​Melintasi Dimensi Langit: Menelusuri Jejak Spiritual Isra Mi’raj Sang Pembawa Pelita

- Editor

Sabtu, 17 Januari 2026 - 01:33

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​Penulis (Tamrin)

TribuneIndonesia.com | Peristiwa Isra Mi’raj tetap menjadi salah satu tonggak sejarah paling fenomenal dalam peradaban Islam, Sabtu (17/01/26).

Perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah manifestasi kekuasaan Ilahi yang menembus batas logika manusia pada zamannya hingga saat ini.

​Sejarah mencatat bahwa perjalanan ini terjadi di tengah periode krusial perjuangan sang Nabi.

Di tengah duka dan tantangan dakwah di Mekah, Sang Pembawa Pelita Bumi diperjalankan dalam sebuah ekspedisi lintas dimensi yang menghubungkan dua titik suci di bumi sebelum melesat menuju petala langit.

​Secara tekstual, legitimasi utama peristiwa ini tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an. Surah Al-Isra ayat 1 menjadi naskah autentik yang membuka tabir misteri tersebut dengan kalimat tasbih yang agung:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.”

​Ayat tersebut merinci rute awal perjalanan, yakni dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina.

Kawasan yang diberkahi sekelilingnya tersebut dipilih Allah sebagai lokasi transit sebelum sang Nabi mendaki menuju Sidratul Muntaha.

​Tujuan utama dari perjalanan tersebut, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, adalah

“untuk memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.”

Hal ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah sebuah tur edukasi teologis bagi Rasulullah SAW.

​Namun, di balik keagungannya, berita mengenai perjalanan ini sempat memicu kegaduhan hebat di kalangan penduduk Mekah.

Kontroversi merebak ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan perjalanan ribuan kilometer yang ditempuh hanya dalam waktu satu malam.

​Bagi kaum musyrikin saat itu, narasi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang mustahil.

Logika manusia pada abad ke-7 yang sangat bergantung pada kecepatan tunggangan unta dan kuda, tidak mampu menjangkau hakikat perjalanan yang melampaui kecepatan cahaya tersebut.

​Meski demikian, bagi mereka yang memiliki kemantapan iman, peristiwa ini menjadi ujian sekaligus penyaring kualitas ketauhidan.

Keimanan yang kokoh tidak memerlukan saksi manusia, melainkan cukup berpegang pada otoritas wahyu yang disampaikan oleh lisan yang jujur (As-Siddiq).

​Dukungan terhadap kebenaran peristiwa ini semakin diperkuat oleh catatan hadits sahih yang sangat detail.

Salah satunya adalah riwayat dari Aisyah Ummul Mu’minin, Abdullah bin Mas’ud, dan Abu Hurairah yang tercatat dalam Shahih Bukhari nomor 349.

​Hadits tersebut mengisahkan persiapan fisik dan spiritual yang dialami Nabi sebelum memulai perjalanan.

Dikisahkan bahwa saat beliau berada di Mekah, atap rumah beliau dibuka dan Malaikat Jibril turun menghampiri.

Baca Juga:  ​Kematian Balita di Rumah Kos Bitung, Polisi Dalami Keterangan Saksi dan Bukti Medis

​Prosesi yang sangat sakral dimulai dengan pembersihan hati. Jibril membelah dada Nabi dan mencucinya dengan air Zamzam, sebuah ritual simbolis penyucian jiwa dari segala unsur duniawi sebelum memasuki dimensi yang lebih tinggi.

​Lebih lanjut, hadits tersebut merinci bahwa Jibril membawa bejana emas yang berisi penuh dengan hikmah dan iman.

Isi bejana tersebut kemudian dituangkan ke dalam dada sang Nabi, sebagai bekal spiritual untuk menahan beban realitas langit yang akan beliau saksikan.

​”Kemudian ia memegang tanganku dan membawaku ke langit dunia,”

Demikian sabda Rasulullah SAW dalam penggalan hadits tersebut.

Kalimat ini menjadi titik awal keberangkatan sang Nabi meninggalkan gravitasi bumi menuju lapisan-lapisan langit yang penuh dengan rahasia kekuasaan Tuhan.

​Para jurnalis sejarah Islam menekankan bahwa aspek “iman dan hikmah” yang dimasukkan ke dalam dada Nabi adalah kunci utama.

