Banda Aceh | TribuneIndonesia.com – Pembangunan hunian sementara (Huntara) di Kabupaten Pidie Jaya menuai sorotan masyarakat. Proyek yang diperuntukkan bagi warga terdampak bencana itu diduga tidak melibatkan tenaga kerja lokal, melainkan memboyong kontraktor hingga buruh dari luar Aceh, tepatnya dari Palembang.
Sejumlah warga menyampaikan kekecewaan atas kondisi tersebut. Mereka menilai, di tengah situasi sulit pascabencana, kesempatan kerja seharusnya diprioritaskan bagi masyarakat setempat.
Salah satu rumah warga di jadikan tempat tinggal pekerja dari luar
Pepatah Aceh yang kerap terdengar kembali mencuat di tengah polemik ini: “Buya kreung te dong-dong, buya tameung meraseuki” yang secara sederhana dimaknai sebagai “orang luar mendapat rezeki, sementara orang lokal hanya gigit jari.”
Seorang buruh bangunan asal Pidie Jaya yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat kecewa. Ia menyebut perusahaan pelaksana proyek tidak melibatkan pengusaha maupun pekerja lokal dalam pembangunan huntara tersebut.
“Kami ini juga punya kemampuan dan pengalaman kerja. Tapi tidak diberi kesempatan,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa para pekerja asal Palembang tersebut menyewa rumah warga dengan nilai kontrak berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta. Rumah-rumah yang disewa berada di wilayah Kecamatan Meureudu, tepatnya di Desa Meuraxa dan Keude Meureudu.
Menurut keterangan warga Desa Meuraxa, dalam satu rumah yang disewa tersebut dihuni sekitar 15 hingga 20 orang pekerja.
Masyarakat menilai, apabila proyek pembangunan dikerjakan dengan melibatkan tenaga kerja lokal, maka perputaran ekonomi akan lebih dirasakan langsung oleh warga terdampak.
Atas persoalan ini, sejumlah masyarakat mendesak pemerintah untuk lebih tegas dalam mengatur proyek-proyek penanganan bencana agar berpihak pada tenaga kerja lokal. Bahkan, muncul dorongan agar pemerintah pusat menetapkan status bencana nasional untuk wilayah Sumatra agar penanganan dan pengawasan proyek dapat dilakukan lebih maksimal.
Sementara itu, saat dimintai konfirmasi terkait dugaan tersebut, pihak balai terkait hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan resmi. (May)


















