Bitung | Tribuneindonesia.com – Sebuah momentum rekonsiliasi penting baru saja terjadi di Kota Bitung. Dugaan kasus ujaran bernuansa rasisme yang sempat menyeret Komandan Satuan Patroli (Dansatrol) Kodaeral VIII Bitung, Kolonel Laut (P) Marvill Marfel Frits E.D, akhirnya resmi berakhir lewat musyawarah secara kekeluargaan, Senin (25/05/26).
Langkah damai ini diambil menyusul ketegangan publik yang sempat meresahkan warga pasca-beredarnya potongan pernyataan terduga di ruang digital.
Untuk meredam polemik, sebuah pertemuan klarifikasi langsung digelar bersama Ketua Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) Sulawesi Utara, Ahmad Nuri.
Meja dialog yang dihadiri kedua belah pihak tersebut berjalan dengan penuh ketenangan dan keterbukaan.
Pertemuan ini sekaligus menjadi babak baru yang menghapus segala bentuk kecurigaan maupun sentimen negatif di tengah masyarakat plural.
Di hadapan para tokoh masyarakat dan jurnalis pada Minggu (24/5), Kolonel Marvill menegaskan komitmen moralnya.
Perwira menengah TNI Angkatan Laut ini menyatakan secara jujur bahwa tidak ada niat sedikit pun dari instansinya untuk menyerang etnis tertentu.
Marvill menjabarkan bahwa argumen yang sempat dilontarkannya di hadapan media beberapa waktu lalu merupakan sebuah kekeliruan jika diartikan sebagai tindakan rasisme.
Ia menekankan bahwa ucapan tersebut murni merupakan curahan hati spontan di lapangan.
Ia juga menegaskan bahwa kalimat tersebut bukanlah representasi dari sikap resmi maupun kebijakan struktural Satrol Kodaeral VIII Bitung.
Oleh karena itu, tudingan mengenai adanya tindakan diskriminatif yang sistematis langsung terbantahkan dalam klarifikasi tersebut.
Sejak awal mengemban amanah tongkat komando di Bitung, Marvill mengaku selalu menaruh hormat pada keberagaman.
Dirinya mengklaim memiliki rekam jejak yang dekat dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk paguyuban KKJ Sulut.
Bagi Marvill, membangun silaturahmi lintas suku dan budaya di Sulawesi Utara bukan sekadar tugas formal, melainkan bagian dari hobi dan komitmen pribadinya.
Upaya ini dilakukan secara konsisten demi menjaga stabilitas keamanan di wilayah maritim Bitung.
Mendengar penjelasan runut dan tulus tersebut, Ketua KKJ Sulut, Ahmad Nuri, langsung memberikan respons positif. Mewakili keluarga besar KKJ, Nuri menyambut baik klarifikasi tersebut dengan tingkat kedewasaan yang tinggi.
Nuri menegaskan bahwa setelah adanya tatap muka langsung ini, permasalahan antara KKJ, Dansatrol, dan awak media dianggap sudah selesai.
Pihaknya menilai ada kesungguhan dari pihak TNI AL untuk memperbaiki pola komunikasi ke depan.
”Kami melihat komitmen Dansatrol untuk menjaga kerukunan sangat kuat. Silaturahmi seperti ini yang harus terus dibangun,”
ungkap Ahmad Nuri sembari menyunggingkan senyum di akhir pernyataannya.
Selain menyelesaikan kesalahpahaman dengan tokoh etnis, forum tersebut juga berfungsi sebagai sarana islah antara Dansatrol dengan para jurnalis.
Hubungan kedua belah pihak sempat meregang akibat disinformasi yang berkembang cepat.
Dengan sikap kesatria, Dansatrol mengakui bahwa tata cara komunikasi publiknya memang memerlukan evaluasi dan perbaikan.
Di sisi lain, insan pers yang hadir juga menerima dinamika tersebut sebagai bagian dari evaluasi pentingnya prinsip verifikasi.
Proses islah yang berlangsung hangat ini berjalan murni atas dasar kesadaran bersama tanpa menyisakan syarat atau tuntutan yang memberatkan. Kedua belah pihak memilih fokus pada masa depan kerukunan wilayah.
Melalui kesepakatan bersama ini, dipastikan tidak ada lagi upaya hukum lanjutan maupun tekanan sosial dari pihak manapun.
Polemik yang sempat memicu perdebatan hangat di media sosial kini dinyatakan telah tuntas di meja perundingan.
Kedua tokoh ini kemudian mengimbau seluruh lapisan masyarakat Bitung untuk memetik hikmah penting dari peristiwa ini.
Mereka mengingatkan publik akan pentingnya menyaring informasi dengan hati-hati dan menghindari pengambilan kesimpulan sepihak.
Kini, dengan tercapainya perdamaian tersebut, situasi di Kota Bitung dipastikan telah kembali kondusif sepenuhnya.
Pertemuan diakhiri dengan jabat tangan erat dan sesi dokumentasi bersama antara Dansatrol dan jajaran pengurus KKJ Sulut sebagai simbol persatuan. (∗∗)















