Bitung | Tribuneindonesia.com –Keamanan lingkungan pendidikan di Kota Bitung kembali menjadi sorotan setelah aksi premanisme menyasar para pelajar, Rabu (22/04/26).
Manajemen SMK Negeri 2 Bitung kini tengah menyusun strategi proteksi ekstra demi menjamin keselamatan para siswa dari ancaman pihak luar.
Langkah responsif ini diambil menyusul adanya insiden kekerasan yang melibatkan oknum tidak dikenal di luar area gerbang sekolah.
Kejadian tersebut memicu kekhawatiran mendalam bagi warga sekolah yang tengah menjalani agenda akademik penting.
Peristiwa mencekam tersebut bermula saat sejumlah siswa sedang beristirahat di sebuah kantin yang berlokasi di pojok luar area sekolah.
Diketahui, para siswa saat itu tengah menunggu giliran untuk mengikuti jadwal Uji Kompetensi Keahlian (UKK).
Suasana yang awalnya tenang berubah mencekam ketika sekelompok oknum yang mengendarai sepeda motor tiba di lokasi. Tanpa alasan yang jelas, para pelaku mulai melakukan intimidasi dan tindakan pemalakan terhadap siswa yang berada di sana.
Gesekan pun tidak terelakkan hingga situasi semakin memanas di lokasi kejadian. Puncaknya, salah satu siswa menjadi korban penganiayaan menggunakan senjata tajam jenis panah wayer yang dibawa oleh kelompok luar tersebut.
Kepala SMKN 2 Bitung, Meryati Taengetan, S.Pd., M.A.P., mengakui bahwa pengawasan di luar pagar sekolah memang menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, area luar gerbang merupakan titik buta yang sulit dipantau secara penuh oleh personel satpam sekolah.
Sebagai bentuk tindakan nyata, pihak sekolah telah melayangkan surat resmi kepada pemerintah setempat. Sekolah mendesak adanya penertiban terhadap lokasi-lokasi non-formal yang sering dijadikan tempat berkumpulnya siswa dan orang asing.
”Kami sudah menyurat secara resmi untuk meminta penertiban kantin di pojok tersebut. Kami mengimbau agar pemilik usaha tidak lagi menampung siswa di sana, terutama pada jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),”
tegas Meryati Taengetan saat memberikan keterangan pada awak media di ruang kerjanya.
Selain penertiban area, SMKN 2 Bitung tengah menjajaki opsi kerja sama keamanan yang lebih ketat. Sekolah berencana melibatkan personel TNI dan Polri untuk melakukan penjagaan langsung di lingkungan sekolah selama jam operasional berlangsung.
Wacana kehadiran aparat berbaju cokelat maupun hijau ini sedang dalam tahap negosiasi intensif.
Pihak manajemen sekolah memandang kehadiran aparat penegak hukum sangat diperlukan untuk memberikan rasa aman bagi peserta didik yang merasa terancam.
”Kami sedang bernegosiasi terkait kemungkinan adanya pendampingan dari aparat untuk berjaga secara bergantian. Meskipun terdapat kendala anggaran, ini bentuk keseriusan kami melindungi siswa,”
tambah Meryati mengenai rencana pelibatan TNI-Polri.
Tidak hanya mengandalkan aparat pusat, sekolah juga akan mengoptimalkan jejaring lokal melalui Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).
Koordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di tingkat kelurahan akan ditingkatkan untuk mendeteksi potensi konflik sejak dini.
Di sisi lain, manajemen sekolah juga melakukan pendekatan internal terhadap para siswa.
Peserta didik diingatkan untuk tidak mudah terpancing emosi dan tetap menjaga kedisiplinan agar tidak terjerumus dalam aksi premanisme yang merugikan masa depan.
Kepsek Meryati menekankan bahwa integritas moral adalah kunci utama bagi siswa SMK yang nantinya akan diterjunkan langsung ke industri.
Menurutnya, kepintaran teknis tidak akan berguna jika perilaku siswa tercoreng oleh catatan kriminal atau tindakan negatif.
”Hard skill tidak akan berarti jika tidak dibarengi karakter yang baik. Dunia industri hanya akan menerima lulusan yang memiliki integritas. Jika terlibat hal negatif, tentu akan sulit terserap di perusahaan,”
pungkas Meryati menutup pernyataannya kepada awak media. (kiti)


















