Bitung | Tribuneindonesia.com – Masyarakat Gorontalo kembali memupuk tali silaturahmi sekaligus memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M melalui pergelaran peringatan Maulid Nabi yang diinisiasi oleh Pengurus Tinelo Dana-Dana. Sabtu (26/09/26).
Acara keagamaan penuh khidmat tersebut bertempat di masjid Al Ihklas Girian Permai Kota Bitung sejak malam hari hingga berlanjut pada pagi hari.
Suasana kehangatan serta kebersamaan terpancar jelas sewaktu keluarga besar dan warga sekitar berkumpul dalam momen silaturahmi ini. Perhelatan tersebut dirancang bukan sekadar untuk mempererat rasa kekeluargaan antaranggota dan generasi muda, melainkan juga untuk merawat tradisi budaya lokal serta nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Ustaz Sutarman Mahmud menyampaikan rasa syukur yang mendalam sewaktu melihat antusiasme dan keterlibatan seluruh elemen keluarga besar yang hadir.
Menurutnya, kehadiran anak-anak hingga generasi muda menjadi bukti nyata bahwa ikatan kekeluargaan tetap terjalin erat walau tidak seluruh orang dapat bertatap muka secara langsung setiap hari.
Di tengah penyampaiannya, Ustaz Sutarman Mahmud mengupas secara mendalam makna tradisi kuliner khas Gorontalo bernama toyogo yang sarat akan nilai budaya.
Sutarman menjelaskan bahwa secara etimologi kata toyogo berakar dari kata toyyib dalam bahasa Arab, yang mengandung arti kebaikan yang dikerjakan oleh manusia.
Keunikan toyogo terlihat dari anyaman daun kelapa muda (janur) yang membungkusnya, di mana setiap bagiannya memuat filosofi kehidupan yang sangat kuat.
Pohon kelapa menyimbolkan kebermanfaatan penuh bagi sesama, sedangkan batangnya yang menjulang tinggi menggambarkan keteguhan prinsip yang tidak gampang goyah walau diterpa rintangan angin kehidupan.
”Toyongo atau toyogo itu dalam bahasa Arab berakar dari kata toyyib, yang bermakna kebaikan yang kita buat. Mengapa harus dianyam dari daun kelapa? Karena seluruh bagian pohon kelapa itu bermanfaat, dan batangnya menjulang tinggi walaupun diterpa angin, ia tetap berdiri kokoh,”
ujar Ustaz Sutarman Mahmud saat menguraikan makna tradisi tersebut.
Ia juga memaparkan simbolisme tolangga atau tilangga yang menempati posisi lebih tinggi sebagai lambang keluhuran martabat dalam pandangan masyarakat Gorontalo.
Selain itu, penggunaan janur kuning (lomahu) melambangkan harapan akan kemakmuran serta keberkahan hidup, sehingga sajian toyogo kerap menjadi rebutan warga karena nilai sosial dan keindahannya.
Meski membutuhkan ketelitian ekstra serta teknik menganyam yang rumit, warga setempat tetap konsisten menghadirkan sajian ini dalam tiap perhelatan penting.
Di balik bungkus anyamannya, toyogo menyajikan perpaduan hidangan khas seperti nasi kuning, nasi putih, bilili (qabuli), hingga waji yang merekam jejak sejarah akulturasi budaya Arab dan Gorontalo sekaligus menjadi simbol penghormatan kepada tamu.
Rangkaian acara peringatan Maulid Nabi ini juga diisi dengan majelis zikir dan pengajian keagamaan yang dipimpin oleh para tokoh agama serta tokoh masyarakat setempat. Seluruh jamaah mengikuti jalannya ritual zikir dengan penuh khusyuk sejak malam hingga pagi hari.
Pada tahun ini, panitia mengusung tema besar “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW untuk memperkuat kebersamaan, Kerukunan dan semangat kekeluargaan dalam Organisasi”. Tema ini dipilih guna menegaskan kembali pentingnya penguatan nilai persaudaraan di dalam wadah organisasi maupun kehidupan sehari-hari.
