TribuneIndonesia.com I Deli Serdang-Di atas kolam SMPN 2 Lubuk Pakam, sebuah gazebo kecil menjadi ruang yang tak lazim bagi siswa untuk menuangkan gambar dan gagasan. Tempat itu kini ikut membuka pembicaraan soal seberapa jauh fasilitas sekolah mampu mengikuti kebutuhan anak-anak yang memilih berkarya lewat seni, musik, olahraga, hingga matematika.
Pada Jumat, 21 Agustus 2026, Asri Ludin meninjau sejumlah kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut. Ia melihat siswa menyanyi, bermain musik, berlatih basket dan futsal, menari, menggambar, bermain tenis meja, serta mengikuti kegiatan matematika.
kunjungan itu memperlihatkan satu persoalan yang kerap luput dari ukuran keberhasilan sekolah.ruang bagi bakat anak.
nilai akademik mudah dicatat. Prestasi olahraga dapat dihitung. Piala seni bisa dipajang. namun, proses menemukan kemampuan seorang siswa membutuhkan ruang, alat, waktu, serta kesempatan untuk mencoba.
Asri Ludin Tambunan mengatakan peninjauan dilakukan untuk mengetahui kebutuhan siswa secara langsung. Ia ingin mendengar apa yang diperlukan anak-anak agar kegiatan ekstrakurikuler dapat berkembang.
Salah satu perhatian tertuju pada gazebo yang berdiri di atas kolam. Ruang tersebut dipakai siswa untuk berkreasi, terutama menggambar. Fasilitas yang awalnya tampak sederhana justru menjadi ruang alternatif bagi aktivitas siswa.
Rencana tersebut masih membutuhkan kajian. Asri Ludin menyebut kemungkinan memperlebar area di atas air agar dapat dipakai bersama untuk sejumlah kegiatan siswa.
Gagasan itu terdengar menarik, tetapi fasilitas baru selalu membawa pertanyaan teknis. seberapa aman konstruksinya, berapa biaya yang dibutuhkan, bagaimana pemeliharaannya, serta sejauh mana penggunaannya benar-benar menjawab kebutuhan siswa.
Sejumlah siswa menyampaikan aspirasi terkait perlengkapan ekstrakurikuler. Alat musik dan kondensor menjadi bagian dari kebutuhan yang mendapat perhatian. Peralatan semacam itu mungkin terlihat kecil bila dibandingkan pembangunan aula, tetapi bagi siswa yang berlatih seni dan musik, keberadaannya menentukan kualitas proses belajar.
Sekolah pada akhirnya tidak hanya berbicara soal gedung dan ruang kelas. Ia juga menjadi tempat anak menemukan kemampuan yang tidak selalu muncul melalui ujian tertulis.
Asri Ludin menyatakan sejumlah kebutuhan tersebut akan diupayakan secara bertahap. Fasilitas yang memadai di harapkan membantu siswa berlatih dan mengembangkan kemampuan masing-masing.
Aula terapung, alat musik, kondensor, lapangan olahraga, serta ruang kreativitas akan memiliki arti bila benar-benar dipakai dan dirawat. Sebaliknya, fasilitas yang berhenti pada pembangunan fisik hanya akan menambah daftar aset tanpa banyak mengubah pengalaman belajar siswa.
SMPN 2 Lubuk Pakam kini memiliki sebuah laboratorium sosial kecil.kolam, gazebo, kegiatan seni, olahraga, musik, dan aspirasi anak-anak bertemu di satu tempat.
dari sana terlihat bahwa persoalan pendidikan tidak selalu bermula dari ruang kelas. Kadang ia muncul dari selembar kertas yang digambar seorang anak, suara musik yang belum sempurna, atau keinginan sederhana untuk memiliki tempat berlatih.(Ilham Gondrong)























