Bireuen/Tribuneindonesia.com
Setahun pascabencana, jembatan baru Krueng Tingkeum Kutablang, Kabupaten Bireuen, kini rampung dikerjakan dan jembatan Bailey segera dibongkar.
Sebelumnya, antrean kendaraan sempat mengular di jalur nasional Medan–Banda Aceh setelah banjir dan longsor melanda Aceh pada akhir November 2025.
Sejumlah jembatan putus, termasuk jembatan di kawasan Kutablang, Kabupaten Bireuen, yang menjadi bagian penting jalur transportasi dan distribusi barang menuju Aceh.
Putusnya jembatan membuat arus kendaraan tersendat. Masyarakat harus menghadapi antrean panjang, sementara kendaraan angkutan barang membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan.
Pemerintah kemudian membuka kembali akses melalui pemasangan jembatan Bailey sebagai penanganan darurat. Jembatan sementara tersebut menjadi penghubung penting sembari pembangunan jembatan permanen dipersiapkan.
Tujuh jembatan yang putus akibat bencana banjir dan longsor kemudian ditetapkan sebagai bagian dari infrastruktur yang menjadi prioritas pemulihan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Tujuh jembatan tersebut meliputi Jembatan Krueng Tingkeum pada ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Aceh Utara, Jembatan Teupin Mane pada ruas Jalan Kota Bireuen–Batas Bireuen/Bener Meriah, Jembatan Wehni Kulus dan Jembatan Enang-Enang di lintas tengah, serta tiga jembatan lainnya pada jalur lintas terdampak yang diprioritaskan untuk pemulihan.
Dalam perkembangannya, pembangunan ketujuh jembatan permanen tersebut dilakukan secara bertahap. Hingga saat ini, Jembatan Krueng Tingkeum Kutablang menjadi jembatan pertama yang telah rampung dan kembali berfungsi. Kemudian akan disusul Jembatan Teupin Mane di lintas Bireuen-Takengon Km 10, yang ditargetkan selesai satu bulan ke depan.
Jembatan Baru Krueng Tingkeum atau Jembatan Kuta Blang di Kabupaten Bireuen dipastikan mulai dioperasikan pada Minggu (20/9/2026).
Menjelang pengoperasian, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD), bersama Kepala Satker BPJN Wilayah II Aceh, Rizki Anugrah, meninjau langsung kesiapan akhir jembatan tersebut, Sabtu (19/9/2026).
Sebagai anggota Komisi V DPR RI yang menjadi mitra kerja Kementerian PU, HRD turut menjalankan fungsi pengawasan terhadap pembangunan dan pemulihan infrastruktur tersebut.
“Jembatan ini sudah lama dinantikan masyarakat. Sebelumnya, masyarakat harus menghadapi antrean panjang setelah jembatan lama putus akibat banjir. Karena itu, mari kita sama-sama menjaga dan merawat jembatan ini demi menjaga keselamatan dan kenyamanan bersama serta dapat digunakan dalam jangka panjang,” ujar HRD.
Dalam peninjauan itu, HRD mengecek sejumlah bagian penting jembatan, termasuk hasil pengaspalan pada segmen tengah, pemasangan marka jalan, lampu penerangan, serta fasilitas keselamatan bagi pengguna jalan.
“Kami ingin memastikan jembatan ini benar-benar siap dan aman untuk dilalui masyarakat mulai besok. Ini merupakan infrastruktur vital yang dinantikan masyarakat Aceh maupun pengguna jalan lintas Sumatra,” ujar HRD.
HRD juga mengapresiasi percepatan pekerjaan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BPJN Wilayah II Aceh. Pengerjaan jembatan duplikasi tersebut kini telah mencapai sekitar 99 persen dan ditargetkan dapat difungsikan sesuai jadwal.
“Dengan rampungnya jembatan baru Kutablang Bireuen, kita berharap angkutan barang dan orang kembali normal, ekomomi masyarakat juga terus membaik harga barang normal,” harap HRD.
Bailey Berakhir, Jembatan Lama Akan Ditangani
Sementara itu, Kepala Satker BPJN Wilayah II Aceh Rizki Anugrah mengatakan pekerjaan struktural utama jembatan baru, termasuk pengaspalan menggunakan lapisan AC-WC, telah rampung.
Pada H-1 pengoperasian, tim di lapangan difokuskan pada pembersihan material dan penyelesaian sejumlah fasilitas pelengkap.
“Besok jembatan baru ini akan langsung dibuka untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Dengan beroperasinya jembatan baru, sistem buka-tutup kendaraan yang selama ini diterapkan di jembatan darurat atau bailey otomatis berakhir,” kata Rizki.
Dengan dibukanya jembatan permanen, jembatan Bailey yang selama ini menjadi akses darurat di kawasan Kutablang tidak lagi digunakan. Jembatan tersebut selanjutnya akan dibongkar secara bertahap.
Setelah pembongkaran jembatan darurat, BPJN akan melanjutkan penanganan terhadap struktur jembatan lama yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.
Jika pembangunan dan penanganan seluruh struktur selesai, kawasan Kutablang akan memiliki dua jembatan yang berdampingan atau jembatan kembar. Keberadaan dua jembatan tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas pada jalur nasional Medan–Banda Aceh. (*)

















