TribuneIndonesi.com I Deli Serdang-Tubuh Alif Samgunawan, 20 tahun, akhirnya muncul dari aliran Sungai Sei Belawan, Selasa pagi, 4 Agustus 2026. Jasad pemuda itu ditemukan sekitar satu kilometer dari titik sampan yang ditumpanginya dilaporkan tenggelam sehari sebelumnya. Penemuan tersebut mengakhiri pencarian selama dua hari, sekaligus menyisakan pertanyaan tentang keselamatan aktivitas warga di sungai yang selama ini menjadi jalur mencari ikan.
Peristiwa itu bermula ketika Alif bersama seorang rekannya memancing menggunakan sampan. Di tengah perjalanan, sampan dilaporkan bocor hingga kehilangan keseimbangan dan tenggelam. Rekan korban berhasil berenang ke tepian. Alif justru hilang terseret arus yang dikenal memiliki aliran cukup kuat, terutama saat debit air meningkat.
Laporan mengenai orang hilang diterima Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Medan. Operasi pencarian segera digelar dengan melibatkan personel Basarnas, TNI, Polri, relawan, perangkat desa, serta warga sekitar. Sejak hari pertama, penyisiran dilakukan di sepanjang aliran sungai dengan memperhitungkan arah arus dan kemungkinan perpindahan korban.
memasuki hari kedua, pencarian dimulai sejak pukul 07.30 WIB. Perahu karet menyusuri sungai, sementara peralatan seperti Aqua Eye, drone, perangkat komunikasi, perlengkapan medis, alat penyelamatan di air, alat pelindung diri, dan kantong jenazah dioperasikan untuk memperluas jangkauan pencarian.
hasilnya datang tidak lama setelah operasi dimulai. Korban ditemukan sekitar pukul 07.30 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi penemuan berada kurang lebih satu kilometer dari titik awal sampan tenggelam. Jenazah kemudian dievakuasi sebelum diserahkan kepada keluarga.
Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Medan, Hery Marantika, mengatakan keberhasilan menemukan korban tidak terlepas dari koordinasi seluruh unsur yang terlibat dalam operasi. Setelah korban dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga, operasi pencarian resmi ditutup.
di balik berakhirnya operasi tersebut, muncul persoalan yang lebih besar. Sungai Sei Belawan masih menjadi ruang aktivitas warga, mulai dari mencari ikan hingga sarana transportasi di sejumlah titik. namun, penggunaan sampan tradisional tanpa perlengkapan keselamatan masih kerap dijumpai. Risiko itu semakin tinggi ketika kondisi arus berubah akibat cuaca atau naiknya debit air.
Peristiwa yang menimpa Alif menjadi pengingat bahwa aktivitas di sungai tidak hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga kesiapan menghadapi keadaan darurat. Penggunaan pelampung, pemeriksaan kondisi sampan sebelum berangkat, serta kewaspadaan terhadap perubahan cuaca menjadi faktor yang dapat menentukan keselamatan seseorang di perairan.
Hery Marantika mengimbau setiap warga yang beraktivitas di sungai maupun perairan agar selalu mengutamakan aspek keselamatan, menggunakan alat pelindung yang sesuai, memastikan kondisi cuaca aman, dan tidak memaksakan perjalanan apabila situasi berpotensi membahayakan.(Ilham Gondrong)



















