SORONG – Tribuneindonesia.com — Sebuah impian yang tumbuh sejak bangku SMA akhirnya menemukan jawabannya di sebuah mimbar pelayanan.
Minggu Palem, 22 Maret 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi Albertin Mega Tangkemali, M.Th. Di Jemaat Antiokhia Sorong, perempuan muda lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Theologia (STFT) Jaffray Makassar itu berdiri di mimbar dan menyampaikan firman Tuhan kepada jemaat.
Mimbar tersebut bukan tempat yang asing dalam perjalanan hidupnya. Justru dari tempat itulah, bertahun-tahun sebelumnya, sebuah impian sederhana mulai tumbuh dalam hati Albertin.
Saat masih duduk di bangku SMA, Albertin pernah menyaksikan seorang hamba Tuhan berkhotbah di Jemaat Antiokhia Sorong. Ia mendengarkan khotbah tersebut dengan penuh perhatian hingga muncul sebuah pertanyaan sederhana dalam hatinya.
“Kapan saya bisa berkhotbah seperti pendeta di atas mimbar itu?”
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi benih dari sebuah cita-cita.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Albertin bersama kedua orang tuanya mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan di bidang teologi. Pilihan itu membawanya ke STFT Jaffray Makassar.
Di kampus tersebut, Albertin menekuni pendidikan teologi sekaligus membentuk dirinya dalam kehidupan pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Berbagai tantangan dan rintangan harus dilalui selama menjalani pendidikan maupun pelayanan. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti.
Albertin memilih tetap melangkah dengan tekad dan rasa syukur.
Ketekunannya dalam pelayanan kemudian membuat dirinya dipercaya untuk mengambil bagian dalam pelayanan di tengah jemaat. Kehadirannya pun mendapat apresiasi dari para pelayan Tuhan dan jemaat, baik di lingkungan Antiokhia maupun di luar jemaat tersebut.
Hingga akhirnya, impian yang dahulu hanya berupa pertanyaan seorang siswi SMA itu menjadi kenyataan.
Pada Minggu Palem, 22 Maret 2026, Albertin berdiri di mimbar yang dahulu hanya bisa dipandanginya sebagai seorang pelajar.
Ia menyampaikan khotbah berdasarkan Injil Matius 21:1-11 dengan tema “Yesus Dielu-elukan di Yerusalem.”
Dalam khotbahnya, Albertin mengajak jemaat memahami makna kedatangan Yesus ke Yerusalem. Menurutnya, Yesus datang dengan cara yang berbeda. Ia tidak datang dengan kemewahan maupun kekuasaan duniawi, tetapi dengan kerendahan hati.
Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai muda. Bagi Albertin, hal tersebut menggambarkan Yesus sebagai Raja Damai yang datang membawa kasih, keselamatan, dan pengharapan.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan umat Tuhan.
Menurutnya, dunia sering mengajarkan manusia untuk tampil hebat dan mendapatkan penghormatan. Namun, kehidupan Yesus justru memperlihatkan teladan kerendahan hati.
Karena itu, umat Tuhan dipanggil untuk menerapkan kerendahan hati bukan hanya dalam pelayanan, tetapi juga dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Albertin juga mengingatkan jemaat bahwa sorak-sorai kepada Yesus tidak selalu berarti seseorang benar-benar mengenal dan percaya kepada-Nya.
Orang-orang yang menyambut Yesus dengan sorak-sorai di Yerusalem kemudian menghadapi perubahan sikap beberapa hari setelahnya. Dari peristiwa tersebut, jemaat diajak untuk tidak menjadikan iman sekadar emosi sesaat.
“Apakah kita hanya memuji Tuhan saat keadaan baik? Ataukah kita tetap setia saat menghadapi kesulitan dan pergumulan?” demikian pesan yang disampaikan dalam khotbahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kedatangan Yesus ke Yerusalem merupakan bagian dari jalan menuju salib. Yesus mengetahui penderitaan yang akan dihadapi, tetapi tetap menjalani-Nya karena kasih kepada manusia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi umat agar tidak takut datang kepada Tuhan di tengah berbagai pergumulan kehidupan.
Bagi Albertin, perjalanan dari bangku SMA hingga berdiri di mimbar pelayanan menjadi bagian dari proses panjang yang dipenuhi doa, pendidikan, perjuangan, dan ketekunan.
Mimpi yang dahulu lahir dari sebuah pertanyaan sederhana akhirnya menjadi kenyataan.
Dari seorang siswi yang pernah bertanya kapan dirinya dapat berkhotbah di atas mimbar, kini Albertin Mega Tangkemali telah mengambil bagian dalam pelayanan dan menyampaikan firman Tuhan di hadapan jemaat.
Perjalanan itu menjadi gambaran bahwa sebuah cita-cita dapat bertumbuh ketika disertai keyakinan, perjuangan, doa, dan ketekunan dalam menjalaninya.






















