TribuneIndonesia.com–Deli Serdang-Data capaian Sensus Ekonomi 2026 terlihat cukup baik di atas kertas. namun di lapangan, sebagian aktivitas usaha masih luput dari pencatatan. Bangunan yang belum ditemukan, pelaku usaha yang menolak memberikan keterangan, serta kegiatan ekonomi yang berlangsung pada malam hari memperlihatkan bahwa pekerjaan BPS belum selesai.
temuan itu mengemuka dalam audiensi Bupati Asri Ludin Tambunan dengan Kepala Badan Pusat Statistik setempat, Elly Suharyadi, pada Jumat, 21 Agustus 2026. Pertemuan tersebut membedah persoalan yang dihadapi petugas ketika mengejar data ekonomi di lapangan.
Sektor rumah tangga relatif lebih lancar. Persoalan justru menumpuk pada sektor usaha. Capaian faktual pendataan sektor tersebut disebut masih berada di bawah 50 persen.
angka itu menyimpan persoalan yang lebih besar daripada soal administrasi sensus. Setiap usaha yang tidak tercatat berpotensi meninggalkan lubang pada gambaran ekonomi wilayah. Padahal hasil sensus akan digunakan untuk menyusun kebijakan dan membaca perubahan kegiatan ekonomi.
Petugas juga menghadapi wilayah yang tidak mudah di jangkau. Sejumlah bangunan belum berhasil ditemukan. Sebagian pelaku usaha dan warga belum bersedia memberikan data. Ada pula aktivitas perdagangan yang baru hidup ketika sebagian besar kota mulai sepi.
Pasar malam di kawasan MMTC menjadi salah satu contoh. Aktivitas ekonomi berlangsung sampai malam bahkan dini hari. Jam kerja petugas sensus tidak selalu beriringan dengan jam hidup para pedagang.seperti itu, pendataan membutuhkan pendekatan berbeda.
masalah tersebut membuat kebutuhan pendampingan kembali mencuat. Asri Ludin mengatakan pendampingan sudah diarahkan sejak awal. tetapi temuan di lapangan menunjukkan pola tersebut belum cukup untuk menutup seluruh celah pendataan.
dari awal sudah kita dorong dilakukan pendampingan. kalau masih ada yang belum terdata, berarti pendampingannya harus kita perkuat,” ujar Asri Ludin
arahan kemudian ditujukan kepada perangkat daerah, kecamatan, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan. Petugas BPS diminta dibantu menjangkau lokasi yang sulit ditemui, termasuk wilayah perbatasan, kawasan perkebunan, serta tempat usaha dengan karakter aktivitas yang tidak biasa.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Hendra Wijaya, menyatakan koordinasi dengan para camat segera dilakukan. Sasaran awalnya adalah bangunan yang belum ditemukan dan warga yang belum berhasil ditemui petugas.
Koordinasi lanjutan digelar secara virtual setelah audiensi. Fokusnya bukan pada seremoni, melainkan mengejar bagian data yang masih kosong.
di sinilah kualitas Sensus Ekonomi 2026 diuji. Sensus tidak berhenti pada jumlah formulir yang masuk atau persentase capaian administratif. yang lebih menentukan adalah seberapa jauh aktivitas ekonomi yang benar-benar berlangsung dapat ditangkap dalam data.
Data yang bolong dapat menghasilkan pembacaan ekonomi yang timpang. usaha kecil yang luput, pedagang malam yang tak terjangkau, atau bangunan usaha yang tidak ditemukan dapat membuat sebagian kegiatan ekonomi seolah tidak pernah ada.
BPS masih memiliki pekerjaan untuk menutup celah tersebut. dukungan aparatur wilayah menjadi penting, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kemampuan petugas menemukan, mendatangi, dan mencatat setiap aktivitas usaha yang menjadi sasaran sensus.(Ilham Gondrong)

























