ACEH Tamiang, | TribuneIndonesia.com — Kuah Beulangong merupakan salah satu kuliner khas Aceh yang tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang kuat, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak dahulu.
Salah satu tempat yang menyajikan kuliner khas tersebut adalah Warung Makan Meutuah Coffee Yah Ngoh, yang berada di kawasan Senebok Punti, Jalan Medan–Banda Aceh, Kabupaten Aceh Tamiang.
Yah Samsul menjelaskan kepada media, keberadaan kuah beulangong tidak terlepas dari tradisi masyarakat Aceh yang menjadikan makanan sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan persatuan.
Menurutnya, pada masa Kesultanan Aceh, raja kerap menggelar kenduri dengan sajian kuah beulangong. Dalam tradisi tersebut, masyarakat memasak secara bersama-sama dalam sebuah kegiatan yang sarat dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.
“Dahulu, kenduri kuah beulangong menjadi salah satu cara untuk mempererat persatuan masyarakat. Proses memasaknya dilakukan bersama-sama, sehingga bukan hanya soal makanan, tetapi juga membangun rasa sosial dan kebersamaan,” ujar Yah Samsul.
Ia mengatakan, tradisi tersebut membuat kuah beulangong begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Aceh. Cita rasanya yang khas menjadikan masakan berbahan dasar kari tersebut tetap digemari hingga sekarang.
Jika dahulu kuah beulangong lebih identik dengan kenduri dan perayaan tertentu, kini masyarakat dapat menikmatinya hampir setiap hari di berbagai rumah makan khas Aceh.
“Dulu mungkin lebih sering kita temui saat kenduri atau hari-hari tertentu. Sekarang kuah beulangong sudah menjadi kuliner yang bisa dinikmati masyarakat kapan saja,” katanya.
Menurut Samsul, kuah beulangong bahkan telah menjadi salah satu menu primadona dalam berbagai perayaan masyarakat Aceh. Namun seiring perkembangan kuliner, sajian tersebut tidak lagi hanya hadir dalam acara khusus.
Asap dari kuali besar berisi kuah beulangong kini dapat ditemui setiap hari di sejumlah rumah makan khas Aceh. Salah satunya adalah Warung Makan Meutuah Coffee Yah Ngoh yang berada di Senebok Punti, Jalan Medan–Banda Aceh, Aceh Tamiang.
Keberadaan warung tersebut turut menjadi salah satu pilihan masyarakat yang ingin menikmati cita rasa masakan khas Aceh dengan suasana sederhana dan akrab.
Bagi masyarakat Aceh, kuah beulangong bukan sekadar makanan. Ada cita rasa, tradisi, kebersamaan dan memori sosial yang melekat dalam setiap sajian.
Hal itu juga dirasakan Nurdin, salah seorang penikmat kuah beulangong. Ia mengaku tidak pernah merasa bosan meskipun makanan tersebut dikonsumsi hampir setiap hari.
“Kuah beulangong bagi orang Aceh itu beda. Tidak pernah bosan kita makan. Saya setiap hari makan, tapi tidak pernah bosan. Begitu khasnya kuah ini,” ujar Nurdin.
Menurutnya, kekhasan rasa kuah beulangong menjadi alasan makanan tersebut mampu bertahan dan terus digemari lintas generasi.
Di tengah semakin berkembangnya ragam kuliner modern, kuah beulangong tetap menunjukkan eksistensinya sebagai identitas kuliner Aceh. Tidak hanya menjadi hidangan untuk mengisi perut, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Warung Makan Meutuah Coffee Yah Ngoh di Senebok Punti, Jalan Medan–Banda Aceh, Aceh Tamiang, menjadi salah satu tempat yang ikut menjaga keberadaan kuliner tersebut agar tetap dekat dengan masyarakat.
Dengan aroma rempah yang khas dan cita rasa yang kuat, kuah beulangong Yah Ngoh menjadi salah satu gambaran bagaimana kuliner tradisional Aceh mampu bertahan di tengah perubahan zaman sekaligus terus mempertemukan masyarakat dalam satu meja.
















