Deli Serdang I TribuneIndonesia.com-Di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok dan beban hidup yang makin berat, para penggali kubur di Kabupaten Deli Serdang hanya bisa menggigit bibir menanti gaji yang tak kunjung turun. Satu di antaranya, Abdul Hadi,40 Thn Masyarakat Deli Serdang menyampaikan keluhan yang mewakili suara para penggali kubur lain di wilayahnya.Rabu 30 Juli 2025
“Kami ini menggali kubur, pekerjaan yang orang lain enggan lakukan. Tapi gaji kami hanya Rp150.000 per bulan dan itupun dibayarkan tiga bulan sekali. Sekarang sudah satu bulan belum juga keluar. Biasanya tak pernah telat begini.”
Keluhan tersebut bukan hanya tentang besaran gaji, melainkan tentang keterlambatan pencairan dan ketidakjelasan informasi dari pihak-pihak terkait. Abdul Hadi menyebut, ia sudah mencoba mengonfirmasi ke pihak desa dan kecamatan.
“Jawaban mereka sama, katanya belum ada dana yang turun dari Pemkab. Kecamatan dan desa hanya menyalurkan, sumber dananya dari kabupaten.”
Para penggali kubur ini merasa terpinggirkan dan kurang dihargai. Padahal mereka mengemban tugas yang mulia, namun kerap dilupakan. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan tak selalu bisa bekerja, karena pekerjaan mereka bergantung pada kejadian kematian di kampung masing-masing.
“Kalau tidak ada yang meninggal, kami tidak bekerja. Artinya penghasilan kami pun ikut macet. Jadi saat gaji dari Pemkab juga tertahan, kami sangat menderita.”
Abdul Hadi juga mengingat satu janji yang pernah terlontar dari seorang pejabat penting.
“Dulu, ketika Pak Haji masih menjabat Bupati, kami pernah dengar beliau janji akan menaikkan gaji penggali kubur. Tapi sekarang bukan naik, malah makin sulit. Janji itu tak terlihat realisasinya.”
Para penggali kubur berharap agar Dinas terkait (DIC) di lingkungan Pemkab Deli Serdang segera menindaklanjuti keluhan ini. Gaji kecil yang mereka terima menjadi tumpuan satu-satunya bagi keberlangsungan hidup, apalagi dengan keterbatasan pilihan pekerjaan lain.
“Kami bukan minta kaya, hanya berharap hak kami diberikan tepat waktu. Kami tak bisa hidup dari janji.”
Kisah Abdul Hadi dan rekan-rekannya seolah menampar realitas pelayanan publik yang masih timpang. Di tengah sorotan pembangunan infrastruktur megah dan birokrasi yang kerap membanggakan digitalisasi anggaran, penggali kubur yang menggali harapan justru terjebak dalam ketidakpastian.
Harapan mereka kini sederhana agar gaji mereka yang kecil itu segera dibayarkan dan nasib para penggali kubur tidak terus-menerus diabaikan.
Ilham TribuneIndonesia.com