Manado, Sulut|TribuneIndonesia.com
Sejarah mencatat sebuah fragmen heroik dari Bumi Nyiur Melambai saat rakyat Sulawesi Utara melancarkan aksi nekat menyerbu markas militer Belanda di Teling, Manado. Peristiwa yang dikenal sebagai “Peristiwa Merah Putih” ini meletus tepat pada 14 Februari 1946, Rabu (11/02/26).
Aksi heroik ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah gerakan terstruktur yang melibatkan berbagai elemen bangsa.
Pasukan KNIL dari kalangan pribumi, barisan pejuang, hingga laskar rakyat bersatu padu dalam satu komando perjuangan.
Tujuan utama mereka hanya satu, merebut kembali kedaulatan atas wilayah Manado, Tomohon, dan Minahasa dari tangan penjajah.
Ketegangan memuncak saat massa mulai merangsek ke arah tangsi militer yang menjadi simbol kekuatan Belanda.
Perlawanan ini dipicu oleh harga diri bangsa yang terusik. Rakyat Sulawesi Utara geram terhadap provokasi licik tentara Belanda yang menyebarkan propaganda bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah klaim sepihak untuk wilayah Sumatera dan Jawa.
Masyarakat lokal ingin membuktikan bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 adalah milik seluruh nusantara, dari Sabang hingga Merauke.
Semangat ini membakar tekad mereka untuk menolak segala bentuk aneksasi kembali oleh NICA.
Jika menilik ke belakang, euforia kemerdekaan sebenarnya terlambat sampai di utara Sulawesi.
Berita teks proklamasi baru menyentuh telinga rakyat di wilayah ini pada tanggal 21 Agustus 1945.
Meski terlambat, respons masyarakat sangat masif. Tanpa komando panjang, bendera merah putih langsung berkibar di berbagai sudut kota, menandai berakhirnya era pendudukan Jepang di tanah Minahasa.
Pejuang lokal bergerak cepat menduduki kantor-kantor pemerintahan. Mereka juga berhasil melucuti senjata sisa-sisa tentara Jepang yang saat itu sudah kehilangan arah setelah kekalahan di Perang Pasifik.
Namun, stabilitas tersebut tidak bertahan lama. Memasuki awal Oktober 1945, suasana kembali mencekam seiring mendaratnya pasukan Sekutu yang memboncengi NICA di pelabuhan Sulawesi Utara.
Kedatangan mereka segera mengubah peta kekuatan. Belanda yang berambisi menguasai kembali kekayaan Manado mulai melakukan tekanan militer terhadap pemerintahan sipil yang baru seumur jagung.
Rakyat Manado tidak tinggal diam dan memilih jalur konfrontasi. Namun, keunggulan persenjataan Sekutu dan Belanda memaksa para pejuang mundur, sehingga Manado sempat jatuh kembali ke pelukan penjajah.
Kondisi ini memicu lahirnya rencana kontra-serangan. Dua tokoh militer karismatik, Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu dan Sersan S.D. Wuisan, mulai menggalang kekuatan di bawah tanah.
Keduanya berkolaborasi dengan Bernard Wilhelm Lapian, seorang politikus sipil kawakan. Kerja sama antara militer pribumi dan tokoh politik ini menjadi fondasi kuat rencana pengambilalihan markas Belanda.
Strategi matang mulai disusun sejak 7 Februari 1946. Mereka memetakan kelemahan pertahanan di Tangsi Teling dan mengoordinasikan gerakan laskar rakyat di luar barak militer.
Namun, rencana tersebut nyaris kandas di tengah jalan. Sesaat sebelum serangan besar dilancarkan, Belanda mencium aroma pemberontakan dan menangkap Charles Taulu serta S.D. Wuisan.
Kehilangan pimpinan utama tidak menyurutkan nyali para pejuang. Komando lapangan segera diambil alih oleh Mambi Runtukahu, seorang anggota KNIL pro-Republik yang memiliki pengaruh besar di kalangan prajurit Minahasa.
Di bawah kepemimpinan Runtukahu, penyerbuan ke tangsi militer Belanda pecah secara dramatis. Mereka berhasil menjebol pertahanan lawan dan membebaskan para pimpinan yang tengah ditawan, termasuk Taulu dan Wuisan.
Momen paling ikonik terjadi di puncak gedung markas militer. Para pejuang menurunkan bendera Belanda yang berwarna merah-putih-biru, lalu merobek bagian birunya dengan penuh amarah.
Warna merah dan putih yang tersisa kemudian dikibarkan kembali ke angkasa. Sorak-sorai kemenangan membahana, menandakan bahwa otoritas Belanda di Manado telah runtuh di tangan rakyat sendiri.
Dalam aksi tersebut, para pejuang berhasil menawan pejabat tinggi Belanda.
Nama-nama seperti Letnan Verwaayen, Kapten Blom, hingga Residen Coomans de Ruyter tak berkutik saat digelandang oleh pasukan Merah Putih.
Sayangnya, kejayaan ini hanya seumur jagung. Pada Maret 1946, Belanda mengirimkan bantuan besar-besaran melalui kapal perang Piet Hein yang membawa satu batalyon pasukan tambahan.
Kekuatan pejuang akhirnya melemah setelah Belanda menggunakan siasat perundingan palsu pada 11 Maret untuk menangkap kembali para tokoh kunci, mengakhiri sementara babak heroik di Manado tersebut. (Talia)












