TABANAN |Tribuneindonesia.com Memasuki hari ke-20, Parade Gebogan dan Beleganjur di Daerah Tujuan Wisata Ulun Danu Beratan masih ramai dikunjungi wisatawan. Event tahunan yang akan ditutup pada 9 Agustus 2026 ini terbukti efektif mendongkrak jumlah kunjungan ke kawasan wisata ikonik Tabanan itu.
Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Saputra, memastikan seluruh agenda kegiatan berjalan sesuai jadwal awal. Pihaknya sengaja tidak mengubah rundown demi kenyamanan peserta.
“Kami tetap pakai jadwal yang sudah ditetapkan dari awal. Peserta sudah persiapan jauh-jauh hari, jadi biar tidak bingung kalau ada perubahan,” kata Teja pada Rabu (15/7/2026).
Tahun ini ada hal baru. Atas usulan pemandu wisata, pengelola DTW menyediakan fasilitas bagi wisatawan untuk ikut belajar membuat gebogan.
“Ini ide dari teman-teman guide. Banyak tamu mereka yang penasaran dan ingin coba langsung buat gebogan, jadi kita siapkan tempatnya,” jelas Teja.
Kelas belajar gebogan dimulai pukul 10.00 WITA sampai 13.30 WITA. Setelah itu dilanjutkan gladi resik parade pukul 15.00 WITA. Menurut Teja, wisatawan mancanegara menunjukkan minat yang besar terhadap aktivitas budaya ini.
Untuk mendukung acara, DTW juga menggelontorkan dana pembinaan ke 18 banjar peserta. Setiap hari giliran banjar berbeda yang menampilkan gebogan dan beleganjur dalam parade.
Dampaknya langsung terasa. Rata-rata kunjungan harian kini mencapai 2.000 orang. Saat libur sekolah kemarin, puncaknya 2.500 orang per hari hingga 12 Juli 2026. Mayoritas didominasi wisatawan domestik.
“Karena disosialisasikan jauh-jauh hari dan ini event rutin tahunan, kami optimis kunjungan akan terus naik,” tambah Teja.
Tim penilai, I Gede Jimatakori, memaparkan pakem utama gebogan yang wajib dipenuhi peserta. Mulai dari dulang sebagai alas, jajanan, hiasan rambut dari janur, hingga canang di bagian atas.
“Untuk kreasi bebas, tapi tinggi gebogan harus 60-70 cm biar gampang dibawa saat parade. Buahnya juga wajib buah lokal,” ujarnya.
Setiap banjar wajib membawa minimal 20 gebogan saat parade, dengan cadangan maksimal 6. Jadi total paling banyak 26 gebogan.
Jimatakori berharap parade ini terus digelar setiap tahun. Selain melestarikan budaya leluhur, kegiatan ini juga mengalihkan anak muda dari hal negatif dan menggerakkan ekonomi warga sekitar.
“Intinya kita jaga warisan budaya, sekaligus putar ekonomi berbasis budaya,” tutupnya.(van)














