ACEH/Tribuneindonesia.com
Sejarah Aceh memiliki banyak tokoh yang tidak hanya berjasa bagi masyarakat pada masanya, tetapi juga meninggalkan warisan yang manfaatnya dirasakan hingga lintas generasi dan lintas negara. Salah satunya adalah Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau yang dikenal sebagai Habib Bugak Asyi.
Tokoh bersejarah tersebut dikenal melalui wakaf Baitul Asyi di Makkah yang diperuntukkan bagi masyarakat Aceh. Wakaf tersebut kemudian berkembang menjadi aset produktif yang manfaatnya terus disalurkan kepada jamaah haji asal Aceh. Kementerian Agama Aceh mencatat bahwa wakaf Habib Bugak telah menjadi salah satu warisan wakaf yang sangat penting bagi masyarakat Aceh.
Menurut catatan Kanwil Kemenag Aceh, ikrar wakaf Baitul Asyi dilakukan di Makkah pada sekitar awal abad ke-19. Dalam dokumen wakaf tersebut terdapat ketentuan mengenai pemanfaatannya bagi orang Aceh yang menunaikan ibadah haji maupun masyarakat Aceh yang menetap di Makkah.
Tokoh Habib Bugak juga memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Aceh. Pemerintah Aceh sebelumnya telah melakukan revitalisasi situs sejarah Habib Bughak di Bireuen sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan sejarah dan memperkuat identitas budaya serta keislaman Aceh.
Menanggapi hal tersebut, Hendrika Saputra meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sejarah Habib Bugak dan warisan Baitul Asyi.
«“Jangan sampai generasi Aceh hanya mengenal manfaat wakafnya, tetapi tidak mengenal siapa Habib Bugak, bagaimana sejarahnya, dari mana asalnya, serta nilai perjuangan dan keikhlasan yang diwariskannya,” ujar Hendrika.»
Menurut Hendrika, sejarah Habib Bugak merupakan bagian penting dari identitas Aceh yang patut diperkenalkan secara lebih luas, baik kepada masyarakat Aceh, masyarakat Indonesia maupun dunia.
Ia menilai pemerintah dapat memperkuat dokumentasi sejarah, penelitian akademik, pendidikan sejarah, museum atau pusat informasi, serta pelestarian situs yang berkaitan dengan Habib Bugak.
“Ini bukan hanya persoalan seorang tokoh masa lalu. Ini adalah sejarah Aceh yang memiliki hubungan dengan Makkah dan masyarakat internasional. Karena itu, sejarahnya harus dirawat, dibenahi, didokumentasikan dan dikenalkan kepada generasi muda,” katanya.
Hendrika juga mendorong agar pemerintah memberikan penghargaan yang layak terhadap tokoh-tokoh Aceh yang meninggalkan warisan besar bagi masyarakat.
“Kalau kita menghargai sejarah, kita sedang menghargai identitas kita sendiri. Habib Bugak telah meninggalkan contoh bahwa harta dapat menjadi amal jariyah dan manfaatnya bisa dirasakan oleh generasi yang bahkan belum pernah ditemuinya,” ujar Hendrika.
Berdasarkan informasi Kanwil Kemenag Aceh, pengelolaan wakaf Baitul Asyi saat ini menghasilkan manfaat bagi jamaah haji asal Aceh. Pada musim haji 2024, misalnya, jamaah Aceh dilaporkan menerima 1.500 riyal Saudi per orang dari dana wakaf tersebut.
Hendrika berharap perhatian terhadap Habib Bugak tidak berhenti pada pembagian manfaat wakaf setiap musim haji. Menurutnya, sejarah, dokumen, situs, ketokohan dan nilai perjuangan Habib Bugak juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Aceh jangan hanya menjadi penerima manfaat sejarah, tetapi juga harus menjadi bangsa yang mampu merawat dan menceritakan sejarahnya. Habib Bugak adalah bagian dari sejarah Aceh yang patut dihormati dan dikenalkan kepada dunia,” pungkasnya.

















