Dijajah dalam Kata Merdeka

- Editor

Minggu, 27 Juli 2025 - 12:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Refleksi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

Caption : Refleksi menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

Oleh: Chaidir Toweren

TribuneIndonesia.com

Indonesia genap berusia 80 tahun pada 17 Agustus 2025. Delapan dekade sejak Proklamasi dikumandangkan, delapan dekade sejak bangsa ini bangkit dari belenggu kolonial dan berdiri di atas kaki sendiri, menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka.

Namun kini, ketika kita telah melewati delapan puluh tahun kemerdekaan, pertanyaan mendasar masih terus mengusik, apakah rakyat benar-benar telah merdeka?

Saya berdiri di antrean panjang SPBU, menyaksikan petani tua menggenggam jerigen kosong demi beberapa liter solar untuk menghidupkan mesin air yang akan menyiram ladangnya. Saya melihat ibu-ibu pulang dengan karung kosong, karena pupuk subsidi yang dijanjikan negara tak kunjung tersedia. Ibu-ibu menenteng tabung gas menunggu antrian. Anak-anak muda di desa kami memilih merantau karena ladang tak lagi memberi harapan.

Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan yang dipenuhi panggung-panggung megah, parade militer, dan tayangan nasionalisme di televisi, kenyataan di pelosok negeri ini justru menyuarakan sesuatu yang lain. Sebuah realitas pahit yang tak banyak disentuh  kemerdekaan yang masih belum menyentuh akar rumput.

Tanah kami tanah yang subur. Negeri ini dikaruniai limpahan sumber daya, hutan, laut, tambang, dan hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang. Tapi kekayaan ini tak pernah benar-benar berpihak pada rakyat yang mengolahnya. Petani masih miskin. Nelayan masih berjuang. Buruh masih gigit jari. Padahal mereka yang paling pertama menyentuh tanah dan paling paham cara merawatnya.

Kami dijajah bukan lagi oleh bangsa asing, tapi oleh sistem yang tak berpihak. Kami diperintah oleh kebijakan yang lahir jauh dari kenyataan rakyat kecil. Kami hidup dalam bayang-bayang angka-angka di lembar anggaran, yang tak pernah menjelma menjadi kesejahteraan nyata.

Pemerintah bicara tentang kedaulatan energi, tapi di desa kami rakyat antre solar berjam-jam, rakyat berjam-jam antre membeli gas. Pemerintah bicara tentang ketahanan pangan, tapi petani sulit menanam karena pupuk langka dan mahal. Pemerintah bicara tentang pemerataan ekonomi, tapi harga hasil panen kami ditentukan pasar yang tak berpihak.

Lalu kami dipaksa untuk tetap percaya bahwa ini semua bagian dari proses pembangunan.

Lebih menyakitkan lagi, di usia 80 tahun kemerdekaan ini, rakyat masih harus membayar mahal untuk tinggal di tanahnya sendiri. Pajak bumi dan bangunan dipungut setiap tahun, meski jalan ke rumah masih rusak, air bersih tak sampai, dan pelayanan publik nyaris tak terasa.

Baca Juga:  Suara Reformasi dari Arief Martha Rahadyan: Lawan Korupsi, Buka Kesempatan untuk Generasi Bangsa

Pajak kendaraan tetap harus dibayar, bahkan saat motor tua kami hanya dipakai ke ladang. Gaji kecil tetap dipotong pajak, meski tak cukup untuk hidup sebulan. Ketika kami telat membayar, negara hadir dengan surat teguran dan denda. Saat rakyat meminta bantuan, negara hadir dengan birokrasi yang rumit dan janji yang kosong.

Rakyat seperti kami hidup dalam dua wajah negara: tegas saat menagih, tapi abai saat melayani.

Mereka yang duduk di kursi kekuasaan mungkin tak pernah tahu rasanya bertani tanpa pupuk. Mereka yang menyusun kebijakan anggaran mungkin tak pernah antre di SPBU saat fajar, hanya untuk mengisi jerigen demi satu hari kerja di sawah. Mereka yang membahas pembangunan pertanian mungkin tak pernah berjalan di pematang yang retak karena kekeringan, atau ladang yang mati karena pupuk tak tersedia.

