Oleh: Chaidir Toweren (Ketua Persatuan Wartawan Kota Langsa)
TribuneIndonesia.com
Di tengah aroma kopi pagi di warung kota Langsa, orang membicarakan PTPN IV Regional 6 KSO bukan lagi soal harga sawit atau target panen, melainkan soal kursi panas yang berpindah tangan. Seperti pepatah lama, “di mana gula, di situ semut,” keberhasilan perusahaan ini justru memancing semut-semut lapar untuk datang berebut. Dan seperti biasa, perebutan itu jarang meninggalkan meja rapat. lebih sering dibungkus dengan alasan manis “penyegaran,” padahal di baliknya terselip hasrat kuasa dan kepentingan.
PTPN IV Regional 6 KSO Langsa sedang berada di puncak performa. Produksi meningkat, keuntungan melejit, dan gaji karyawan pun ikut naik. Di atas kertas, ini adalah cerita sukses yang seharusnya menjadi contoh BUMN perkebunan lainnya. Tapi kenyataannya? Di balik panggung keberhasilan itu, bara konflik internal menyala pelan, seperti api dalam sekam yang siap membakar kapan saja.
Sejak aksi demonstrasi SPBUN beberapa waktu lalu, arah angin di tubuh perusahaan mulai bergeser. Orang nomor satu di PTPN IV Regional 6 KSO resmi diganti. Tidak berhenti di situ, beredar kabar beberapa kursi manajemen strategis lainnya juga akan dirombak. Ironisnya, semua ini terjadi justru ketika perusahaan sedang menorehkan catatan positif.
Pergantian manajemen memang hal biasa di dunia korporasi. Tetapi mengguncang susunan manajemen ketika perusahaan sedang melaju kencang ibarat mengganti nakhoda dan awak kapal di tengah badai, risiko karam jadi lebih besar. Pertanyaannya, apa urgensi perombakan ini? Apakah ini murni demi penyegaran, atau ada agenda lain yang sedang dimainkan?
Dalam industri perkebunan, stabilitas manajemen adalah separuh dari kinerja. Mengganti orang di tengah tren positif tanpa alasan yang jelas sama saja mempertaruhkan nasib ribuan karyawan yang bergantung pada keberlangsungan perusahaan.
Demo SPBUN memang menjadi titik awal perubahan peta kekuasaan di internal PTPN IV Regional 6 KSO. Tapi publik berhak curiga: apakah aksi tersebut murni suara pekerja, atau ada kepentingan lain yang menungganginya? Fakta bahwa pergantian pucuk pimpinan langsung menyusul membuat spekulasi ini kian menguat.
Kita tahu, di tubuh BUMN, jabatan strategis sering kali jadi rebutan bukan hanya karena gaji dan fasilitas, tapi juga karena akses terhadap proyek, kontrak, dan jaringan bisnis. Jika benar ada kepentingan seperti itu di balik gejolak ini, maka jelas, yang sedang dimainkan bukan sekadar restrukturisasi, tetapi perebutan kendali sumber daya.
Momentum peningkatan produksi dan keuntungan PTPN IV Regional 6 KSO Langsa adalah “lumbung padi” yang seharusnya dijaga. Tapi jika bara intrik terus dibiarkan, bukan hanya produksi yang terancam turun, moral karyawan pun bisa runtuh. Perusahaan bisa saja kembali ke titik stagnasi hanya karena energi internal dihabiskan untuk perang posisi.
Kita bicara tentang BUMN yang dibiayai negara dan bekerja untuk kepentingan publik. Maka setiap kebijakan yang berpotensi mengganggu kinerja harus dikaji secara terbuka, bukan diam-diam di ruang rapat tertutup. Publik berhak tahu: mengapa orang yang memimpin di tengah keberhasilan harus diganti?
Bisnis perkebunan tidak seperti menyalakan dan mematikan lampu. Meningkatkan produksi butuh strategi jangka panjang, koordinasi yang rapi, dan kepercayaan penuh antara manajemen dan pekerja. Mengganti manajemen di saat mesin sedang panas sama saja mematikan ritme kerja yang sudah dibangun susah payah.
Karyawan mungkin akan terus bekerja, tetapi tanpa kepastian arah dan pemimpin yang mereka percayai, motivasi bisa tergerus. Dan ketika motivasi runtuh, angka-angka di laporan keuangan hanya tinggal nostalgia.
Kasus PTPN IV Regional 6 KSO Langsa ini bukan urusan internal semata. Karena ini BUMN, publik berhak mengawasi, media berhak mengkritik, dan DPR, sebagai pengawas, berkewajiban memanggil direksi untuk menjelaskan secara transparan alasan perombakan ini.
Jangan sampai ini menjadi pola umum di BUMN: setiap kali ada performa bagus, yang terjadi bukan penghargaan, melainkan pergantian. Sebab kalau itu yang terjadi, kita harus bertanya: apakah kita sedang membangun perusahaan untuk maju, atau hanya memelihara ladang kepentingan?
Api dalam sekam ini harus dipadamkan sebelum membesar. Caranya sederhana: buka alasan perombakan ke publik, pastikan tidak ada kepentingan pribadi yang menunggangi, dan jaga agar setiap perubahan tidak merusak momentum keberhasilan.
Keberhasilan PTPN IV Regional 6 KSO Langsa adalah aset. Tapi tanpa stabilitas, aset itu hanya akan menjadi cerita indah yang cepat terlupakan. Dan jika ini dibiarkan, sejarah akan mencatat bahwa di tengah panen keberhasilan, perusahaan justru hancur oleh api yang dibakar dari dalam. (#)