Sederet tokoh penting tampak menghadiri kegiatan yang diinisiasi oleh Pengurus Tinelo Dana-Dana ini. Jajaran pengurus Lamahu yang hadir di antaranya Ketua Azhari Laisa, S.Sos., Sekretaris Dra. Hj. Ratna Otoluwa, dan Bendahara Hj. Susilawaty Huntoyungo, serta didampingi oleh Ketua BPD beserta unsur pimpinan masyarakat setempat.
Perwakilan dari Bandhayo turut memeriahkan acara dengan hadirnya Hi. Tamrin Gani, S.E., dan Aiptu (Purn.) Hi. Hajir Eyato, serta dihadiri pula oleh Ketua Wolihi Motinelo, Karlin Paneo, S.Sos. Kehadiran para pimpinan lembaga adat dan organisasi ini menambah kekhidmatan jalinan silaturahmi.
Elemen dari Tontoyu’o juga tampak memadati tempat acara, di antaranya Ketua Karlin Paneo, S.Pd., Sekretaris Anton Bobihu, Bendahara Margarethaa Abdullah, serta Pembina Letkol (Purn.) Yasi.
Kehadiran para ulama dan tokoh masyarakat ini mempertegas komitmen bersama dalam menjaga tradisi keagamaan.
Dalam sesi ceramah keagamaan, penceramah ustadzah Habib Idrus Bin Abubakar Al Jufri menggarisbawahi pentingnya memaknai zikir secara lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa zikir tidak sebatas ucapan lisan kepada Allah SWT, tetapi juga mencakup tindakan nyata meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW serta menebar kebaikan kepada sesama manusia.

”Siapa pun yang mencintai sesuatu, tentu ia akan senantiasa mengingat dan menyatakannya dalam kehidupan sehari-hari,”
ujar ustadzah Abubakar di hadapan para jamaah yang menyimak dengan penuh perhatian.
Lebih lanjut, Ustadzah Abubakar mengulas keharmonisan antara nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal di Gorontalo yang saling menopang dalam memperkuat benteng keimanan warga.
Pendekatan budaya yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah inilah yang dinilai berhasil menjaga kelestarian tradisi Islam di tanah Gorontalo hingga saat ini.
Penceramah juga memberikan analogi mengenai rukun Islam sebagai tiang penopang utama dalam kehidupan beragama.
Ibarat pondasi bangunan yang tertancap kuat, keberadaan rukun Islam menjadi batas utama agar keimanan dan struktur sosial masyarakat tidak runtuh di tengah gempuran perkembangan zaman.
Secara khusus, ceramah tersebut mengulas konsep tinelo bahasa daerah yang berarti cahaya yang selaras dengan petunjuk Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 35, yang mencakup cahaya iman, ilmu, dan akhlak.
Penceramah menutup pemaparannya dengan mengulas filosofi kesenian tradisi Dana-Dana sebagai cerminan nilai persaudaraan (ukhuwah) dan kebersamaan antarwarga, acara diakhiri dengan santap siang bersama.
sementara itu, Dalam penyampaiannya pada peringatan Maulid Nabi, Ketua Lamahu, Azhari Laisa, S.Sos., mengisahkan sebuah fenomena berkesan tentang sekelompok warga yang berkumpul dan sibuk mempersiapkan seluruh kebutuhan acara hingga rela tidak tidur semalaman.
Uniknya, meski menguras tenaga, tidak tampak sedikit pun raut letih di wajah mereka; saat ditanya, rupanya lelah itu sirna begitu saja lantaran teralihkan oleh besarnya rasa cinta dan kerinduan mereka kepada Rasulullah SAW.
Azhari juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh panitia serta pihak terkait lainnya dalam persiapan sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan sukses.
diakhir acara tersebut sambutan penutup di sampaikan oleh Lurah setempat dengan penyampaian program Pemerintah Kota serta menjaga lingkungan yang aman nyan dan bersih.(kiti)
