Tanpa persiapan supranatural tersebut, raga manusia biasa mustahil mampu menembus batas-batas langit yang terlarang bagi makhluk lainnya.

​Di setiap tingkatan langit, Nabi Muhammad SAW dipertemukan dengan para pendahulu dari kalangan nabi dan rasul.

Pertemuan ini melambangkan kontinuitas risalah samawi yang dibawa dari masa ke masa, hingga berakhir pada syariat yang beliau emban.

​Keyakinan para sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq saat itu menjadi standar bagi orang beriman hingga masa kini.

Baginya, jika Allah yang berkehendak dan Muhammad yang berucap, maka keraguan tidak memiliki ruang untuk bertumbuh sedikitpun.

​Kejadian ini juga menjadi bukti bahwa teknologi Tuhan melampaui segala bentuk kecanggihan material manusia.

Jika hari ini manusia berbicara tentang teori relativitas waktu, maka Isra Mi’raj telah mempraktikkannya belasan abad yang lalu.

​Hingga saat ini, umat Islam memperingati Isra Mi’raj bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, melainkan sebagai refleksi atas kewajiban shalat lima waktu.

Perintah ibadah tersebut diterima langsung oleh Nabi di puncak perjalanan tanpa perantara.

​Sebagai penutup narasi spiritual ini, jelas bahwa Isra Mi’raj adalah bukti nyata bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dia tidak membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian dalam kesulitan, melainkan memberikan penguatan melalui mukjizat yang tak tertandingi.

​Perjalanan menembus petala langit itu benar-benar terjadi, bukan sebagai mimpi, melainkan sebagai realitas fisik dan ruhani.

Bagi orang yang beriman, firman Allah dan dukungan hadits tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan hati akan kebesaran Sang Pencipta semesta. (Talia)

Berita Terkait

Akselerasi Pembangunan Jembatan Perintis Garuda, Babinsa Kodim 1310/Bitung Terjun Langsung ke Lapangan
Wujudkan Lingkungan Sehat, Kodim 1310/Bitung Pimpin Gerakan Indonesia ASRI di Pantai Kambahu
​Dedikasi Keamanan Berbuah Penghargaan, Kapolres Bitung Dinobatkan Sebagai Bapak Perdamaian
Gagalkan Tawuran di Pateten Dua, Polres Bitung Amankan Dua Pelaku Beserta Senjata Tajam
Pendiri Perkemi Indra Kartasasmita Berpulang ke Rahmatullah
​Bukan Tanah Tak Bertuan: Masyarakat Kasawari-Makawide Desak Pembangunan Tanpa Penggusuran Hak
Lari Sprint hingga Aksi MMA: Kemeriahan Kapolres Cup Bitung Ubah Jalan Sam Ratulangi Jadi Panggung Prestasi
Berangkat dari Hobi, Helsgallery Tumbuh Jadi Brand Perhiasan Custom Berkelas
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 02:33

Akselerasi Pembangunan Jembatan Perintis Garuda, Babinsa Kodim 1310/Bitung Terjun Langsung ke Lapangan

Sabtu, 25 April 2026 - 15:42

​Dedikasi Keamanan Berbuah Penghargaan, Kapolres Bitung Dinobatkan Sebagai Bapak Perdamaian

Sabtu, 25 April 2026 - 14:28

Gagalkan Tawuran di Pateten Dua, Polres Bitung Amankan Dua Pelaku Beserta Senjata Tajam

Sabtu, 25 April 2026 - 13:44

Pendiri Perkemi Indra Kartasasmita Berpulang ke Rahmatullah

Sabtu, 25 April 2026 - 13:23

​Bukan Tanah Tak Bertuan: Masyarakat Kasawari-Makawide Desak Pembangunan Tanpa Penggusuran Hak

Sabtu, 25 April 2026 - 10:03

Lari Sprint hingga Aksi MMA: Kemeriahan Kapolres Cup Bitung Ubah Jalan Sam Ratulangi Jadi Panggung Prestasi

Sabtu, 25 April 2026 - 09:53

Berangkat dari Hobi, Helsgallery Tumbuh Jadi Brand Perhiasan Custom Berkelas

Sabtu, 25 April 2026 - 08:11

Langkah Cepat Ungkap Kasus Meninggalnya Dua Pelajar, HRD Apresiasi Kapolres Bireuen dan Jajarannya

Berita Terbaru