Deli Serdang | TribuneIndonesia.com-Suasana mencekam menyelimuti Kantor Desa Tandem Hilir I, Kecamatan Hamparan Perak, ketika lebih dari 500 warga berbondong-bondong menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.Kamis 28 Agustus di pelataran kantor Desa.Mereka menuntut Kepala Desa Herianto segera dicopot dari jabatannya setelah diduga mengkhianati amanah rakyat dengan menjual tanah warga kepada perusahaan arang seharga Rp400 juta.
Informasi yang beredar menyebutkan, transaksi haram itu dilengkapi bukti surat penyerahan tanah, pembayaran tunai Rp250 juta, dan transfer Rp150 juta langsung dari pihak perusahaan. Dugaan penyalahgunaan wewenang ini membuat warga marah besar dan merasa dikhianati oleh pemimpin yang seharusnya melindungi mereka.
Amarah massa semakin membara karena Kepala Desa Herianto dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) tak tampak di lokasi. Nomor ponsel mereka dikabarkan tidak aktif. Warga pun geram, meyakini kades dan BPD sengaja bersembunyi untuk menghindari pertanggungjawaban. Akhirnya, Camat Hamparan Perak turun langsung menemui massa.
Dalam pertemuan itu, Camat menyatakan mengapresiasi keberanian warga dan berjanji menyampaikan tuntutan pemecatan kepada pihak berwenang. Namun massa tetap tak puas. Mereka berteriak lantang, mendesak kades dan BPD dihadirkan saat itu juga untuk menjawab tuduhan di depan rakyat.
Situasi sempat memanas. Ketegangan antara warga dan aparat keamanan hampir pecah menjadi bentrokan. Teriakan massa menggema, menggetarkan suasana kantor desa. Namun, koordinator aksi berhasil meredam emosi dan menenangkan warga agar tidak terprovokasi.
Hasil perundingan akhirnya menghasilkan kesepakatan: pada Selasa, 2 September mendatang, perwakilan warga bersama seluruh anggota BPD dan pihak desa wajib hadir di Kantor PMD Kabupaten Deli Serdang untuk mempertanggungjawabkan kasus ini.
Meski akhirnya bubar dengan tertib, wajah-wajah kecewa dan geram warga masih terlihat jelas. Bagi mereka, kepercayaan terhadap Kepala Desa Herianto telah hancur. Teriakan “pecat kades!” terus menggema hingga akhir aksi, menjadi simbol bahwa masyarakat sudah tak lagi menerima pemimpin yang mereka anggap telah mengkhianati amanah rakyat.
Ilham Gondrong