Bitung | Tribuneindonesia.com – Apresiasi mengalir deras bagi Satuan Patroli (Satrol) Lantamal VIII Bitung menyusul keberhasilan misi penyelamatan dramatis di perairan Laut Maluku (Batang Dua), Jumat (27/03/26).
Langkah cepat unsur TNI AL dalam mengevakuasi kru KM Anaiah pada Kamis (26/03) dinilai sebagai bentuk nyata kesiapsiagaan korps pelaut dalam tugas kemanusiaan.
Dalam operasi penyelamatan tersebut, Satrol Lantamal VIII mengerahkan kekuatan penuh dengan menerjunkan KAL Tedong Naga serta satu unit Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB).
Sebanyak 20 personel terlatih dilibatkan langsung guna memastikan seluruh kru kapal yang berada dalam kondisi bahaya dapat diselamatkan dengan aman.
Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kota Bitung, Rusdianto Tioki, secara khusus melayangkan apresiasi tinggi atas sinergitas yang ditunjukkan di lapangan.
Menurutnya, koordinasi lintas sektoral antara TNI AL, Basarnas, dan Polairut merupakan kunci keberhasilan evakuasi yang berjalan sangat efektif.
”Kami sangat mengapresiasi tindakan kemanusiaan yang dilakukan Satrol Lantamal VIII bersama Basarnas dan Polairut. Mereka saling bahu-membahu secara cepat dan tepat dalam mengevakuasi kru KM Anaiah,”
ujar Rusdianto saat memberikan keterangan resmi kepada awak media.
Selain memuji tim penyelamat, Rusdianto juga memberikan catatan penting bagi para pelaku usaha perikanan.
Ia mengimbau para nelayan untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan selama melaut, terutama dalam memeriksa kelaikan peralatan kapal yang berpotensi memicu kebakaran.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Ratu Prabu Center 08 Sulawesi Utara, Ustadz Adrianto Kaiko, turut menyoroti performa gemilang jajaran Satrol Kodaeral VIII Bitung.
Ia menilai kepemimpinan di satuan tersebut telah berhasil menciptakan standar respons cepat yang patut diacungi jempol.
Adrianto menegaskan bahwa di bawah komando Kolonel Laut (P) Marvil Marfel Frits E.D.,S.E., M.Tr.Hanla., CRMP Satrol Bitung konsisten menunjukkan dedikasi dalam menangani kecelakaan laut.
“Pihak Satrol selalu sigap dan tanpa ragu mengambil tindakan penyelamatan setiap kali terjadi insiden di wilayah perairan Sulawesi,”
tandasnya.
Namun, di sisi lain, Adrianto juga memberikan kritik tajam terhadap kinerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Ia mendesak otoritas pemberi izin tersebut untuk lebih selektif dan teliti sebelum mengizinkan kapal bertolak dari pelabuhan.
Pihak kesyahbandaran diharapkan tidak abai terhadap klasifikasi cuaca dan kondisi fisik kapal demi meminimalkan risiko kecelakaan.
Pengawasan yang lebih ketat dianggap sebagai langkah preventif krusial agar tragedi serupa di tengah laut tidak kembali terulang akibat kelalaian administratif. (Kiti)






















