Deli Serdang | TribuneIndonesia.com — Pagi yang seharusnya tenang di Desa Rugemuk, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Selasa 10 Maret 2026 berubah menjadi hari penuh duka. Sebuah rumah sederhana di Dusun I dilalap si jago merah, meninggalkan kisah pilu yang membuat siapa pun yang mendengarnya menahan air mata.
Di rumah yang kini tinggal puing itu, sepasang suami istri lanjut usia, Arifin Siregar (79) dan Rohani Lubis (74), menghembuskan napas terakhir mereka. Bukan hanya meninggal dalam kebakaran, keduanya ditemukan dalam keadaan saling berpelukan, seakan menegaskan bahwa cinta dan kesetiaan mereka tak terpisahkan, bahkan ketika maut datang menjemput.
Sekitar pukul 09.30 WIB, ketenangan Desa Rugemuk mendadak pecah. Asap hitam pekat membumbung tinggi dari rumah pasangan lansia tersebut. Warga yang melihat kejadian itu berteriak meminta pertolongan, namun kobaran api dengan cepat membesar dan melahap bangunan kayu itu.
Menurut keterangan warga sekitar, saat api mulai menjalar ke seluruh bagian rumah, Arifin Siregar sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Namun lelaki renta itu memilih kembali masuk ke dalam rumah yang mulai terbakar.
Di dalam kamar, istrinya Rohani Lubis diketahui sedang terbaring sakit dan tidak mampu bergerak.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Arifin berusaha menjangkau sang istri. Dengan langkah tertatih dan tenaga yang tersisa, ia masuk ke kamar yang mulai dipenuhi asap dan panas menyengat. Ia tidak ingin meninggalkan perempuan yang telah menemaninya menjalani hidup selama puluhan tahun.
Kobaran yang semakin membesar menutup semua jalan keluar. Rumah itu perlahan berubah menjadi lautan api. Upaya penyelamatan yang dilakukan Arifin berubah menjadi perjalanan terakhir mereka berdua.
Saat api akhirnya berhasil dipadamkan, warga yang menyaksikan proses evakuasi tak kuasa menahan tangis.
Di dalam rumah yang telah hangus, tubuh Arifin dan Rohani ditemukan saling berpelukan.
Seolah dalam detik-detik terakhirnya, Arifin memeluk sang istri dengan erat, melindunginya dari kobaran api yang mengepung. Mereka pergi bersama, sebagaimana mereka menjalani hidup bersama selama puluhan tahun.
Suasana di lokasi kejadian dipenuhi isak tangis. Banyak warga yang mengenal pasangan lansia itu sebagai pribadi yang sederhana dan penuh kasih.
“Kesetiaan itu benar-benar ada. Bapak itu sebenarnya bisa keluar menyelamatkan diri, tapi dia memilih kembali masuk karena istrinya sakit. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya,” ujar salah seorang warga dengan suara bergetar.
Bagi warga Desa Rugemuk, kisah pasangan ini bukan sekedar tragedi kebakaran. Ini adalah kisah cinta yang begitu dalam, yang bertahan hingga akhir hayat.
Tak lama setelah kebakaran terjadi, dua unit mobil pemadam kebakaran dari Pos Lubuk Pakam tiba di lokasi dan langsung melakukan upaya pemadaman.
Petugas berjibaku menjinakkan api yang terus membesar. Sekitar pukul 10.30 WIB, kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan.
Rumah yang selama ini menjadi tempat pasangan lansia itu menghabiskan hari-hari tua mereka sudah rata dengan tanah. Yang tersisa hanyalah puing-puing kayu yang menghitam, serpihan atap yang runtuh, dan kenangan yang kini berubah menjadi duka.
Di antara puing-puing itu, warga berdiri terdiam. Banyak yang menundukkan kepala, sebagian tak kuasa menahan air mata.
Sebuah rumah kecil yang dulu dipenuhi cerita kehidupan kini hanya meninggalkan kisah cinta terakhir yang begitu menyayat hati.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran yang merenggut nyawa pasangan lansia tersebut masih belum diketahui. Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber api yang menghanguskan rumah itu.
Namun bagi warga Desa Rugemuk, penyebab kebakaran bukan lagi satu-satunya hal yang membekas di hati mereka.
Yang akan selalu mereka ingat adalah seorang suami yang memilih kembali ke dalam kobaran api demi istrinya.
Dan seorang istri yang mengakhiri hidupnya dalam pelukan lelaki yang setia menemaninya hingga napas terakhir.
Di tengah tragedi yang begitu menyakitkan, kisah Arifin Siregar dan Rohani Lubis menjadi pengingat tentang arti cinta sejati — cinta yang tidak pergi saat bahaya datang, cinta yang tetap bertahan bahkan ketika maut berdiri di depan mata.
Ilham Gondrong


















