kebohongan Kepada Rakyat
Korupsi Menggurita — Mengapa Koruptor Diperlakukan Istimewa, Rakyat Yang Disiksa?
Ketika Tanah Leluhur Diambil — Tanda Peradaban yang Akan Hancur
Belajarlah kepada India — Bukan Meniru, Tapi Membangun Peradaban Sendiri
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:32

RSUD dr. Fauziah Bireuen Rampungkan Survei Akreditasi Hari Kedua oleh LARS DHP

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:28

Usung Tema “Bireuen Bershalawat”, Ulama Apresiasi Langkah Pemda di HUT ke-27

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:25

Jalin Kedekatan dengan Ulama, Kapolsek Darul Ihsan: Keamanan Butuh Dukungan Semua Pihak

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:39

Wapres Lulusan SMP, Wilson Lalengke: Wajar, Ini Cerminan Rata-rata IQ Manusia Indonesia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:35

Bandar Lampung Jadi Panggung Dunia, 19 Tahun PPWI Tegaskan Kekuatan Pewarta Warga untuk Perdamaian

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:03

Perkuat Keselamatan Lalu Lintas, Jasa Raharja Cabang Jakarta Barat Aktif Dorong Kolaborasi FLLAJ Jakarta Barat

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:46

Sinergi Kepolisian dan Ulama, Kapolsek Darul Ihsan Sambangi Pimpinan Dayah Al Maimanah Perkuat Kamtibmas

Jumat, 9 Oktober 2026 - 12:40

IPNU Bireuen Desak Polisi Usut Tuntas Dugaan Penganiayaan Siswi oleh guru

Berita Terbaru