Menelusuri Jejak Pasukan Tulungan: Aliansi Militer Minahasa dalam Perang Jawa

- Editor

Kamis, 12 Februari 2026 - 02:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sulut | TribuneIndonesia.com

Sejarah militer Nusantara mencatat keterlibatan krusial orang-orang Minahasa dalam memperkuat barisan kolonial melalui sebuah unit yang dikenal sebagai Pasukan Tulungan.

​Secara etimologi, nama tersebut berakar dari bahasa Melayu Manado, “Tulung”, yang berarti tolong atau bantu. Dalam catatan administrasi Belanda, mereka secara resmi disebut sebagai Hulptroepen.

​Unit bantuan ini bukan sekadar relawan biasa, melainkan pasukan yang dibentuk secara terstruktur untuk menyokong kekuatan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) di berbagai medan laga.

​Eksistensi pasukan ini bermula dari sebuah kesepakatan formal yang ditandatangani pada 23 Desember 1827. Kontrak tersebut menjadi tonggak legal berdirinya unit militer tersebut.

​Dalam perjanjian itu, pihak Minahasa yang diwakili oleh figur berpengaruh seperti Abraham Dotulong dan J. Kawilarang, berkomitmen menyediakan kekuatan personel bagi pihak Belanda.

​Tak tanggung-tanggung, dokumen kontrak tersebut mencantumkan kesiapan pengerahan sebanyak 1.421 personel yang siap diberangkatkan ke garis depan pertempuran.

​Di kalangan masyarakat luas saat itu, selain disebut Hulptroepen, kelompok bersenjata ini juga populer dengan julukan Serdadu Manado, sebuah identitas yang melekat sepanjang sejarah kolonial.

​Namun, pembentukan pasukan ini sejatinya lahir dari sisa-sisa trauma Perang Tondano (1808-1809), di mana perlawanan masyarakat Minahasa di Benteng Moraya akhirnya dipatahkan oleh Belanda.

​Kekalahan di Benteng Moraya menjadi titik balik politik di Sulawesi Utara. Status para pemimpin Minahasa berubah drastis dari penguasa mandiri menjadi bawahan pemerintah kolonial.

​Kondisi tunduk inilah yang memuluskan permintaan Residen Manado, Daniel Francois Willem Pietermaat, saat ia menginstruksikan para pemimpin lokal untuk mengirimkan bantuan ke tanah Jawa.

​Pemerintah kolonial saat itu tengah terdesak oleh perlawanan sengit Pangeran Diponegoro dan sekutunya, sehingga membutuhkan tambahan daya tempur dari wilayah luar Jawa.

Baca Juga:  Rocky Gerung: Sang Provokator Intelektual dan Pejalan Sunyi

​Sebagai kompensasi dan bentuk apresiasi atas loyalitas di medan perang, Belanda memberikan gelar militer bergengsi, yakni Majoor, kepada para kepala distrik (walak) yang memimpin pasukan.

​Seiring berjalannya waktu, gelar Majoor tersebut bergeser fungsinya dari sekadar pangkat militer menjadi sebuah gelar kehormatan bagi para elit birokrat di Minahasa.

​Dalam catatan sejarah Perang Jawa (1825-1830), muncul satu nama yang sangat menonjol sebagai pemimpin tertinggi Pasukan Tulungan, yaitu Groot Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong.

​Lahir di Kema pada 12 Januari 1795, pria asal Sonder ini baru menginjak usia 34 tahun saat dipercaya memegang tongkat komando tertinggi dalam misi di Pulau Jawa.

​Menariknya, Dotulong merupakan keponakan dari kepala walak Tonsea, figur yang dikenal selalu menyokong kebijakan Belanda sejak periode Perang Tondano berlangsung.

​Selain Dotulong, barisan kepemimpinan pasukan ini diisi oleh nama-nama besar seperti Majoor Hendrik Werias Supit dari Tondano dan Kapitein Benyamin Thomas Sigar alias Tawalijn Sigar dari Langowan.

​Daftar perwira lapangan lainnya mencakup Kapitein Johanis Inkiriwang, Daniel Rotinsulu, Sondag Saul Palar, hingga tokoh-tokoh seperti Kapitein Mandagi, Mangangantung, dan Lao Runtuwene yang mewakili berbagai distrik di tanah Minahasa.

Berita Terkait

H. Ruslan M. Daud Gandeng Poltekpel Malahayati Bekali Penyintas Banjir Bireuen
P3-TGAI Rp195 Juta Kuning II Disorot, Disebut Aspirasi Dewan PKB
Kawal Kamtibmas Jelang Peringatan HDA Ke – 21 Tahun 2026, Polres Bireuen Gelar Apel Gabungan Bersama TNI
Satgas TMMD ke-129 Tebar Lele dan Isi Kandang Ayam Petelur di Lima Lokasi RTLH
Kapolres Bireuen Terima Penghargaan sebagai Inisiator Penggerak Literasi Digital Kamtibmas Tahun 2026
LSM KPK RI Desak Audit P3-TGAI Kuning II: Rp195 Juta Uang Negara, Jangan Dikerjakan Asal Jadi
LSM KPK RI Desak P3-TGAI Kuning II Diaudit: “Jangan Main-Main dengan Uang Negara!”
Keamanan Digaji Layak, Pendidikan Disuruh Berjuang — Itu Bukan Kebijakan, Itu Ketidaksadaran yang Fatal
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:14

Peradaban Bangsa Akan Bersih dan Maju Jika Dimulai dari Indonesia Timur

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:44

Jack Ma: Seorang Guru yang Membuktikan — Bukan dengan Buku, Tapi dengan Karya

Senin, 10 Agustus 2026 - 07:38

Sekolah Itu Fondasi: Di Situlah Identitas dan Masa Depan Bangsa Dibentuk

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 04:28

Perampasan Aset Koruptor: Antara Ketakutan Pemegang Kuasa dan Keadilan bagi Rakyat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:27

Pemimpin Itu Melayani, Bukan Dilayani

Jumat, 7 Agustus 2026 - 03:04

Kekerasan Tidak Pernah Menjadi Jalan Penyelesaian Sesungguhnya

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:06

Menghargai Guru: Kunci Mutlak Lahirnya Generasi Emas

Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:32

Kerusakan Moral Generasi dan Bahaya Demi Mengejar Ketenaran

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Survei Merit dan Jejak Kesiapan ASN

Rabu, 12 Agu 2026 - 10:33