Program sekolah berasrama tersebut menjadi langkah baru SMPN 2 Bireuen dalam menggabungkan pendidikan umum dengan pendidikan agama berbasis dayah. Untuk tahap awal, sekolah membuka penerimaan peserta didik baru sebanyak 64 siswa laki-laki yang akan ditempatkan dalam dua kelas.

Kepala SMPN 2 Bireuen peusangan Ibrahim Harun, S.Pd., M.Sm., mengatakan program tersebut merupakan upaya memperluas layanan pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan ilmu agama.

“Tahun ini SMP Negeri 2 membuka program Boarding School. Kita buka penerimaan siswa baru untuk dua kelas sebanyak 64 siswa, khusus laki-laki,” jelas Ibrahim, Kamis (26/8/2026).

Program ini memiliki sejumlah persyaratan khusus. Salah satunya, calon peserta didik harus berasal dari Kabupaten Bireuen dan memiliki Kartu Keluarga (KK) Bireuen.

Konsep tersebut dirancang agar siswa tidak hanya unggul dalam pelajaran umum, tetapi juga memiliki kemampuan membaca dan memahami ilmu keagamaan. Pada malam hari, siswa akan mengikuti kegiatan pengajian dan pendidikan dayah sebagaimana pola pendidikan di pesantren.

“Anak-anak nanti waktu malam hari mereka mengaji kitab sebagaimana ada di pesantren. Kita juga bisa mengembangkan kemampuan anak menghafal Al-Qur’an,” ujarnya.

Kehadiran Boarding School bukan untuk menggantikan pendidikan umum, melainkan mengintegrasikan pendidikan nasional dengan pendidikan agama.

Selama ini, kata dia, sekolah umum lebih banyak memberikan pendidikan berdasarkan kurikulum nasional. Melalui program Boarding School, pelayanan tersebut diperluas dengan memasukkan pendidikan Al-Qur’an, tahfiz dan pendidikan kedayahan.

Baca Juga:  Unimed Buka Jalur SNBP 2025, Ini Jadwal dan Syaratnya

“Minimal anak didik bisa membaca kitab kuning, sehingga bisa memahami ilmu-ilmu yang ada dalam kitab,” katanya.

Dari sisi fasilitas, SMPN 2 Bireuen telah menyiapkan berbagai sarana penunjang. Di antaranya perpustakaan, ruang belajar dengan akses internet penuh, laboratorium IPA, laboratorium komputer dan PAI, serta fasilitas olahraga seperti lapangan basket, voli, futsal dan bulu tangkis.

Untuk menunjang kehidupan siswa selama berada di asrama, sekolah juga menyediakan UKS, ruang terbuka hijau, pengawasan CCTV, ruang serbaguna, dapur dan kantin, asrama ber-AC serta mushala.

Sementara untuk tenaga pendidik, kelas umum pada pagi hari akan diisi sebagian besar oleh guru yang telah mengajar di SMPN 2 Bireuen. Namun, guru yang akan ditempatkan di kelas Boarding School akan melalui proses seleksi untuk memastikan kemampuan mereka dalam mengelola sistem pendidikan berasrama.

Jika diperlukan, sekolah juga akan melakukan penyesuaian tenaga pendidik dari luar sekolah melalui kewenangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.

Termasuk menghadirkan tenaga pengajar khusus Al-Qur’an, tahfiz dan guru dayah untuk kegiatan keagamaan pada malam hari.

Ibrahim berharap masyarakat memberikan dukungan terhadap terobosan tersebut sehingga SMPN 2 Bireuen dapat menjadi salah satu model sekolah negeri yang mampu mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan dayah.

“Intinya membuka kelas Boarding School ini adalah bagaimana bisa mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan dayah. Anak-anak selain mampu secara intelektualitas dengan pelajaran umum, juga diharapkan menjadi orang-orang yang saleh, memiliki karakter, akhlak dan ilmu agama yang mumpuni seperti kualitas lulusan pesantren,” harapnya.