Puluhan Dapur SPPG Badan Gizi Nasional di Aceh Tenggara Diduga Beroperasi Tanpa Sertifikat Laik Higienis

- Editor

Selasa, 10 Maret 2026 - 01:45

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTA CANE  Selasa (10/3/2026) – Operasional puluhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang merupakan bagian dari program Badan Gizi Nasional di Kabupaten Aceh Tenggara kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, berdasarkan data yang diperoleh dari daftar SPPG di wilayah tersebut, diduga sejumlah dapur telah beroperasi meskipun belum memiliki sertifikat laik higienis sanitasi sebagaimana dipersyaratkan dalam standar pengolahan makanan.

Dari dokumen yang beredar, tercatat sekitar 42 dapur SPPG tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara. Namun dalam daftar tersebut terlihat hanya beberapa dapur yang ditandai secara khusus telah memiliki sertifikat higienis, sementara puluhan lainnya tidak tercantum memiliki sertifikasi tersebut.

Ironisnya, berdasarkan penelusuran informasi yang dihimpun, sejumlah dapur yang belum memiliki sertifikat laik higienis tersebut diduga sudah menjalankan aktivitas operasional, termasuk pengolahan dan penyediaan makanan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar keamanan pangan serta pengawasan kesehatan dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi tersebut.

Sertifikat Higienis Jadi Syarat Wajib

Dalam ketentuan kesehatan lingkungan, setiap tempat pengolahan makanan diwajibkan memenuhi standar sanitasi sebelum diizinkan beroperasi. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga, yang menyebutkan bahwa setiap penyedia makanan harus memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi serta memiliki sertifikat laik higienis dari instansi kesehatan yang berwenang.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan menegaskan bahwa setiap penyelenggara produksi dan penyediaan makanan wajib menjamin keamanan, mutu, serta kelayakan pangan agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Jika dapur pengolahan makanan beroperasi tanpa memenuhi standar tersebut, maka berpotensi menimbulkan berbagai risiko kesehatan, mulai dari kontaminasi makanan, penyebaran bakteri, hingga potensi keracunan makanan.

Sekda Aceh Tenggara Belum Berhasil Dikonfirmasi

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara yang juga diketahui sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) program tersebut belum berhasil dikonfirmasi terkait dugaan operasional dapur SPPG tanpa sertifikat laik higienis.

Upaya konfirmasi telah dilakukan dengan menghubungi nomor telepon yang bersangkutan, namun panggilan tersebut tidak tersambung. Selain itu, pesan yang telah dikirim melalui aplikasi komunikasi juga tidak mendapatkan tanggapan, meskipun status pesan diketahui telah terbaca atau centang dua.

Baca Juga:  Rayakan Libur Akhir Tahun, Quest Vibe Dewi Sri Bali Tawarkan Promo Special Dengan Pengalaman Menginap Berkesan

Belum adanya tanggapan dari pihak pemerintah daerah membuat publik hingga kini belum memperoleh penjelasan resmi mengenai kondisi sebenarnya di lapangan.

Sekjen LKGSAI: Jangan Abaikan Standar Kesehatan

Menanggapi temuan tersebut, Sekretaris Jenderal LSM DPD Lembaga Komando Garuda Sakti Aliansi Indonesia (LKGSAI) Aceh Tenggara, Jamal.B, angkat bicara dengan nada tegas. Ia menilai operasional dapur pengolahan makanan tanpa sertifikat laik higienis merupakan persoalan serius yang harus segera mendapat perhatian.

“Jika benar dapur SPPG sudah beroperasi tanpa memiliki sertifikat laik higienis, maka hal ini tidak boleh dianggap sepele. Ini menyangkut keselamatan kesehatan masyarakat yang mengonsumsi makanan tersebut,” tegas Jamal.B.

Menurutnya, setiap dapur pengolahan makanan wajib memenuhi standar sanitasi dan kesehatan sebelum dioperasikan. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga menyangkut perlindungan kesehatan masyarakat secara luas.

