Langowan | Tribuneindonesia.com – Keputusan dramatis mewarnai partai puncak turnamen sepak bola anak usia dini Langowan Junior Cup yang digelar di Lapangan Schwarz Langowan, Minggu (13/9/26) sore.
Tim Bintang Utara FC Manado memilih walk out (WO) saat bertanding menghadapi tim IMM di babak final kategori umur 12 tahun (U-12).
Aksi meninggalkan lapangan pertandingan ini dipicu oleh kekecewaan mendalam dari pihak pelatih dan ofisial Bintang Utara FC.
Mereka menilai wasit yang memimpin jalannya laga final tersebut bertindak tidak profesional dan berat sebelah.
Kepemimpinan wasit Denny D Antou dinilai banyak merugikan tim Bintang Utara FC sepanjang laga berlangsung. Sejumlah insiden pelanggaran keras di lapangan dibiarkan begitu saja tanpa adanya ketegasan berupa tiupan peluit atau hukuman dari sang pengadil lapangan.
Kondisi puncak terjadi ketika pemain IMM melakukan pelanggaran fatal di dalam area kotak penalti sendiri. Wasit Denny D Antou justru tidak memberikan hukuman penalti kepada tim IMM, yang memicu protes keras dari skuad Bintang Utara FC.
Pelatih Kepala Bintang Utara FC, Bung Amberkam, akhirnya mengambil langkah tegas untuk menghentikan pertandingan. Keputusan menarik diri diambil demi melindungi keselamatan para anak binaannya sekaligus menjaga marwah sportivitas serta prinsip fair play yang dinilai telah diabaikan dalam kepemimpinan wasit.
Bung Amberkam menyampaikan rasa kecewanya secara terbuka atas kepemimpinan pengadil lapangan pada partai final tersebut. Ia menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak didiknya akibat keputusan wasit yang dinilai destruktif.
“Saya sangat kecewa dengan kepemimpinan wasit hari ini, anak-anak sangat dirugikan sekali. Mental mereka yang harusnya lewat pertandingan ini diajarkan tentang karakter dan moralitas yang merupakan bagian dari nilai-nilai fair play sepak bola, sama sekali dirusak oleh wasit,”
tegas Bung Amberkam.
Selain masalah kepemimpinan wasit, turnamen ini juga diterpa isu tak sedap mengenai indikasi kecurangan regulasi umur. Sejumlah pihak mengindikasikan adanya beberapa pemain dari klub tertentu yang usianya telah melewati batas maksimal yang diperbolehkan panitia.
Ajang Langowan Junior Cup sendiri sejatinya menghadirkan beberapa kategori kelompok umur bagi Sekolah Sepak Bola (SSB). Turnamen ini mengompetisikan kategori binaan mulai dari usia 9 tahun, 10 tahun, 11 tahun, hingga kelas 12 tahun yang menjadi partai penutup.
Peristiwa ini turut memantik perhatian Korwil Sulut Tribuneindonesia.com, Ridwan Lahiya. Ia menegaskan perlunya perhatian dan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, hingga Pemerintah Kabupaten terhadap keberadaan SSB di seluruh Sulawesi Utara.
Dukungan pemerintah daerah dinilai sangat krusial untuk menyelaraskan semangat Presiden Prabowo dan Ketua Umum PSSI yang tengah gencar memajukan sepak bola nasional.
Kompetisi resmi yang digelar secara konsisten oleh Pemprov, Pemkab, dan Pemkot diyakini mampu menggairahkan pembinaan SSB di Sulut, sekaligus menjadi momentum bagi PSSI Sulut untuk segera mengambil langkah nyata demi kemajuan persepakbolaan daerah. (talia)




















