Jakarta | TribuneIndonesia.com
Nama Rocky Gerung yang merupakan Putra Minahasa ini telah menjadi fenomena tersendiri dalam panggung diskursus publik di Indonesia, Kamis (29/01/26).
Sosok yang dikenal lewat diksi “akal sehat” dan “dungu” ini merupakan perpaduan antara akademisi filsafat, aktivis politik, hingga pendaki gunung solo yang eksentrik.
Memulai perjalanan akademisnya di Universitas Indonesia (UI) pada 1979, Rocky sempat mencicipi bangku kuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional sebelum akhirnya berlabuh dan lulus dari Jurusan Ilmu Filsafat.
Dedikasinya di dunia pendidikan berlanjut sebagai dosen tidak tetap di almamaternya hingga 2015. Namun, karier mengajarnya terhenti akibat regulasi UU No. 14 Tahun 2005 yang mensyaratkan gelar magister bagi pengajar universitas.
Meski hanya menyandang gelar sarjana, kepakarannya diakui secara luas. Ia tercatat pernah membimbing aktris Dian Sastrowardoyo dan mengajar di lembaga prestisius seperti Lemhannas, Megawati Institute, hingga memberikan materi bagi perwira TNI/Polri. Fokus kajiannya meliputi:
Filsafat Politik dan Teori Keadilan.
Feminisme: Ia aktif menulis di Jurnal Perempuan dan menjadi pengajar di Kajian Filsafat dan Feminisme (Kaffe).
Hak Asasi Manusia: Menjadi salah satu pendiri Setara Institute bersama tokoh bangsa seperti Gus Dur.
Di ranah praktis, Rocky terlibat dalam pendirian Partai Indonesia Baru (PIB) pada 2002 dan kemudian bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) pada 2011 untuk mendukung pencalonan Sri Mulyani.
Popularitasnya meledak secara nasional setelah debutnya di Indonesia Lawyers Club (ILC) pada 2017.
Kritik tajamnya yang menyebut pemerintah sebagai “pembuat hoaks terbaik” serta pernyataan kontroversial “kitab suci itu fiksi” pada 2018 menjadikannya magnet polemik.
Puncaknya, ia kerap berurusan dengan laporan hukum, termasuk dugaan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo yang memicu kegaduhan publik.
Di balik tajamnya retorika, Rocky adalah seorang petualang kawakan. Selama lebih dari 50 tahun, ia menekuni hobi mendaki gunung, mulai dari belantara Indonesia hingga megahnya Himalaya.
Menariknya, ia lebih memilih mendaki solo (sendirian). Baginya, bunyi gesekan dahan dan desis alam adalah sebuah “orkestrasi musik” yang hanya bisa dinikmati dalam kesunyian.
Pemikiran kritisnya kini telah didokumentasikan dalam beberapa karya literasi yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu, di antaranya:
Obat Dungu Resep Akal Sehat: Filsafat untuk Republik Kuat.
Habis Dungu Terbitlah Bajingan Tolol: Sebuah kompilasi tulisan Rocky sejak tahun 1985 yang memotret keresahan intelektualnya terhadap realitas sosial Indonesia.











