Langsa | TribuneIndonesia.com – Pencairan dana stimulan bagi korban dan masyarakat terdampak banjir oleh Pemerintah Kota Langsa dinilai tidak hanya membantu meringankan beban masyarakat, tetapi juga mulai memberikan dampak positif terhadap roda perekonomian di daerah tersebut. Perputaran uang di sejumlah sektor usaha terlihat meningkat seiring masyarakat mulai membelanjakan bantuan yang diterima untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ketua Persatuan Wartawan Kota Langsa (PERWAL), Chaidir Toweren, menilai pencairan dana stimulan tersebut menjadi suntikan ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat pascabanjir.
“Daya beli masyarakat mulai meningkat. Kita bisa melihat aktivitas di pasar tradisional, toko bangunan, toko perabot rumah tangga hingga pelaku UMKM mulai kembali bergeliat. Dana yang disalurkan pemerintah ternyata bukan hanya membantu korban, tetapi juga menghidupkan kembali perputaran ekonomi lokal,” ujar Chaidir.
Menurutnya, bencana banjir sebelumnya membuat banyak warga kehilangan perabot rumah tangga, mengalami kerusakan tempat tinggal, bahkan kehilangan sebagian mata pencaharian. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat menahan pengeluaran karena keterbatasan ekonomi.
Namun setelah bantuan mulai dicairkan, masyarakat kembali membeli kebutuhan pokok, perabot rumah tangga, material bangunan hingga perlengkapan lainnya. Dampaknya mulai dirasakan oleh para pedagang yang sebelumnya mengeluhkan lesunya transaksi.
“Efek berganda (multiplier effect) mulai terlihat. Ketika masyarakat memiliki uang, maka mereka akan berbelanja. Pedagang memperoleh keuntungan, distributor kembali bergerak, dan ekonomi daerah ikut berputar. Ini menjadi bukti bahwa bantuan sosial yang disalurkan secara tepat sasaran mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Langsa juga memberikan kepastian kepada masyarakat yang hingga kini belum menerima bantuan. Pemerintah menyampaikan bahwa warga yang memenuhi persyaratan namun belum terakomodasi akan diupayakan masuk dalam pencairan tahap ketiga. Pernyataan tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian sekaligus mengurangi keresahan masyarakat yang masih menunggu realisasi bantuan.
Meski demikian, Chaidir mengingatkan agar proses pendataan dan penyaluran pada tahap berikutnya dilakukan secara transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik pilih kasih. Menurutnya, keadilan dalam penyaluran bantuan merupakan kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Jangan sampai muncul persepsi adanya warga yang layak justru terlewat, sementara yang tidak memenuhi kriteria menerima bantuan. Pemerintah harus memastikan seluruh proses dilakukan secara terbuka agar tidak menimbulkan polemik baru di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Langsa yang tetap berkomitmen melanjutkan penyaluran bantuan bagi warga yang belum menerima haknya. Langkah tersebut dinilai menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi pascabencana.
Ke depan, masyarakat berharap proses pencairan tahap ketiga dapat segera direalisasikan sehingga seluruh korban dan warga terdampak banjir memperoleh hak yang sama. Dengan demikian, pemulihan ekonomi dapat berlangsung lebih cepat, usaha-usaha kecil kembali tumbuh, dan aktivitas perdagangan di Kota Langsa semakin menggeliat.
Pencairan dana stimulan ini menjadi bukti bahwa bantuan pemerintah bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap korban bencana, tetapi juga instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi daerah. Ketika bantuan tersalurkan tepat sasaran dan tepat waktu, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima, melainkan juga oleh pelaku usaha dan masyarakat secara luas. Pemerintah kini ditantang untuk memastikan tahap ketiga berjalan lebih cepat, lebih tepat, dan lebih transparan agar proses pemulihan Kota Langsa semakin kuat dan merata. (I)















