Bitung | Tribuneindonesia.com –Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung saat ini tengah berada dalam tren positif untuk meningkatkan standar kebersihan wilayah, Sabtu (25/04/26).
Langkah masif ini merupakan tindak lanjut langsung atas instruksi dan apresiasi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia untuk memperketat tata kelola lingkungan demi kenyamanan publik.
Namun, di tengah semangat pembersihan tersebut, sebuah pemandangan kontradiktif justru mencoreng estetika kota.
Sebuah lokasi yang disinyalir menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) bayangan atau liar muncul di wilayah Kecamatan Matuari, Kota Bitung, yang kini menjadi sorotan tajam masyarakat setempat.
Keberadaan tumpukan sampah ilegal ini letaknya sangat memprihatinkan karena berdekatan langsung dengan kawasan permukiman padat penduduk.
Hal ini memicu kegaduhan di tengah warga yang merasa kenyamanan lingkungan mereka terusik oleh tata kelola limbah yang tidak pada tempatnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tumpukan sampah tersebut meluber hingga ke ruas jalan utama yang menjadi akses vital mobilitas warga.
Tak hanya merusak pemandangan visual Kota Bitung yang sedang ditata, kondisi ini juga dinilai membahayakan para pengguna jalan yang melintas setiap harinya.
Dampak yang ditimbulkan bukan sekadar masalah estetika semata, melainkan sudah mengarah pada ancaman kesehatan serius.
Bau amis yang menyengat serta aroma busuk dari sampah yang berhamburan menjadi “menu” harian yang harus dihirup oleh warga sekitar maupun pengendara.
Seorang warga berinisial FM yang kerap melintasi jalur tersebut mengekspresikan kekecewaannya.
Ia mengeluhkan aroma yang sangat menusuk hidung, yang menurutnya sudah berada pada level yang sulit ditoleransi bagi orang yang beraktivitas di area tersebut.
”Kami sebagai warga di sini sudah berulang kali melaporkan adanya tumpukan sampah ini kepada pemerintah setempat. Namun, kenyataannya hingga detik ini seolah belum ada tindakan nyata atau solusi konkret yang diambil,”
ungkap FM dengan nada kecewa saat diwawancarai di lokasi.
Keluhan serupa juga mencuat terkait jangkauan polusi udara dari sampah tersebut yang telah masuk ke area rumah-rumah warga.
Bau menyengat ini dilaporkan semakin menjadi-jadi ketika wilayah tersebut diguyur hujan, di mana kelembapan udara memperparah aroma tidak sedap di sekitar lokasi.
Warga menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap dampak kesehatan jangka panjang, terutama bagi anak-anak yang tinggal di radius dekat TPS bayangan tersebut.
Lingkungan yang tercemar dikhawatirkan menjadi sarang penyakit yang dapat mengancam imunitas warga jika terus dibiarkan tanpa penanganan.
Melalui kondisi ini, masyarakat mendesak agar Pemkot Bitung segera turun tangan melakukan pembersihan total dan pengawasan ketat di lokasi tersebut.
Warga berharap janji kebersihan kota bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang membebaskan mereka dari belenggu pencemaran lingkungan. (kiti)
















