Bekasi/Tribuneindonesia.com
Keadilan untuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal — Indonesia Timur, Maluku, Papua, dan daerah-daerah di ujung negeri — harus segera dibangun dan dipenuhi. Jangan pernah diabaikan, jangan dilupakan. Sebab mereka bukan orang asing, bukan orang lain — mereka adalah anak negeri, anak bangsa yang sama, yang berdiri di bagian paling depan dari peta Indonesia. Senin 10 Agustus 2026.
Pemerintah harus berani mengambil keputusan yang tepat dan tegas. Bukan janji yang diucapkan lalu hilang terbawa angin, bukan rencana yang tertulis di atas kertas saja. Yang dibutuhkan adalah kehadiran yang nyata: infrastruktur yang menyambung ke pulau-pulau kecil, sekolah yang layak untuk setiap anak, akses kesehatan yang tidak harus menempuh perjalanan berhari-hari, dan kesejahteraan yang merata — bukan hanya di satu pulau saja.
Belajarlah kepada Tiongkok. Tibet adalah wilayah yang berada jauh di perbatasan, di ketinggian, dulu dianggap sulit dijangkau dari ibu kota Beijing. Namun Tiongkok tidak membiarkannya tertinggal. Mereka membangun jalan raya, jalur kereta api yang menembus pegunungan tinggi, jembatan, rumah sakit, dan sekolah sampai ke daerah-daerah yang paling terpencil di sana. Mereka menyambungkan yang terpisah, menjangkau yang jauh — karena mereka sadar: tidak ada bagian dari bangsa ini yang boleh ditinggalkan. Di mana pun bendera berkibar, di situ negara harus hadir dan membangun.
Sangat menyedihkan ketika kekayaan yang diambil dari tanah mereka, justru tidak kembali untuk membangun mereka. Ketika yang berdiri di perbatasan negeri ini adalah mereka, tetapi yang merasakan kemajuan justru di tempat yang jauh di tengah. Apakah pantas anak bangsa yang menjaga ujung negeri ini, hidup dengan keterbatasan, sementara hasil tanahnya mengalir jauh ke tempat lain?
Seorang pemimpin yang benar-benar memimpin, tidak akan membiarkan sebagian rakyatnya tertinggal di belakang. Ia akan memastikan bahwa keadilan berjalan sampai ke ujung paling jauh dari negeri ini. Sebab bangsa ini hanya akan utuh dan kuat, bila tidak ada satu pun bagian dari saudara kita yang ditinggalkan dalam kegelapan.
Mereka ada di sana, setia menaungi bendera ini. Sudah saatnya negara hadir di sana — tidak hanya saat mengambil, tetapi juga saat membangun.



















