Aceh Barat Daya | TribuneIndonenesia.com
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali terjadi di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Kondisi ini memicu keluhan warga yang harus mengantre sejak pagi hingga malam hari di SPBU Babahrot, Desa Pante Cermin, namun tidak mendapatkan solar.
Pantauan TAMPERAK dan KAKI Aceh di lapangan pada Kamis (9/4/2026), antrean panjang kendaraan sudah terlihat sejak pagi hari dan terus mengular hingga malam. Ironisnya, meski antrean terus bertambah, pihak SPBU tidak melakukan penyaluran solar kepada masyarakat tanpa penjelasan yang jelas.
Sejumlah sopir angkutan mengaku telah mengantre sejak pukul 06.20 WIB. Namun hingga malam hari, mereka bersama ratusan warga lainnya tetap tidak memperoleh BBM yang sangat dibutuhkan untuk menunjang aktivitas ekonomi keluarga.
“Kami di sini sudah dari pagi, tapi sampai sekarang belum juga dapat solar,” ujar salah seorang warga berinisial Jn.
Menurut keterangan warga dan sopir angkutan, kelangkaan solar di SPBU Babahrot bukanlah kejadian pertama. Mereka bahkan menduga adanya praktik pengisian BBM dalam jumlah tidak wajar oleh kendaraan tertentu.
Seorang sopir mobil angkutan jenis KIA berinisial FM mengungkapkan, sering terlihat kendaraan roda empat mengisi solar hingga nominal besar, bahkan mencapai lebih dari Rp1 juta dalam sekali pengisian.
“Sering kami lihat ada kendaraan isi solar sampai di atas Rp1 juta. Sementara kami yang antre lama justru tidak kebagian,” ujarnya.
Warga lainnya juga mempertanyakan kejanggalan tersebut. Pasalnya, distribusi BBM jenis lain di SPBU tersebut terpantau berjalan lancar, sementara solar justru langka dan sulit diperoleh.
Para sopir menilai kondisi ini sangat merugikan, terutama bagi mereka yang membawa penumpang dan barang kebutuhan penting. Kelangkaan solar dinilai telah menghambat aktivitas masyarakat luas.
“Kami ini angkut penumpang dan barang kebutuhan. Sekali jalan saja susah dapat solar. Seharusnya kami diprioritaskan, karena ini menyangkut kepentingan banyak orang,” tambah salah seorang sopir.
Lebih lanjut, warga menduga adanya praktik tidak transparan dalam distribusi BBM di SPBU tersebut. Mereka mempertanyakan kewajaran pengisian solar dalam jumlah besar hingga mencapai Rp1,5 juta bahkan berulang kali oleh kendaraan tertentu.
Atas kondisi ini, masyarakat meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan melakukan evaluasi terhadap operasional SPBU di wilayah Abdya, khususnya SPBU Babahrot.
“Kami minta ada pengawasan serius. Jangan sampai kesulitan rakyat justru dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Kalau memang ada pengisian khusus, sebaiknya dibuat jalur tersendiri agar tidak mengganggu kepentingan umum,” tutup warga.


