Kemerdekaan seharusnya bermakna keadilan. Keadilan dalam mendapatkan hak dasar: pangan, energi, kesehatan, pendidikan. Tapi keadilan itu kini hanya hidup dalam pidato, bukan dalam kehidupan sehari-hari rakyat kecil.

Kami bukan tidak bersyukur atas kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa. Kami hanya kecewa, karena kemerdekaan itu belum dirasakan secara utuh. Kami bukan hendak memberontak. Kami hanya ingin didengar, dilihat, dan diperlakukan sebagai warga negara, bukan sekadar angka statistik dalam laporan pembangunan.

Kekecewaan ini tumbuh dari ketidakadilan yang terus-menerus diabaikan. Ketika suara rakyat kecil tidak sampai ke ruang-ruang keputusan, maka demokrasi tinggal prosedur, dan kemerdekaan tinggal simbol.

Maka pada usia ke-80 kemerdekaan ini, mari kita jujur, Indonesia belum sepenuhnya bebas.

Selama rakyat harus antre untuk BBM yang menjadi haknya, selama pupuk subsidi hanya jadi data di atas meja, selama petani terus merugi, selama rakyat kecil harus terus membayar untuk hak-haknya sendiri, maka kemerdekaan belum menjadi kenyataan.

Dan jika kemerdekaan hanya tinggal nama, maka kita semua sedang dijajah. Dijajah dalam diam. Dijajah oleh sistem. Dijajah dalam kata yang terus kita agung-agungkan setiap Agustus “merdeka.”

Penulis adalah anak dari seorang Veteran, kini aktif sebagai seniman politik lokal Aceh.

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Mengemuka, Tersangka Tak Kunjung Ada: Ketua LKGSAI Saidul Angkat Bicara
Angkat Bicara, Anggota LSM KPK RI Saidul Amran: “Kalau Dugaan Penyimpangan Terus Bermunculan Tapi Tak Ada Respons, Publik Berhak Curiga Ada yang Salah”
Jadup Bukan Sulap: Jangan Politisasi Perjuangan, Beri Kesempatan Jeffry Sentana Bekerja
Negara ikut Melegalkan Korupsi melalui Metode Tender Epurchasing, Ekatalog untuk Pengadaan Barang dan Mini Kompetisi untuk pekerjaan Konstruksi.
 HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH PERKATAAN TUHAN, BUKAN OLEH PERKATAAN MANUSIA 
Lebih Baik Seperti Anjing Gila daripada Seperti Anjing Mati
Putusan MA Diabaikan, Lamsin SKD Angkat Bicara: “Jangan Permainkan Hukum Negara”
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:39

​AKBP Albert Zai Turun Lapangan, Semarak Kapolres Cup Bitung Makin Sengit

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:41

Kilas Balik Sejarah: Mengapa 1 Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Islam?

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:07

Tampil Produktif, Penyerang RR FC Daniel Hendatu Raih Top Scorer Youth Kampis Cup 2026

Selasa, 16 Juni 2026 - 03:39

​Lewat Ucapan Selamat 1 Muharram, Pemkot Bitung Gaungkan Jargon “Hijrah untuk Berbenah”

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:23

​Hujan Lebat Picu Bencana di Sejumlah Kelurahan, Plt Kalakas BPBD Bitung Turun Lapangan

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:54

​Borong Penghargaan di HKG ke-54 Sulut, TP-PKK Kota Bitung Ukir Prestasi Gemilang

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:29

Khidmat dan Syahdu, Ratusan Jemaah Masjid Al Muttaqien Bitung Sambut Tahun Baru 1 Muharram 1448 H

Senin, 15 Juni 2026 - 13:17

Peringati 1 Muharram 1448 H,Wabup Bireuen Ajak Masyarakat Jadikan Hijrah Momentum Muhasabah Diri

Berita Terbaru

Pemerintahan dan Berita Daerah

Deli Serdang Sukses Dukung Pembukaan MTQ Sumut 2026 di Astaka Pancing

Selasa, 16 Jun 2026 - 13:28

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x