LSM Desak Tersangka di Tragedi Minahasa, Pengelola Resort Diancam Pasal Kelalaian dan UU Kepariwisataan

- Editor

Jumat, 17 Oktober 2025 - 10:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Minahasa, Sulut|Tribuneindonesia.com

Gelombang Kecaman Publik dan Dugaan Kejanggalan menyelimuti kasus tragis tenggelamnya pengunjung bernama Firland Richo Lahilote di Resort Kabesaran, Minahasa. Jumat (17/10/25).

Insiden yang menelan korban jiwa ini kini bergeser dari sekadar musibah biasa menjadi sorotan tajam terkait tanggung jawab pengelola dan etika penegakan hukum.

Dugaan Mencurigakan muncul ke permukaan setelah terkuak adanya pemberian sejumlah uang dari pihak pengelola resort kepada individu yang terlibat dalam operasi pencarian korban.

Langkah pengelola resort yang diketahui bernama Ko Ipan tersebut dinilai janggal, memicu spekulasi tentang upaya “balas jasa” yang berada di luar koridor hukum.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal LSM Kibar Nusantara Merdeka (KIBAR NM), Yohanes Missah, melontarkan kritik keras, menyebut tindakan pemberian uang itu sebagai langkah yang mencurigakan.

Menurut Yohanes, hal tersebut justru dapat membuka celah untuk menutupi tanggung jawab hukum utama pengelola resort atas insiden kematian Richo Lahilote.

“Jika benar ada aliran dana dari pengelola resort kepada pihak yang membantu pencarian, transparansi mutlak harus dilakukan,”

tegas Yohanes Missah. Ia menekankan, jangan sampai tindakan tersebut mengaburkan tanggung jawab primer resort dalam insiden hilangnya nyawa pengunjung.

Yohanes Missah mendesak penyidik agar segera mengambil langkah tegas untuk menetapkan tersangka tanpa pandang bulu.

Desakan ini semakin kuat, terutama jika ditemukan bukti adanya kelalaian manajemen atau pelanggaran serius terhadap izin operasional yang berlaku.

“Resort yang beroperasi tanpa standar keselamatan yang memadai dan tidak memiliki izin lengkap secara jelas telah melanggar Undang-Undang Pariwisata,”

pungkasnya. Jika unsur kelalaian terbukti menjadi penyebab kematian, pengelola harus dijerat dengan sanksi pidana yang berlaku.

Menurut LSM KIBAR NM, potensi jeratan hukum bagi pengelola resort sangat terbuka.

Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian dan Pasal 54 UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang mewajibkan jaminan keselamatan wisatawan, menjadi landasan pidana yang potensial.

Baca Juga:  Rapat Koordinasi Program Ketahanan Pangan Digelar Polda Sulut

Selain itu, pelanggaran juga dapat mencakup Pasal 19 ayat (1) dan (2) UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999, terkait tanggung jawab pelaku usaha atas kerugian konsumen akibat layanan yang tidak sesuai standar keselamatan.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan Pelayanan Wisata Air pun turut dilanggar jika resort abai pada prosedur darurat.

Di sisi lain, kekecewaan mendalam datang dari Nurdin Lahilote, orang tua korban.

Ia mengungkapkan bahwa pengelola resort, Ko Ipan, semula berjanji menanggung seluruh biaya kedukaan, namun kemudian mengingkari janji tersebut dan hanya menyanggupi bantuan sebesar Rp 10 juta.

“Kami merasa dibohongi dan sangat kecewa. Ko Ipan awalnya bilang akan tanggung semua, tapi saat kami datang menuntut janji itu, dia bilang hanya bisa bantu Rp 10 juta,”

ungkap Nurdin Lahilote.

Kekecewaan keluarga korban semakin memuncak ketika mereka mendapati adanya kejanggalan dalam penanganan barang bukti pasca insiden.

Perahu yang digunakan Richo dan rekan-rekannya dilaporkan tidak diamankan, dan bahkan police line di lokasi sudah dicabut.

Sementara itu, Kapolsek Lembean Timur, IPDA Hermanto, mengonfirmasi bahwa kasus ini masih menjadi atensi serius pihak kepolisian.

Melalui komunikasi via WhatsApp, IPDA Hermanto menyatakan akan berkoordinasi dengan pimpinan terkait perkembangan penyelidikan yang sedang berlangsung.

Publik, bersama LSM KIBAR NM, kini menanti langkah nyata dan ketegasan aparat penegak hukum.

Kasus ini dianggap bukan sekadar kecelakaan, melainkan ujian bagi penegakan keadilan dan tanggung jawab etika demi memastikan tidak ada lagi tragedi serupa di sektor pariwisata. (Talia)

Berita Terkait

Addressing the Geopolitical Crisis Involving the Middle East and Saudi Arabia: Here Is the Official Statement from the King of Morocco
Tim Sepak Bola Kecamatan Kota Juang berhasil Final Piala Bupati Bireuen
Cegah Penyalahgunaan Medsos, Judol dan Pinjol, Propam Polres Bireuen Sidak HP Personel
BREAKING NEWS! APBD Perubahan Raja Ampat Disahkan, Mansur Shadan: Setiap Rupiah Harus Berdampak ke Rakyat
Dibantah Kepala Satpol PP, Endi Tetap Bawa Dugaan Ancaman Wartawan ke Polda PBD”.
UBHARA JAYA RAYAKAN DIES NATALIS KE-31, 497 LULUSAN DILANTIK  
GEGER! Kantor Desa Paya Metah Karang Baru Diduga Numpang di Rumah Pribadi Datok, Dana Sewa Kemana?
Eks GAM Denmark: Aceh Harus Melegalisasi Izin Tambang Emas Rakyat
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:41

BREAKING NEWS! APBD Perubahan Raja Ampat Disahkan, Mansur Shadan: Setiap Rupiah Harus Berdampak ke Rakyat

Selasa, 29 September 2026 - 13:57

Dibantah Kepala Satpol PP, Endi Tetap Bawa Dugaan Ancaman Wartawan ke Polda PBD”.

Selasa, 29 September 2026 - 12:20

Job Fair 2026. Lowongan Terbuka, Kompetensi Masih Jadi Soal

Selasa, 29 September 2026 - 11:02

JALAN NASIONAL DESA KUNING I ACEH TENGGARA HANCUR LEBUR BAK KUBANGAN KERBAU, LSM KPK-RI SEMPROT TEGAS KINERJA BPJN

Selasa, 29 September 2026 - 05:22

Selamat datang Peserta Pendidikan dan Pelatihan Laskar Gerindra Kabupaten Simeulue Tahun 2026.

Senin, 28 September 2026 - 16:33

Demi Keselamatan Raja Ampat, Kepala BPBD Ingatkan Warga Hentikan Pembakaran Lahan

Senin, 28 September 2026 - 15:29

BREAKING NEWS: Lonobi Membara, Tim Gabungan Berjibaku di Tebing Terjal

Senin, 28 September 2026 - 12:21

Tiga Aplikasi, Ujian Baru Perizinan

Berita Terbaru