Hak Publik Mendapatkan Informasi

Jamal.B juga menyoroti pentingnya transparansi pemerintah daerah dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait program tersebut.

Ia menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi terkait penyelenggaraan program pemerintah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Selain itu, Peraturan Komisi Informasi (PERKI) Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik juga menegaskan bahwa badan publik wajib memberikan informasi secara terbuka, cepat, dan transparan kepada masyarakat.

“Program pemerintah harus dijalankan secara transparan. Jika ada persoalan di lapangan, maka pemerintah wajib memberikan penjelasan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan spekulasi,” ujarnya.

Desak Evaluasi Menyeluruh

Lebih lanjut, Jamal.B mendesak agar pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG yang beroperasi di Aceh Tenggara.

Menurutnya, evaluasi tersebut penting untuk memastikan bahwa seluruh dapur benar-benar telah memenuhi standar kesehatan, sanitasi, serta keamanan pangan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Program pemenuhan gizi ini sangat baik tujuannya. Namun pelaksanaannya harus tetap mengikuti aturan yang berlaku. Jangan sampai program yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat justru menimbulkan risiko baru,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait di Kabupaten Aceh Tenggara belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan operasional puluhan dapur SPPG yang belum memiliki sertifikat laik higienis tersebut.***

Berita Terkait

​Sinergi TNI-Polri di Bitung: Bersama Donor Darah demi Kemanusiaan di Hari Bhayangkara
Sejumlah Lomba Hiasi Peringatan Harlah IPARI Ke 3 di Bireuen
HRD Kembali Serahkan Usulan Pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran Umuslim Kepada Menteri PU
Tekan Angka Kecelakaan, Jasa Raharja Kantor Wilayah Utama DKI Jakarta melakukan safety campaign
Jum’at Berkah Berbagi Bersama BRI Pondok Gede
Kemeriahan Ganda di Polres Bitung: Sambut Hari Bhayangkara ke-80 dan Rayakan Ultah Ketua Bhayangkari
​Presiden Buka PENAS XVII di Gorontalo, Hengky Honandar Boyong Kontingen Bitung Demi Sinergi Pangan Nasional
​Hari Bhayangkara ke-80: Polres Bitung Teguhkan Semangat Presisi Lewat Ziarah Pahlawan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 07:05

Viral dan Dinilai Memalukan! Puluhan Emak-Emak Joget DJ Saat Demo di Kantor Bupati Aceh Singkil, Tuai Kritik Keras Publik

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:05

Baitulmal Simeulue Penyaluran Zakat Tahun 2024 Melebihi Target, Di Tahun 2026 Target 12 Milyar

Jumat, 22 Mei 2026 - 10:53

Baitul Mal Simeulue Penyaluran Zakat Tahun 2024 Melebihi Target, Di Tahun 2026 Target 12 Milyar

Selasa, 19 Mei 2026 - 04:58

A Shared Trust for Beloved Simeulue” Tanggung jawab yang diemban bersama untuk Simeulue yang kita cintai”

Kamis, 16 April 2026 - 14:55

Kejari Gianyar Gelar Rapat Koordinasi PAKEM 2026,perkuat Pengawasan Aliran Kepercayaan

Senin, 6 April 2026 - 07:11

Sidak Ojek Besakih untuk Menjaga Ketertiban dan kenyamanan Pemedek

Sabtu, 4 April 2026 - 00:30

Sidak Pedagang di Kawasan Besakih, BPOM Tak Temukan zat Berbahaya

Kamis, 19 Februari 2026 - 01:39

Cahaya Tarawih di Baitul Quddus

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Jejak Pengabdian Para Bupati Deli Serdang Dikenang Jelang Usia 80 Tahun

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:54

Pemerintahan dan Berita Daerah

76 Kepala Desa Dilantik, Asri Ludin Tekankan Integritas Kelola Dana Desa

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:09