Bitung |Tribuneindonesia.com – Dinas Pariwisata Kota Bitung resmi merilis laporan dampak ekonomi penyelenggaraan Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 yang berlangsung selama delapan hari, mulai 3 hingga 10 Oktober 2026, Selasa (13/10/26).
Perhelatan tahunan yang terpusat di kawasan Satrol Kodaeral VIII Kota Bitung tersebut terbukti berhasil menggairahkan perekonomian daerah melalui transaksi pasar dan kunjungan wisatawan secara masif.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bitung, Pingkan S. Kapoh, S.Pt., MAP., mengonfirmasi bahwa sebanyak 47 tenant Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) beserta sejumlah tenant Expo berhasil membukukan estimasi omzet mencapai Rp1 miliar di Zona Inti.
Pemerintah Daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta untuk festival ini, namun investasi tersebut kembali ke tengah masyarakat dalam bentuk pendapatan UMKM yang nilainya menembus hingga Rp1,5 miliar.
Nilai perputaran uang tersebut berpotensi melonjak jauh lebih besar karena belum menghitung aktivitas ekonomi para pedagang dan pelaku usaha yang beroperasi di luar kawasan utama maupun di sepanjang jalan akses festival.
Selain sektor kuliner dan retail, masyarakat setempat juga memetik keuntungan langsung dari penyediaan jasa perparkiran kendaraan yang estimasi pendapatannya diperkirakan mencapai setengah dari total perolehan Zona Inti FPSL.
Puncak kemeriahan festival yang berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menjadi magnet utama yang menyedot perhatian warga dari berbagai penjuru wilayah.
Sirkulasi pengunjung yang terus bergerak masuk dan keluar kawasan Satrol Kodaeral VIII sejak siang hingga tengah malam mencatatkan angka kunjungan fantastis, yakni berkisar antara 44.000 hingga 50.000 orang.
Panitia penyelenggara menyajikan beragam mata acara menarik pada hari pamungkas, mulai dari pertunjukan seni budaya, Tuna and Kolintang Experience, hingga hiburan panggung musik pada malam hari.
Daya tarik utama pada puncak acara adalah Sailing Pass parade perahu yang berkolaborasi secara memukau dengan armada kapal peserta MARPOLEX 2026.
Lonjakan pengunjung pada malam puncak tidak hanya menyuguhkan hiburan visual, tetapi juga membuka keran rezeki bagi para pedagang kuliner, penyedia jasa kreatif, dan pelaku usaha jasa pendukung lainnya.
FPSL 2026 menerapkan pola pembiayaan baru yang mengedepankan efisiensi serta kemandirian anggaran daerah, yaitu dengan skema 80 persen dana non-APBD dan 20 persen APBD.
Langkah efisiensi anggaran tersebut diwujudkan dengan memprioritaskan penampilan musisi, seniman, dan talenta lokal Bitung untuk mengisi panggung hiburan utama ketimbang memboyong artis nasional.
Sejumlah korporasi dan lembaga besar turut menyokong suksesnya perhelatan ini melalui kemitraan strategis, di antaranya Bank Indonesia, Pelindo, PT Meares Soputan Mining, PT Mitra Jaya Samudera, Coca-Cola, dan Mayora.
Meskipun lebih memberdayakan potensi lokal pada tahun ini, penyelenggara tetap membuka peluang untuk menghadirkan artis tingkat nasional pada ajang FPSL di masa mendatang seiring menguatnya kemandirian finansial festival.
Melalui usung tema “Together in Harmony”, FPSL 2026 membuktikan bahwa festival budaya tak sekadar menjadi panggung hiburan rakyat, melainkan penggerak ekosistem ekonomi kreatif yang memberi dampak nyata bagi Kota Bitung. (kiti)











